• Senin, 15 Agustus 2022

Kritik dan Raja yang Tak Telanjang

- Jumat, 2 Juli 2021 | 12:45 WIB
Ilustrasi Muid Watyutink.com
Ilustrasi Muid Watyutink.com

Oleh: Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis

Watyutink.com - Meme “The King of Lip Sevice” viral di media sosial. Postingan meme di akun Twitter Badan Eksekutif Mahasiswa - Universitas Indonesia (BEM-UI), 26 Juni 2021, itu menjadi trending topik dan  ramai diperdebatkan di berbagai platform media sosial.

BEM-UI mengritik Presiden Jokowi, yang mereka nilai kerap obral janji namun sering tak terwujud. Sejumkah “lip service” yang dipersoalkan antara lain: pernyataan “rindu didemo”, “revisi UU ITE”, dan “penguatan KPK”. Isu yang memang menjadi polemik politik setahun terakhir.

Berbeda dengan sikap pendukung fanatiknya yang reaksioner, Presiden Jokowi menanggapi dengan rileks kritikan digital ala mahasiswa itu. Ia bukan cuma merespon kritikan BEM-UI, namun juga mengingatkan berbagai kritik, bahkan ejekan, yang ditujukan padanya. Seperti julukan “planga-plongo”, “otoriter”, “bebek lumpuh”,  “bapak bipang”, termasuk “The King of Lip Service”.

Dengan bijak Jokowi menegaskan kritik itu sebagai ekspresi mahasiswa, “ini negara demokrasi jadi kritik boleh-boleh saja”. Pernyataan resmi itu direkam dan ditayangkan melalui akun Youtube Sekretariat Presiden, 29 Juni 2021. Presiden bahkan meminta, pihak universitas, Rektorat UI, tidak perlu mempersoalkan ekspresi mahasiswa. Permintaan itu ditujukan kepada Rektor UI yang berniat memanggil pengurus BEM-UI. Namun, presiden juga mengingatkan agar mahasiswa memperhatikan tata krama dan sopan santun.

Sikap bijak dan rileks Jokowi ini berkebalikan dengan reaksi para pendukung fanatiknya dan sebagian civitas akademika UI. Para “loyalis” Jokowi ini merasa BEM-UI telah “mencemarkan nama baik Jokowi dan UI”. Polemik pro-kontra atas meme BEM-UI terus berkecamuk di sosial media, meski presiden sudah menegaskan sikap pro-demokrasinya dan pro-kebebasan berekspresi.

Sikap rileks presiden adalah isyarat jelas bagi para pendukung fanatiknya, agar tidak terlalu sensitif dan reaksioner terhadap ekspresi demokrasi. Jokowi untuk kesekian kali menunjukkan sikap pro-demokrasi, ketika pendukungnya, yang kerap dijuluki buzzer, cenderung bereaksi over-dramatik. Contoh sikap “bijak berdemokrasi” juga ditunjukkan Jokowi dalam isu terkait “presiden tiga periode”, misalnya. Ia tegas menolak usulan itu, dan menuduh pengusulnya sebagai sedang berupaya “cari muka dan ingin menjerumuskan”.

Sikap yang cukup jelas, pro-demokrasi, itu akan menghindarkan Jokowi dari “kutukan raja telanjang”. Satu Parabel, cerita hikayat, tentang raja yang gila pujian, akibat dikelilingi para hulubalang yang hanya ingin memuja dan menyenangkan sang raja. Para pendukung “raja”: yang anti-kritik dan alergi pada kritisisme publik, akan mengisolasi sang raja dalam dunia misinformasi dan disinformasi. Berakibat sang raja terisolasi dan terasing dari realitas kondisi kerajaan dan aspirasi rakyatnya.

Hikayat “Raja yang Telanjang” sangat populer sebagai metafor situasi ambigu sistem demokrasi modern dalam kultur budaya feodal dan paternalistik. Demokrasi mengandaikan kesetaraan dan kolegialitas manusia. Hirarki, sebagaimana berlaku dalam sistem monarki, tidak lagi berlaku. Presiden dipilih karena kompetensi dan disukai mayoritas warga pemilih. Bukan karena memiliki “kemampuan lebih” atau mendapat wahyu supranatural. 

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB
X