• Rabu, 30 November 2022

Gurihnya Harga Daging Sapi

- Jumat, 22 Januari 2021 | 15:05 WIB

Watyutink.com - Masyarakat baru menikmati kembalinya tempe dalam menu makan mereka, kini harus kehilangan daging sapi. Dalam beberapa hari terakhir pedagang daging sapi mogok berjualan. Mereka serentak berhenti menjajakan lantaran harganya melambung tinggi.

Kejadiannya sama dengan tempe. Baru-baru ini harga kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe dan tahu melonjak naik hingga 50 persen. Akibatnya, produsen harus menaikkan harga jual atau memperkecil ukuran. Keduanya memiliki risiko tidak dibeli konsumen. Akhirnya mereka memilih berhenti memproduksi.

Produsen tentu kehilangan penghasilan saat tak berproduksi. Tetapi keputusan ini masih lebih baik ketimbang memaksa tetap berproduksi, kerugiannya akan lebih besar. Modal untuk membuat tempe atau tahu menjadi tinggi, sementara permintaan berkurang drastis. Apalagi di tengah merosotnya daya beli masyarakat.

Pedagang daging sapi mengambil keputusan rasional yang sama dengan produsen tempe. Ketimbang merugi, lebih baik tidak berdagang, sampai harga daging sapi kembali ‘normal’ agar dapat meraup sedikit keuntungan yang tersisa antara harga jual dan harga beli dari distributor.

Mereka sudah lama menghadapi masalah rantai tata niaga panjang di komoditas tersebut. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab mengapa harga daging sapi cenderung tinggi dan jarang sekali turun.

Untuk memenuhi kebutuhan daging sapi, Indonesia masih bergantung kepada negara lain. Australia tercatat sebagai pemasok terbesar. Sapi dari Negeri Kanguru ini didatangkan dalam keadaan hidup sebagai bakalan untuk digemukkan di Tanah Air. Di samping itu, ada juga dalam bentuk daging beku.

Sapi dari Australia ini tidak serta merta bisa dinikmati konsumen di Tanah Air. Rantai tata niaga panjang harus dilalui sebelum menjadi menu favorit di meja makan. Sapi impor masuk melalui feedloter, lalu ke Rumah Potong Hewan (RPH), ke ritel, baru masuk ke konsumen akhir.

Masalahnya, dari feedloter ke RPH ada perantara pemburu rente. Dari RPH ke ritel juga ada mediator, dan seterusnya. Akibatnya, harga menjadi tinggi di tingkat pedagang. Surplus yang seharusnya dinikmati penjual sudah banyak termakan oleh mereka. Pedagang tidak berani menaikkan harga lebih tinggi lagi karena akan kehilangan konsumen.

Berharap penurunan harga daging sapi dari peternak lokal juga tidak banyak membantu. Biaya produksi di peternakan rakyat tinggi karena skalanya kecil-kecil. Di samping itu, banyak perantara yang membuat harga akhir di tingkat konsumen semakin mahal.

Halaman:

Editor: Sarwani

Tags

Terkini

COP27 dalam Pusaran Polikrisis

Sabtu, 19 November 2022 | 16:30 WIB

Debat di Konferensi Iklim Mesir

Sabtu, 12 November 2022 | 18:00 WIB

Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi

Sabtu, 5 November 2022 | 09:00 WIB

Jelang COP27 – KTT Iklim Mesir

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Climate TRACE

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Menyongsong 2030, Indonesia Perlu Pemimpin Ekonom

Rabu, 19 Oktober 2022 | 12:30 WIB

Strategi Antitesis Versus Membebek, Sah dan Bagus

Sabtu, 15 Oktober 2022 | 19:15 WIB

24 Hours of Reality

Sabtu, 8 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Teori Permainan dan Politik Copras-Capres

Jumat, 7 Oktober 2022 | 15:05 WIB

Menjunjung Kebinekaan Kuliner Nusantara

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Prof AA , Beristirahatlah dalam Damai ...

Senin, 19 September 2022 | 09:00 WIB

Surat Terbuka Kepada Menteri Keuangan RI

Sabtu, 3 September 2022 | 08:00 WIB
X