• Rabu, 10 Agustus 2022

Sutra di Pusaran Krisis Global

- Sabtu, 26 Juni 2021 | 11:30 WIB
Ilustrasi Muid Watyutink.com
Ilustrasi Muid Watyutink.com

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D.
Direktur, Climate Reality Indonesia

Watyutink.com - Sutra, dengan kilauan dan kelembutannya, adalah kemewahan dan kenyamanan. Desainer ternama Marc Jacobs menceritakan keindahan dan keanggunan sutra untuk baju pengantin dan busana formal, dasi dan selendang, maupun perlengkapan cantik untuk ruang tamu dan kamar tidur.

Proses pembuatan sutra, yang sudah dimulai 3600 tahun Sebelum Masehi di Cina, dikenal sebagai serikultur. Ada empat jenis sutra alam komersial. Sutra murbei, yang memasok 90 persen pasaran sutra, dan yang non-murbei yaitu sutra eri, sutra tasar, dan sutra muga.

Awalnya larva dari ulat sutra diberi makan dedaunan. Setelah berganti kulit beberapa kali, mereka membentuk kepompong yang dalam prosesnya dimasukkan ke air mendidih. Filamen sutra diekstraksi dengan menyikat kepompong dan sutra mentah kemudian ditenun atau dirajut menjadi kain maupun dipintal menjadi benang.

Kain sutra terbuat dari serat alami, terbarukan, dapat terurai secara hayati, dan tahan lama. Namun para peneliti mengatakan bahwa dampak lingkungan produksi sutra lebih besar dibandingkan serat alami lainnya maupun serat sintetis, terutama jika dalam proses pembuatannya menggunakan energi berlebihan.

Dampak lingkungan industri fesyen cukup besar, karena 10% dari emisi gas rumah kaca global penyebab perubahan iklim berasal dari industri ini. Selain itu sebanyak 85% produk fesyen berakhir di tempat pembuangan sampah, meskipun masih layak pakai, karena banyak konsumen selalu mencari model terbaru.

Berbagai gerakan bermunculan agar dunia fesyen menjadi lebih ramah lingkungan, seperti eco fashion, sustainable fashion dan circular fashion. Terakhir ada praktik regenerative fashion, yang mengintegrasikan serat yang dihasilkan melalui pertanian regeneratif. Jenis pertanian ini menganut pendekatan konservasi dan rehabilitasi terhadap sistem pangan dan pertanian.

Sebuah label fesyen, Project Cocccon, menerapkan pertanian regeneratif dalam proses serikultur dengan sistem multi-tanaman untuk meningkatkan kesuburan tanah, dan menggunakan kompos alami. Mereka tidak menggunakan pestisida dan fungisida, menghemat air, serta memanfaatkan energi surya dalam proses produksinya.

Project Cocccon juga menerapkan proses peace silk (sutra damai), yakni sutra yang dihasilkan tanpa merebus kepompong utuh dan masih mengandung ulat. Metamorfosis dari ulat sutra menjadi ngengat diselesaikan sampai keluar secara alami dari kepompongnya. Baru kemudian sisa kepompong dikumpulkan untuk membuat sutra.

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB
X