• Rabu, 30 November 2022

Densus Tipikor Versus Rekening Gendut

- Sabtu, 14 Oktober 2017 | 17:27 WIB
Ilustasi: Muid/ Watyutink.com
Ilustasi: Muid/ Watyutink.com

Oleh: Erros Djarot
Budayawan

Watyutink.com - Sejak Tito Karnavian menjabat sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia, citra polisi berangsur membaik. Tingkat pendidikan dan intelektualitas seorang Tito setidaknya memberi pengaruh positif bagi peningkatan citra Polisi sebagai pengaman dan pelindung rakyat.

Itulah sebabnya, ketika di tengah siang bolong Tito menggelontorkan rencana pembentukan Detasemen Khusus Tindak Pidana Korupsi (Densus Tipikor) Polri, kalangan masyarakat bertanya-tanya; ada apa lagi ini?

Bila alasan yang diberikan agar Polri bisa lebih fokus menangani berbagai kasus tindak pidana korupsi, pertanyaannya; apa nggak puas atau tidak percaya dengan kinerja KPK. Atau, ini Novel Baswedan efek, sang batu kerikil bagi kesatuan induknya dimana ia dibesarkan (baca: Polisi)?

Menurut seorang komisioner KPK, Laode Syarif, seusai berdialog dengan pihak Polri, kehadiran detasemen ini justru untuk memperingan tugas KPK. Diharapkan KPK tidak lagi direpotkan oleh kasus-kasus korupsi kecil (di bawah Rp1 miliar) yang bertebaran di seluruh pelosok tanah air.

Namun, bagaimana Densus Tipikor bisa dapatkan kepercayaan masyarakat? Apalagi Detasemen Tipikor hanya bertanggungjawab kepada bosnya yang menunjuk dan melantik, Kapolri! Sehingga citra Polri dalam benak masyarakat secara luas akan sangat menentukan kadar dukungan dan pengakuan terhadap lembaga baru ini.

Contoh sederhana saja, mengambil kelakar masyarakat di lapisan bawah yang secara sinis bercanda; "Wah kalo ente ilang ayam lapor polisi, bisa-bisa malah kambing ente yang ilang..! lapor ilang sepeda malah motor yang amblas".., dan seterusnya. Canda sarkastik ini menggambarkan betapa rakyat kebanyakan masih tidak percaya pada institusi Polri sebagai institusi penegak hukum, pengaman dan pelindung rakyat.

Lain lagi gunjingan di kalangan kaum terdidik. Celoteh yang sarkastik juga tidak sedikit. Seperti komentar bernuansa menantang Kapolri; Pak Tito, bersih-bersih dulu di tubuh Polri sendiri mampu nggak? Nah, sebagai ujian awal, dalam waktu 3 bulan pertama, kasus "rekening gendut" yang sempat diangkat ke permukaan dan diduga keras dimiliki para jenderal polisi, mampu tidak dituntaskan Densus Tipikor, tanpa pandang bulu! 

Bila menghindar dengan alasan hanya menangani kasus di bawah Rp1 miliar, ya kualitas kerjasamanya dengan KPK bisa menjadi pembuktian. Setidaknya berperan sebagai mitra strategis untuk melakukan pembongkaran kasus "rekening gendut" secara tuntas tanpa pandang bulu. Jangan sampai ada lagi kalimat sinis ‘tebang pilih’, ‘tumpul ke atas tajam ke bawah’, dan sebagainya, seperti yang seringkali dilontarkan ke KPK. Untuk Densus Tipikor Polri, jangan sampai lahir kalimat sinis baru...’Ini sih tajam ke luar, tumpul ke dalam!' Artinya, jangan sampai bila korupsi dipraktikan para petinggi Polri (contoh: rekening gendut), Densus Tipikor Polri hanya bisa menutup mata atas nama rasa hormat dan tugas melindungi nama baik senior dan atasan.

Halaman:

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

COP27 dalam Pusaran Polikrisis

Sabtu, 19 November 2022 | 16:30 WIB

Debat di Konferensi Iklim Mesir

Sabtu, 12 November 2022 | 18:00 WIB

Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi

Sabtu, 5 November 2022 | 09:00 WIB

Jelang COP27 – KTT Iklim Mesir

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Climate TRACE

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Menyongsong 2030, Indonesia Perlu Pemimpin Ekonom

Rabu, 19 Oktober 2022 | 12:30 WIB

Strategi Antitesis Versus Membebek, Sah dan Bagus

Sabtu, 15 Oktober 2022 | 19:15 WIB

24 Hours of Reality

Sabtu, 8 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Teori Permainan dan Politik Copras-Capres

Jumat, 7 Oktober 2022 | 15:05 WIB

Menjunjung Kebinekaan Kuliner Nusantara

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Prof AA , Beristirahatlah dalam Damai ...

Senin, 19 September 2022 | 09:00 WIB

Surat Terbuka Kepada Menteri Keuangan RI

Sabtu, 3 September 2022 | 08:00 WIB
X