• Senin, 15 Agustus 2022

Covid-19: Jangan Salahkan Rakyat Lagi!

- Selasa, 22 Juni 2021 | 16:30 WIB
Ilustrasi muid/watyutink.com
Ilustrasi muid/watyutink.com

Oleh: Erros Djarot
Budayawan

Watyutink.com - Sangat menyedihkan dan teramat menjengkelkan ketika mendengar seorang pejabat tinggi negara dengan entengnya menyalahkan rakyat ketika angka penduduk Jakarta yang terjangkit Covid-19 melonjak pesat. Dengan ketus ia menibankan kesalahan utama kepada rakyat penduduk Jakarta yang saat lebaran lalu pulang mudik. Padahal sudah dihimbau (baca: diminta keikhlasannya), tahun ini untuk tidak pulang mudik dulu. 

Mendengar celetukan yang mengecewakan ini saya jadi ingat idiom bahasa Inggris yang menyindir seseorang yang asal buka mulut.."Look who’s talking..?”. Seharusnya ia malu karena kehilangan kewibawaan dengan bukti rakyat tak menggubris himbauannya. Apa sang pejabat ini lupa bahwa para petinggi negara di tingkat pusat dan daerah sempat blingsatan mengeluarkan arah kebijakan yang ditangkap rakyat tanpa kepastian karena serba simpang siur. Yang satu bilang jangan, yang lain membolehkan asal…ini pun tidak jelas. Bepergian dilarang, tempat hiburan dan wisata digelar…dan masih banyak lagi yang aneh-aneh.

Kian membuat geleng-geleng kepala mengingat dulu sang pejabat begitu yakin bahwa apa yang telah ia lakukan mencegah penyebaran virus Covid-19 dan varian barunya, seakan sudah baik, maksimal, dan teruji. Dipastikan pejabat sejenis ini pasti gemar dan bangga mengumbar angka penyebaran virus Covid yang berhasil dicegah dengan memajang angka statistik korban Covid yang beberapa bulan lalu menunjukkan penurunan dengan nilai jumlah korban yang terjangkit relatif rendah.

Namun ketika tiba-tiba angka korban melonjak drastis, sang pejabat yang lihai cuci tangan di arena politik dengan mudah menyalahkan rakyat yang tidak disiplinlah, mungkin jengkel karena varian baru virus (Covid delta) yang datang tanpa pemberitahuan, alias kulonuwun. Kalau toh yang diekspos lonjakan dikarenakan hadirnya Covid versi mutakhir (delta), dari hasil laporan para dokter di lapangan, mayoritas yang terdampak masih dalam kategori virus Covid-19 sebagaimana yang sudah-sudah. 

Yang sebenarnya sangat tidak lucu ketika ketika sang pejabat seenaknya menyalahkan rakyat. Dalam hati saya bertanya; mengapa harus kaget bos? Tanpa adanya mudik lebaran pun, lonjakan angka korban setiap saat bisa terjadi. Lonjakan yang terjadi dan bakal terjadi lagi adalah sebuah keniscayaan. Pasalnya sangat mudah diruntun. Lha, jumlah korban dengan angka rendah yang diperoleh selama ini diperoleh dari mana? Jangan-jangan diperoleh dari cara metode sampel ala hitungan lembaga survei saat melakukan hitungan dalam perhelatan Pilkada, Pilpres, di setiap Pemilu digelar. 

Sampel lembaga survei menghitung suara peminat si A, B,atau C, memang bisa dijadikan rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah-akademis. Rujukan sumber data diperoleh dari jumlah penduduk-pemilih berdasarkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang terdaftar dan tercatat secara pasti, tetap, dan baku. Perbandingan pun dapat disimpulkan dari hasil olahan data yang ada dan tersedia. Pertanyaannya; bagaimana menentukan jumlah persentase korban Covid, di Jakarta misalnya? Taruhlah dari 10 juta warganya saja, berapa sih yang sudah melakukan atau dijaring untuk didaftar sebagai yang sudah melakukan PCR? 

Jangankan melakukan tes PCR yang biayanya cukup mahal dan tak terjangkau bagi mayoritas penduduk, untuk yang melakukan tes Antigen yang lebih murah pun, masih terlalu mahal bagi mereka. Karena dalam beberapa hasil investigasi lapangan, mayoritas dari penduduk Jakarta mereka lebih memilih uang yang ada digunakan untuk membeli beras dan lauk pauk menjadi pilihan mereka. Nah kalau data yang tersedia hanya dari mereka yang sudah terdaftar melakukan PCR dan Antigen atau pun yang sudah terpapar yang jumlahnya tidak memadai untuk dipakai sebagai data yang mewakili realita lapangan, maka angka yang dihasilkan pun cenderung angka yang bisa dikategorikan sebagai angka abal-abal.

Oleh karenanya, lonjakan korban bisa kapan saja terjadi. Lonjakan ini menjadi sebuah keniscayaan karena datangnya dari jumlah kerumunan manusia yang tak terdata dan tak diketahui, apa, siapa, dan bagaimananya. Ditambah dengan tebaran yang berasal dari jenis virus Covid-19 yang sudah bermutasi dan lebih canggih menyebarkan wabah, tidaklah mengherankan lonjakan pun bisa terjadi sangat tiba-tiba, kapan saja, dan tak terduga. Tak terduga karena tak terdeteksi atau tak diketahui berapa riilnya jumlah penduduk yang terbebas dan terhimbas oleh Covid-19.

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB
X