• Senin, 15 Agustus 2022

Sehatkan Garuda, Berikan Pasar Domestik

- Jumat, 11 Juni 2021 | 13:05 WIB
Ilustrasi muid/watyutink.com
Ilustrasi muid/watyutink.com

Watyutink.com – Kepak sayap Garuda Indonesia tak lagi sekuat dulu. Utang melilit dan menjerat sayap-sayapnya yang dulu terbentang lebar di seantero Nusantara dan dunia. Sayap itu kini ringkih, rapuh, rontok per lahan, tak lagi mampu membawa Garuda terbang tinggi.

Kemungkinan hanya akan tersisa 50 pesawat dari 140 pesawat yang dioperasikan Garuda Indonesia. Kehilangan lebih dari separuh kekuatan hanya dalam hitungan bulan sulit dipercaya dan pasti sangat menyakitkan. 

Garuda Indonesia harus menerima kenyataan pahit tersebut sebagai konsekuensi dari tumpukan utang hingga Rp70 triliun, menjadikan flag carrier tersebut pesakitan, setelah sebelumnya mengharumkan industri penerbangan di Tanah Air melalui pencatatan sahamnya di lantai bursa 10 tahun lalu atau tepatnya 11 Februari 2011.

Salah kelola (mismanagement) masa lalu menciptakan utang sebesar Rp70 triliun, makin bertambah-tambah membebani Garuda dengan adanya pandemi Covid-19. Sejak virus corona merebak, jumlah penumpang maskapai penerbangan pelat merah itu anjlok drastis sampai 90 persen, berimbas pada penurunan tajam pendapatan perseroan.

Untuk sehat kembali, Garuda tengah menyiapkan rencana induk (masterplan) restrukturisasi kepada kreditur, vendor, lessor, dan pihak-pihak berkepentingan terhadap pelunasan atau pemenuhan kewajiban perseroan. Namun belum ada pihak yang menyetujui atau menolak rencana restrukturisasi tersebut. Dengan kata lain, penyelamatan Garuda masih butuh waktu lama.

Di sisi lain, pemerintah sebagai pemegang saham juga menyiapkan jurus-jurus menyelamatkan Garuda. Sedikitnya ada empat opsi yang ditawarkan. Pertama, pemerintah akan memberikan dukungan penuh kepada perusahaan pelat merah itu. Pemerintah bakal terus mendukung Garuda melalui pemberian pinjaman atau suntikan ekuitas, seperti dilakukan kepada Jiwasraya.

Indonesia tidak sendirian menempuh cara ini. Singapura melakukannya untuk Singapore Airlines, Hong Kong untuk Cathay Pacific, dan China untuk Air China. Namun, ada risiko bagi perusahaan. Dukungan berupa pinjaman akan meninggalkan warisan utang yang semakin besar dan membuat perusahaan menghadapi situasi berat di masa depan.

Kedua, menggunakan hukum perlindungan kebangkrutan untuk merestrukturisasi Garuda. Cara ini menggunakan legal bankruptcy process untuk merestrukturisasi kewajiban, seperti utang, sewa, kontrak kerja.

Ketiga, opsi yurisdiksi yang akan digunakan mencakup hukum US Chapter 11, foreign jurisdiction lain seperti Inggris, dan PKPU. Cara ini ditempuh Chili untuk Latam Airlines, Malaysia untuk Malaysia Airlines, dan Thailand untuk Thai Airlines.

Halaman:

Editor: Sarwani

Terkini

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB
X