• Minggu, 29 Januari 2023

Segitiga Tak Serupa Saudi-Malaysia-Indonesia

- Jumat, 15 Maret 2019 | 14:40 WIB

Oleh: Gigin Praginanto
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Watyutink.com - Arab Saudi tampaknya merasa tak perlu basa-basi lagi terhadap dua negara Islam di Asia Tenggara, yaitu Indonesia dan Malaysia. Tata-krama diplomatik pun diabaikan. Lihat saja, sampai sekarang tak ada pernyataan resmi atau permintaan maaf atas pembatalan kunjungan Putra Mahkota Mohamad bin Salman ke kedua negara itu. 

Kejengkelan putra mahkota pada Malaysia tampak tak lepas dari sikap keras Perdana Menteri Mahathir Mohamad terhadap pendahulunya Najib Razak. Mahathir tampaknya tak puas dengan hanya menumbangkan Najib Razak lewat Pemilu,  dia juga tak menutupi napsunya untuk mengirim Najib Razak ke penjara dengan tuduhan korupsi. 

Mahathir tak perduli bahwa Najib Razak adalah sekutu Arab Saudi. Miliaran dolar AS telah digelontorkan oleh Saudi ke kas pemerintah Malaysia dan kocek pribadi Najib Razak. Di antaranya adalah sumbangan politik sebesar semiliar dolar AS yang disimpan di rekening pribadi Najib Razak. Dana ini, menurut Menkeu Arab Saudi, adalah murni sumbangan murni dari negaranya. Sedangkan menurut Mahathir, uang itu adalah hasil korupsi.

Kini proses peradilan kasus korupsi Najib Razak telah digelar. Sementara itu Najib Razak sendiri tengah menuntut balik tiga petinggi hukum Malaysia karena dituduh telah memfitnah dirinya sebagai koruptor. 

Bila akirnya Najib Razak diputus bersalah dan harus mendekam di penjara, Arab Saudi tentu sangat kecewa. Maklumlah, selama di bawah kepemimpinan Najib Razak (2009-2018), hubungan Malaysia dengan Arab Saudi sangat dekat. Pada 2015, Malaysia bahkan mengirim pasukan ke Arab Saudi. Alasannya untuk membantu evakuasi warga Malaysia dari Yaman yang sedang dibombardir oleh Arab Saudi.

Di bawah Mahathir,  pemerintah Malaysia memutuskan menarik pasukan tersebut karena bisa membuat negaranya terseret lebih jauh dalam konflik Timur Tengah. Ini terkait dengan kenyataan bahwa Arab Saudi sangat bernapsu meghabisi kekuasaan suku Houthi  di Yaman, yang didukung Iran. 

Pada 2015, Najib Razak juga menjadikan Putrajaya sebagai markas King Salman Center for International Peace (KSCIP) yang didanai Arab Saudi. Di tahun yang sama, Malaysia juga menjadi anggota koalisi Islam anti terorime yang beranggotakan 41 negara yaitu Islamic Military Counter Terrorism Coalition (IMCTC). Brunei juga menjadi anggota penuh koalisi ini, sedangkan Indonesia menolak. 

Kedekatan tersebut ditorpedo oleh kebijakan Mahathir untuk bersikap netral dalam konflik Timur Tengah yang berpusat pada persaingan Arab Saudi-Iran. Untuk itu menteri pertahanan menutup KSCIP dan menarik pasukan Malaysia dari Arab Saudi

Halaman:

Editor: Kanedi

Tags

Terkini

Cak Markenun dan Firaun

Rabu, 18 Januari 2023 | 13:00 WIB

PR Besar Jokowi di Tahun 2023

Selasa, 3 Januari 2023 | 22:01 WIB

Terra Madre Day

Sabtu, 10 Desember 2022 | 10:00 WIB

COP27 dalam Pusaran Polikrisis

Sabtu, 19 November 2022 | 16:30 WIB

Debat di Konferensi Iklim Mesir

Sabtu, 12 November 2022 | 18:00 WIB

Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi

Sabtu, 5 November 2022 | 09:00 WIB

Jelang COP27 – KTT Iklim Mesir

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Climate TRACE

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Menyongsong 2030, Indonesia Perlu Pemimpin Ekonom

Rabu, 19 Oktober 2022 | 12:30 WIB
X