• Minggu, 2 Oktober 2022

Peradaban Tanpa Etika Melahirkan Bangsa Preman!

- Sabtu, 19 Agustus 2017 | 05:11 WIB
Ilustasi: Muid/ Watyutink.com
Ilustasi: Muid/ Watyutink.com

Oleh: Erros Djarot
Budayawan

Watyutink.com - Bahasa dan penggunaannya sering dijadikan patokan untuk mengukur tinggi rendahnya kualitas kebudayaan suatu masyarakat-bangsa. Tata bahasa dan cara berbahasa yang primitif, mencerminkan juga masih primitifnya budaya masyarakat pengguna bahasa tersebut.

Dalam berkomunikasi, pemilihan, penempatan, dan penggunaan kata saat  bertutur sapa mencerminkan  kadar tinggi dan rendahnya kualitas seseorang sebagai mahluk sosial budaya. Bisa juga dijadikan bahan, walau tidak mutlak, untuk menilai tinggi rendahnya kadar pendidikan si pelaku. Kadang terjadi, saat terbawa emosi atau  sikap ignoran, seorang berpendidikan tinggi sekalipin, ucapannya sangat  tidak mencerminkan kualitas pendidikan maupun status sosialnya.

Contoh paling gres adalah peristiwa yang baru-baru ini terjadi dalam acara kenegaraan di gedung DPR, 16 Agustus 2017. Seorang mantan ketua umum partai yang juga mantan menteri dan sekarang berkedudukan sebagai Yang Mulia anggota DPR, tampil untuk memimpin doa. Saat melafalkan doa, Beliau sempat ‘berseloroh’ mendoakan Presiden Jokowi agar tidak kurus lagi dan bertambah gemuk.

‘Seloroh’ yang mungkin saja digelontorkan dengan tidak bermaksud melontarkan guyonan politik ini telah mengais sejumlah kecaman publik. Ia dianggap melampaui batas asas kepatutan. Pasalnya, ia lakukan ucapan nyeleneh ini saat memimpin doa dalam forum acara kenegaraan super formil, Sidang Tahunan MPR.

Celakanya lagi, ‘guyonan’ yang kurang pantas ini ditanggapi seorang presenter teve swasta dengan komentar yang lebih tak patut lagi. Cenderung tendensius, sinis, provokatif...setuju mendoakan pak Jokowi agar bertambah gemuk..asal jangan kantongnya yang bertambah gemuk! Kecaman sengit para nitizen pun bermunculan di dunia maya. Yang emosi tinggi, memaki menggunakant bahasa yang kurang patut beredar dalam pergaulan masyarakat yang beradab.

Sudah begitu jauhkah kita telah kehilangan etika dalam berkomunikasi dan berinteraksi? Ditambah lagi terbayang sejumlah adegan berbagai acara debat publik yang sering tampil di berbagai stasiun televise. Gaya bicara dan berbahasa para tokoh yang tampil berdebat, sering membuat kuping nyeri dan hati miris. Jangankan etika, sadar dimana dan sedang apa ia bicara pun sepertinya lupa. Lupa dirinya tengah ditonton jutaan pasang mata anak-anak maupun orang tua. Begitu seterusnya dan berlanjut secara sistemik.

Celakanya, sekian kali menteri pendidikan & kebudayaan datang dan pergi di setiap pergantian pemerintahan, reaksinya sama saja...diam! Secara berjamaah, bergantian melakukan pembiaran. Peradaban liar minim etika pun perlahan tapi pasti jadi melembaga tumbuh berkarat dalam diri bangsa ini.

Sehingga tak sedikit para veteran pejuang kemerdekaan yang masih hidup saling bertanya; ini kah Indonesia yang dulu kita perjuangkan untuk merdeka dengan mempertaruhkan nyawa sepenuh jiwa raga?

Halaman:

Editor: Erros Djarot

Tags

Terkini

Menjunjung Kebinekaan Kuliner Nusantara

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Prof AA , Beristirahatlah dalam Damai ...

Senin, 19 September 2022 | 09:00 WIB

Surat Terbuka Kepada Menteri Keuangan RI

Sabtu, 3 September 2022 | 08:00 WIB

Neraca Keuangan Minyak Bumi, dan Subsidi Listrik

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 10:30 WIB

Anomali dan Pembodohan Istilah Subsidi BBM

Jumat, 26 Agustus 2022 | 10:00 WIB

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB
X