• Rabu, 30 November 2022

Kepekaan Beragama, Kebuntuan Berlogika

- Minggu, 29 April 2018 | 10:00 WIB

Oleh:Erros Djarot
Budayawan

Watyutink.com - Apa kesamaan Amien Rais, Ahok, Megawati, Rocky Gerung, dan Sukmawati? Mereka sama-sama anggota klub "dilaporkan ke polisi karena menista agama.” 

Megawati saat HUT PDIP, Januari 2017, menyinggung ada kelompok penganut ideologi tertutup, “pembawa self-fulfilling prophecy, fasih meramalkan masa depan, kehidupan dunia fana, yang mereka belum lihat.” Megawati dilaporkan telah menista agama karena pidato ini.

Ahok dilaporkan ke polisi dan divonis dua tahun penjara karena menista agama atas kalimat “dibohongin pakai surat Al Maidah 51”. Pernyataan Rocky Gerung “kitab suci fiksi-tapi bukan fiktif” dan khotbah Amien Rais “Partai Allah vs Partai Setan” dilaporkan polisi karena menista agama. Sukmawati membacakan puisi “Ibu Indonesia”, di dalamnya terdapat kalimat “konde lebih cantik dari cadar, kidung lebih merdu dari azan”. Puisi ini juga dilaporkan karena dianggap menista agama. 

Sejak cerpen ‘Langit Makin Mendung” (dimuat dalam Majalah Sastra No. 1 Th.VI Agustus 1968), angket pembaca Monitor ala Arswendo 1990, hingga puisi “Ibu Indonesia” Sukmawati 2018, berpuluh-puluh kasus “penistaan agama” dilaporkan ke polisi. Ketersinggungan spiritual dengan lapor ke polisi telah menjadi ritual. Kepekaan beragama menjadi dalih atas kebuntuan logika. Agama menjadi “baper” akibat segelintir penganutnya yang reaksioner.

Pangkal soal adalah rumusan delik hukum penyalahgunaan/penodaan agama yang diatur dalam UU Nomor 1/PNPS/ 1965  (genus Pasal 156a KUHP), tertulis: "Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum .... melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran dari agama itu". 

Menurut catatan Human Right Watch, sejak disahkan, UU Penodaan Agama cuma digunakan delapan kali selama 40 tahun (1965-2004). Namun dalam 10 tahun periode Presiden SBY, 89 kasus dibawa ke pengadilan dan 89 orang dipenjara. Di era Presiden Jokowi, 17 orang diadili karena penodaan agama. 

Delik hukum ini sesungguhnya ditujukan untuk kesengajaan menyalahgunakan  atau menodai agama. Penekanan pada “melakukan penafsiran”, dan “kegiatan menyimpang”, cukup jelas untuk memilah antara “sengaja ingin menodai” dengan sekadar pernyataan kasual dalam pidato, diskusi sosial-politik, atau baca puisi.

Pernyataan yang dianggap menyinggung agama tidak serta merta layak dipidana, hanya karena ada orang tersinggung dan melaporkan (karena ingin populer dengan mendompleng isu kontroversial). Pidato Megawati, puisi Sukmawati, pernyataan Ahok, opini Rocky, juga kotbah Amien Rais adalah ekspresi demokrasi; bukan kegiatan menafsirkan ayat suci atau menyimpangkan agama untuk, misalnya, mendirikan aliran (sekte) baru.

Halaman:

Editor: Kanedi

Tags

Terkini

COP27 dalam Pusaran Polikrisis

Sabtu, 19 November 2022 | 16:30 WIB

Debat di Konferensi Iklim Mesir

Sabtu, 12 November 2022 | 18:00 WIB

Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi

Sabtu, 5 November 2022 | 09:00 WIB

Jelang COP27 – KTT Iklim Mesir

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Climate TRACE

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Menyongsong 2030, Indonesia Perlu Pemimpin Ekonom

Rabu, 19 Oktober 2022 | 12:30 WIB

Strategi Antitesis Versus Membebek, Sah dan Bagus

Sabtu, 15 Oktober 2022 | 19:15 WIB

24 Hours of Reality

Sabtu, 8 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Teori Permainan dan Politik Copras-Capres

Jumat, 7 Oktober 2022 | 15:05 WIB

Menjunjung Kebinekaan Kuliner Nusantara

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Prof AA , Beristirahatlah dalam Damai ...

Senin, 19 September 2022 | 09:00 WIB

Surat Terbuka Kepada Menteri Keuangan RI

Sabtu, 3 September 2022 | 08:00 WIB
X