• Minggu, 2 Oktober 2022

Mengembalikan Khittoh Seni Musik

- Rabu, 22 Januari 2020 | 13:30 WIB
Ilustrasi muid/watyutink.com
Ilustrasi muid/watyutink.com

Oleh: Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta

Watyutink.com - Suatu hari saya dapat WA dari musisi dan budayawan kondang Erros Djarot (Mas Eros) yang berisi undangan menyaksikan pagelaran “Live Streaming Concert; Tribute to Erros Djarot tanggal 12 Januari 2020. Undangan terbatas, artinya hanya untuk orang tertentu saja, sebagaimana catatan yang tertulis dalam WA “Tidak untuk disebarluaskankarena bersifat undangan terbatas”. Bahkan dalam WA tersebut ada catatan tambahan “dress code: yang penting keren”. Untunglah untuk catatan yang terakhir ini saya berhasil sehingga diizinkan untuk tetap memakai blangkon dan baju tradisi hitam.

Saya merasa tersanjung mendapat undangan itu. Bukan saja karena dianggap Mas Eros sebagai orang “khusus” yang berhak mendapat undangan, tetapi juga diberi kesempatan menyaksikan suatu event musik yang sarat makna. Saya menduga, malam itu tidak hanya akan mendapat suguhan karya musik yang mintilihir (adiluhung). Dan dugaan saya ternyata benar, malam itu saya menyaksikan dan menikmati karya-karya Mas Eros yang belum dirilis ke publik, meski beberapa di antaranya sudah direkam di studio beberapa tahun lalu, sebagaimana yang disampaikan oleh Dira Sugandi. Dari sebelas lagu yang ditampilkan, hanya beberapa lagu yang sudah dirilis, di antaranya “Rindu” yang pernah dibawakan Fryda Lucyana pada awal dekade 90-an.

Menyaksikan event konser pada malam itu saya seperti sedang diajak mengembara Mas Eros dalam lautan nada dengan gelombang irama yang menggetarkan jiwa. Saya seperti sedang menikmati sama’, yaitu alunan musik dan nyanyian dalam zikir kaum sufi. Di sini Mas Eros mencoba mengembalikan khittoh music sebagai ekspresi jiwa dan spirit religiusitas. Persis seperti yang pernyataan Imam Dzun Nuun al-Mishri: “Mendengarkan (musik) adalah sentuhan (warid) Allah yang membangkitkan hati untuk menuju Allah. Barang siapa yang mendengarkannya dengan Allah (al-Haqq) akan sampai pada-Nya, sedangkan orang-orang yang mendengarkannya dengan hawa nafsu (nafs) akan jatuh ke dalam kesesatan (tazandaqa)”.

Ini dibuktikan dengan komposisi nada, lirik dan syair serta irama lagu ciptaan Mas Eros yang rata-rata bernuansa konteplatif, dan menyentuh batin. Pendeknya lagu-lagu karya Mas Eros malam itu tidak sekedar menyentuh aspek nafsu yang sekedar memenuhi rasa kesenangan, keceriaan dan keindahan lahiriyah (hanya di telingan), tetapi rasa batin yang dalam. Suatu jenis dan komposisi yang tidak bisa dinikmati awam yang hanya mengandalkan pendengaran telinga dan nafsu.

Selain memiki dimensi spiritualitas yang tinggi, lagu-lagu Mas Eros juga sarat dengan kritik yang mencerminkan kepekaan terhadap relitas sosial. Mencermati syair-syair lagu Mas Eros malam itu, mengingatkan saya pada sosok musisi Mesir Eissa dan Nagm. Duet musisi yang menjadi langganan keluar masuk penjara di era kepemimpinan Presiden Nasser. Teriakan mereka dalam tembang-tembang ciptaannya, bagai bara api yang membakar semangat  para demonstran. Melalui lagu-lagu politiknya, duet musisi Eissa dan Nagm, melawan imperialisme, rasisme, dan Zionisme, serta oknum elite penguasa yang korup.

Juga Manic Street Preachers (MSP) kelompok music Roc yang sangat tegas dalam mengangkat isu sosial dan kritis secara intelektual. Lirik lagu MSP banyak  mengangkat isu problem sosial politik yang terjadi di berbagai belahan dunia, sehingga masih relevan hingga saat ini.Seperti issu pergolakan terhadap eksploitasi wanita yang dilakukan oleh kaum pria, kapitalisme, budaya konsumerisme yang menjalari sebagian kaum urban. Seperti terlihat lewat tembang klasik “Motorcycle Emptiness”.

Kelompok music lain yang memiliki kesadaran kritis dan menjadikan music sebagai media kritik social adalah Sex Pistol yang beridiri decade 70-an dan menjadi symbol pemberontakan. Band ini lahir dari sekumpulan anak muda yang khawatir terhadap rezim pemerintah yang dirasa makin merajalela. Pada tahun 1977 band ini menggubah secara nakal dan radikal lagu kebangsaan Inggris “God Save the Queen” sebagai bentuk satir yang ditujukan langsung kepada sang Ratu. Syair lagu gubahan ini menolak kebijakan monarki yang menyelimuti kubu kerajaan Inggris.

Saya tidak tahu persis apakah Mas Eros pernah bersentuhan dengan grup-grup band tersebut, sehinggaa menjadikannya sebagai sumber inspirasi. Tapi melihat era keberadaan band-band tersebut yang sezaman saat Mas Eros berproses menjadi seorang musisi saya yakin dia mengenal atau bahkan bersentuhan dengan grup-grup band tersebut.

Halaman:

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

Menjunjung Kebinekaan Kuliner Nusantara

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Prof AA , Beristirahatlah dalam Damai ...

Senin, 19 September 2022 | 09:00 WIB

Surat Terbuka Kepada Menteri Keuangan RI

Sabtu, 3 September 2022 | 08:00 WIB

Neraca Keuangan Minyak Bumi, dan Subsidi Listrik

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 10:30 WIB

Anomali dan Pembodohan Istilah Subsidi BBM

Jumat, 26 Agustus 2022 | 10:00 WIB

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB
X