• Minggu, 29 Januari 2023

Inkonsistensi Pernyataan MUI dalam Kasus Teroris

- Senin, 18 November 2019 | 10:00 WIB

Oleh: Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta

Watyutink.com - Pernyataan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahwa teroris tidak beragama menunjukkan sikap dan nalar yang inkonsisten. Pertama, inkonsistensi ini terletak pada perlakuan terhadap jenazah para pelaku teror bom bunuh diri

Semua jenazah pelaku bom bunuh diri dimakamkan secara Islam. Bahkan di beberapa tempat dilakukan seperti layaknya pahlawan dan syuhada sehingga didatangi ribuan massa. Pemakaman para teroris di Indonesia seolah menjadi momentum membangkitkan semangat jihad Islam.

Kalau memang MUI konsisten bahwa teoris itu tidak beragama, mengapa MUI membiarkan mayatnya dikubur dengan ritual dan tata-cara Islam. Apakah MUI tidak mengetahui hukum dan tata cara ritual dan pemulasaraan jenazah seorang Muslim dan perbedaannya dengan yang non-Muslim? Ataukah MUI menganggap orang yang tidak beragama jenazahnya bisa dikubur dengan ritual dan tata cara Islam

Kalau konsisten dengan pernyataannya, mestinya MUI membuat fatwa atau rumusan hukum fiqh yang menyatakan status jenazah orang yang tidak beragama itu seperti orang Islam. Sehingga harus diperlakukan dan diupacarakan sesuai dengan ritual pemakaman pemeluk Islam. Atau sebaliknya, jika jenazah orang yang tidak beragama statusnya  berbeda dengan orang Islam, maka MUI harus mengeluarkan fatwa melarang menyolati dan menguburkan pelaku bom bunuh diri secara Islam. Jika tidak demikian maka pernyataan MUI tersebut merupakan sikap inkonsistensi yang cenderung mempermainkan hukum Islam dan membohongi publik.

Kedua, soal pemahaman keagamaan para teroris dan pelaku bom bunuh diri. Rata-rata para teroris memiliki paham keislaman yang kaku, puritan tekstual skriptural sehingga menimbulkan sikap intoleran, keras dan kasar. Jika pelaku teror yang memiliki paham keagamaan seperti ini dianggap tidak  beragama maka paham seperti ini adalah pahamnya orang yang tidak beragama. Dan ini artinya MUI harus menyatakan bahwa itu paham yang sesat karena dianut oleh orang yang tidak beragama. Paham ini tidak saja mendistorsi ajaran Islam tetapi juga membulkan kemadlaratan (kekacauan) dan mafsadah (kerusakan) sehingga menciptakakan kesan dan persepsi Islam sebagai agama yang merusak kehidupan.

Pernyataan MUI itu mungkin ingin cuci tangan dan membersihkan Islam dari tindakan kotor para teroris, dengan cara mengeluarkan (mengeksklusi) pelaku teror dari Islam melalui klaim teroris sebagai orang yang tidak beragama. Melalui pernyataan ini diharapkan akan timbul asumsi Isam sudah dibajak oleh oleh orang yang tidak beragama. Alih-alih membersihkan Islam, yang terjadi justru menjadi bahan ejekan dan tertawaan.

Pernyataan MUI itu tidak hanya menunjukkan sikap inkonsisten tetapi juga mencerminkan perilaku kekanak-kanakan. Seperti anak kecil yang ketangkap mencuri permen dengan barang bukti yang ada di tangan dan mulut. Untuk menjaga dan melindungi diri dia ngotot tidak mencuri sambil menyatakan barang bukti yang ada di tangan adalah bukan permen. Dengan argumen naif, dangkal dan inkonsisten yang khas anak-anak dia meyakinkan semua orang bahwa dia bukan pencuri.

Jika kita percaya dengan argumen anak kecil yang inkonsisten ini maka dia akan terus mengulang melakukan pencurian dengan berlindung di balik argumen-argumen tersebut. Artinya pernyataan MUI yang inkonsisten tersebut justru bisa menjadi tempat berlindung para teroris dalam melakukan aksinya. Meski mereka dinyatakan bukan orang beragama, toh mayat mereka tetap diperlakukan secara Islam, bahkan ada yang menganggapnya syahid, sebagai martir yang menggugurkan kewajiban umat Islam lainnya dalam berjihad.

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Cak Markenun dan Firaun

Rabu, 18 Januari 2023 | 13:00 WIB

PR Besar Jokowi di Tahun 2023

Selasa, 3 Januari 2023 | 22:01 WIB

Terra Madre Day

Sabtu, 10 Desember 2022 | 10:00 WIB

COP27 dalam Pusaran Polikrisis

Sabtu, 19 November 2022 | 16:30 WIB

Debat di Konferensi Iklim Mesir

Sabtu, 12 November 2022 | 18:00 WIB

Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi

Sabtu, 5 November 2022 | 09:00 WIB

Jelang COP27 – KTT Iklim Mesir

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Climate TRACE

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Menyongsong 2030, Indonesia Perlu Pemimpin Ekonom

Rabu, 19 Oktober 2022 | 12:30 WIB
X