• Minggu, 29 Januari 2023

Mereka Tak Menyembah Tuhan

- Minggu, 5 Agustus 2018 | 09:00 WIB

Oleh: Gigin Praginanto
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Watyutink.com - Anak yang baru lahir boleh dikorbankan demi keyakinan orang tuanya. Inilah latar belakang pemikiran para penolak vaksin tak bersertifikat halal dari MUI. Tak perduli anak-anak tak bervaksin tersebut lahir dan tumbuh dengan cacat fisik atau membawa penyakit yang akan menyiksanya seumur hidup. Pokoknya tak boleh ada unsur babi masuk ke tubuhnya.

Runyamnya, Pemda pun ikut campur. Hanya karena menghindari polemik berkepanjangan,  Pemprov Bangka Belitung memutuskan menghentikan sementara pemberian vaksin campak MR. Sayang Pemda tak menjelaskan kira-kira berapa yang bayi yang akan lahir cacat atau mengidap kerusakan jantung ketika penghentian sementara itu usai.

Kekolotan semacam ini,  yang sampai tak perduli pada keselamatan anak-anaknya sendiri,  belakangan berkembang pesat di Indonesia. Bila terus berkembang, Indonesia bakal tak berdaya menghadapi persaingan global yang kian sengit.  Indonesia akan menjadi bulan-bulanan mereka yang suka berpikir logis dan realistis, serta gandrung pada pembaruan di segala bidang. 

Mereka adalah antitesa kaum kolot yang lebih melihat pembaruan sebagai ancaman, bukan peluang. Kaum ini juga cenderung memuliakan kehidupan masa lalu. Mereka bahkan menganggapnya sebagai masa yang ideal. Masa kini di mata mereka bergelimang dosa yang menggiring manusia menuju neraka. 

Kekolotan ini mengingatkan pada orang Arab yang suka membanggakan diri sebagai bangsa berperadaban tinggi,  dan menjadi pelopor kemajuan ilmu dan teknologi. Mereka suka berceloteh tentang para ilmuwan Arab di masa lalu yang sukses melakukan berbagai terobosan di bidang ilmu dan teknologi. Mirip orang Indonesia yang suka membanggakan kejayaan Majapahit, Sriwijaya dan sebagainya. 

Kenyataannya,  bangsa Arab tak hanya mengalami kemunduran peradaban sehingga pernah dijajah sampai ratusan tahun oleh orang Eropa. Kini mereka juga dilanda konflik berdarah berkepanjangan. Mereka saling bantai tanpa ampun menggunakan senjata impor dari berbagai negara. Sungguh sulit dimengerti karena mereka memiliki kitab suci dan menyembah Tuhan yang sama. 

Sumber dari semua malapetaka itu adalah kekolotan, yang membuat orang mau menang dan benar sendiri. Yang lain harus disingkirkan karena sesat pikir dan membahayakan umat manusia. Maka jangan heran bila kekolotan, ratusan tahun lalu, juga menyebabkan jutaan orang Eropa tewas akibat perang Katolik lawan Protestan. 

Kekolotan memang bisa mengerikan. Adalah kekolotan juga yang membuat orang tega  mengorbankan anak-anak di bawah umur untuk tewas mengenaskan. Mereka dikirim untuk mati di medan perang bahkan sebagai pengantin bom bunuh diri!

Halaman:

Editor: Kanedi

Tags

Terkini

Cak Markenun dan Firaun

Rabu, 18 Januari 2023 | 13:00 WIB

PR Besar Jokowi di Tahun 2023

Selasa, 3 Januari 2023 | 22:01 WIB

Terra Madre Day

Sabtu, 10 Desember 2022 | 10:00 WIB

COP27 dalam Pusaran Polikrisis

Sabtu, 19 November 2022 | 16:30 WIB

Debat di Konferensi Iklim Mesir

Sabtu, 12 November 2022 | 18:00 WIB

Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi

Sabtu, 5 November 2022 | 09:00 WIB

Jelang COP27 – KTT Iklim Mesir

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Climate TRACE

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Menyongsong 2030, Indonesia Perlu Pemimpin Ekonom

Rabu, 19 Oktober 2022 | 12:30 WIB
X