• Rabu, 10 Agustus 2022

Ikhlas, Jujur, Profesional dalam Ibadah Haji

- Senin, 7 Juni 2021 | 22:15 WIB
ilustrasi muid/watyutink.com
ilustrasi muid/watyutink.com

Watyutink.com – Pemerintah secara resmi membatalkan pemberangkatan jamaah pada tahun ini, setelah sebelumnya pada 2020 juga tidak memberangkat jamaah haji ke Arab Saudi. Dua tahun berturut-turut tidak ada jamaah haji yang diberangkatkan dari Indonesia.

Pembatalan pemberangkatan haji pada tahun lalu tidak menimbulkan reaksi seheboh sekarang. Saat itu masyarakat maklum karena Indonesia dan dunia internasional tengah menghadapi masa awal pandemi Covid-19. Dunia masih mencari cara untuk mengatasi wabah tersebut. Sebelum ada cara atau penanganan yang terbukti baik, Arab Saudi dan negara yang mengirimkan jamaah haji tidak mau berspekulasi dengan keselamatan para jamaah.

Berbeda dengan reaksi atas pembatalan pemberangkatan jamaah haji Indonesia ke Tanah Suci untuk tahun ini yang menimbulkan banyak spekulasi di masyarakat luas. Bahkan tanggapan muncul dari anggota DPR yang prihatin dengan kebijakan pemerintah tersebut.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyatakan telah mendapatkan informasi bahwa Indonesia tidak memperoleh kuota haji tahun 2021. Tidak adanya alokasi kuota haji bagi Indonesia ini, lantaran vaksin Covid-19 yang digunakan Indonesia tidak ada dalam kamus pemerintah Arab Saudi. Mereka hanya mengakui vaksin AstraZeneca, Pfizer, Johnson and Johnson, dan Moderna.

Pemerintah Arab Saudi sampai saat ini belum memasukkan vaksin Sinovac yang digunakan oleh Indonesia dalam daftar vaksin Covid-19 yang diakui untuk calon jemaah haji. Vaksin yang disetujui sebagai persyaratan calon haji dan umrah adalah vaksin yang sudah mendapat emergency use listing (EUL) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sinovac belum masuk dalam daftar tersebut.

Sementara anggota DPR Ace Hasan Syadzily menyebut adanya 11 negara yang telah memperoleh kuota haji dari kerajaan Arab Saudi pada tahun 2021, dan Indonesia tidak termasuk dari negara-negara tersebut.

Ada juga isu yang menyebutkan bahwa pembatalan pemberangkatan jamaah haji disebabkan Indonesia memiliki utang pemondokan, katering dan lain-lain kepada pihak Saudi Arabia.

Isu lain yang lebih ‘masuk akal’ adalah Indonesia tidak memiliki uang untuk memberangkatkan haji. Dana calon jamaah haji yang tidak jadi berangkat digunakan untuk memperkuat rupiah. Hal ini dikaitkan dengan pernyataan Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Anggito Abimanyu pada 2 Juni 2020.

Saat diwawancara oleh satu satu media online, dia menyatakan akan memanfaatkan dana simpanan yang dimiliki untuk membiayai penyelenggaraan ibadah haji 2020 untuk kepentingan stabilisasi nilai tukar rupiah. Sebab, pemerintah Indonesia resmi tidak mengirimkan jemaah haji pada 2020.

Halaman:

Editor: Sarwani

Tags

Terkini

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB
X