• Minggu, 29 Januari 2023

Bio-Security, Kesadaran yang Harus Dibangunkan

- Minggu, 10 September 2017 | 13:18 WIB
Ilustasi: Muid/ Watyutink.com
Ilustasi: Muid/ Watyutink.com

Oleh: Farid Gaban
Jurnalis Senior, Praktisi Pertanian

Watyutink.com - Bulan lalu sejumlah media heboh memberitakan ada tanaman wortel di Pegunungan Dieng, Jawa Tengah, yang bila dikonsumsi anak berpengaruh buruk bagi perkembangan mentalnya. Bibit wortel itu dikabarkan ilegal impor dari Tiongkok. Pelakunya telah ditangkap, namun laboratorium pertanian-pangan belum bisa memastikan efek negatif kandungan gizi wortel tersebut.

Walau demikian peristiwa ini membuka mata kita tentang pentingnya “bio-security” atau pertahanan dalam bidang hayati dan pangan. Benih tanaman asing berpotensi membawa kandungan pangan berbahaya. Juga potensial membawa hama bakteri dan virus penyakit bagi manusia, juga pertanian pangan kita.

Sejumlah pengamat memprediksi perang dan teror di masa depan adalah “perang hayati”. Kelompok teroris menyerang sebuah negara tidak lagi menggunakan senjata dan bom, tapi virus dan tanaman. Sayangnya, kesadaran kita tentang ancaman “bio-security” ini masih terlalu rendah. Pemerintahan Jokowi juga belum sepenuhnya menyadari. Ancaman seperti ini tidak bisa dilawan dengan kapal selam, tank, maupun pesawat tempur!

Dalam Rancangan Anggaran 2018, pemerintah masih terlalu menekankan pertahanan negara yang sifatnya fisik dan militeristik. Anggaran militer dan kepolisian mengambil porsi paling besar, sekitar Rp183 triliun atau lebih dari 30 persen. Sementara pertanian hanya Rp22 triliun.

Di hadapan ancaman “bio-terrorism”, Indonesia hampir-hampir telanjang. Negeri kita sangat luas dan tidak setiap bandara atau pelabuhan memiliki sistem karantina yang tangguh. Juga terbatasnya sumberdaya manusia dan laboratorium yang memadai.

Ancaman “bio-security” terbesar sebenarnya datang dari kebijakan pemerintah sendiri. Lemah dan merosotnya pertanian, membuat negeri kita makin tergantung pada benih-benih impor.

Saat ini, sekitar 90 persen pasar benih hortikultura Indonesia dikuasai oleh beberapa raksasa multinasional seperti Monsanto, Cargill, Dupont, Bayer, dan Syngenta. Mereka memproduksi benih-benih pabrikan lewat rekayasa genetika.
Sementara kita terlalu telanjang dan gampang tunduk pada pakta-pakta perdagangan internasional yang sering merugikan kepentingan nasional.

Lewat pakta perdagangan bebas, misalnya, pemerintah dituntut melonggarkan aturan investasi asing dalam bidang pertanian. Petani kita hanya diperbolehkan menanam benih bermerek (perusahaan). Tidak boleh menyimpan atau menyilangkan benih itu. Enam tahun silam, tiga petani Kediri, Jawa Timur, ditahan karena melanggar aturan itu.

Halaman:

Editor: Jimmy Radjah

Tags

Terkini

Cak Markenun dan Firaun

Rabu, 18 Januari 2023 | 13:00 WIB

PR Besar Jokowi di Tahun 2023

Selasa, 3 Januari 2023 | 22:01 WIB

Terra Madre Day

Sabtu, 10 Desember 2022 | 10:00 WIB

COP27 dalam Pusaran Polikrisis

Sabtu, 19 November 2022 | 16:30 WIB

Debat di Konferensi Iklim Mesir

Sabtu, 12 November 2022 | 18:00 WIB

Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi

Sabtu, 5 November 2022 | 09:00 WIB

Jelang COP27 – KTT Iklim Mesir

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Climate TRACE

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Menyongsong 2030, Indonesia Perlu Pemimpin Ekonom

Rabu, 19 Oktober 2022 | 12:30 WIB
X