• Rabu, 10 Agustus 2022

Mengambil Risiko Terkecil dalam Beribadah

- Jumat, 9 Juli 2021 | 13:30 WIB
Ilustrasi Muid Watyutink.com
Ilustrasi Muid Watyutink.com

Oleh: Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta

Watyutink.com - Dalam ilmu Ushul Fiqh ada kaidah “Al dharurul asyaddu yuzaalu bi al dharuri al akhaffu” (mudharat yang lebih berat harus dihilangkan dengan melakukan mudharat yang lebih kecil). Kaidah lain menyebutkan: “idza ta’aradla syarraani au dhararaani dafa’a asyadda al dhararaini wa ‘adlama al syarraaini” (Jika ada dua keburukan atau kemadlaratan maka keburukan dan kemadlaratan yang lebih besar harus dihilangkan).

Menurut Muhammad Husain Abdullah dharar atau madharat adalah lawan dari manfaat yaitu suatu yang dapat membawa keburukan atau mencelakan diri sendiri maupun orang lain. Sedangkan Al-Jurjani, memberikan pengertian “madlarat”  sebagai suatu keterpaksaan yang mendesak yang dikhawatirkan dapat menimbulkan kematian atau kebinasaan.   

Selain kedua kaidah tersebut, prinsip memilih risiko terkecil atas dua hal yang dapat membawa kemadlaratan ada juga kaidah khaffud daruraini (mengambil risiko yang membawa kemadlaratan lebih ringan), atau ahwan as-syarayn (memilih keburukan yang lebih rendah). Prinsip ini terdapat dalam kitab al-Mustashfa’ fi’ilm al-Usuhul karya imam Ghazali (hal. 178) dan kitab al-Ashbah wa Nadha’ir karya imam Ash-Suyuthi (hal. 87).

Dari beberapa kaidah tersebut menyiratkan bahwa umat Islam diajarkan untuk menghindari risiko yang bahayakan dirinya maupun orang lain, termasuk dalam hal melakukan ibadah. Allah tidak memerintahkan hambanya untuk melakukan hal-hal yang membahayakan nyawa manusia. Beribadah kepada Allah tidak boleh dilakukan dengan mengambil risiko yang dapat mengancam jiwa. Ini terjadi karena Islam sangat menghargai dan melindungi nyawa manusia. 

Salah satu dalil yang menjadi landasan beberapa kiadah di atas adalah kisah perjanjian Hudaibiyah. Dalam perjanjian ini umat Islam diperlukan tidak adil oleh kaum kafir Qurays  Makkah, sehingga merugikan umat Islam. Di antaranya, dalam diktum perjanjian tersebut menyebutkan umat Islam tidak boleh melakukan ibadah umrah pada tahun itu, mereka harus balik ke Madinah dan baru boleh melaksanakan umrah pada tahun berikutnya. Yang merugikan lagi, perjanjian itu sama sekali tidak memberikan jaminan perlindungan terhadap umat Islam. Kaum kafir Makkah yang  masuk Islam kemudian meminta perlindungan kepada Nabi harus dikembalikan ke Makkah, sedangkan kaum muslim yang mendatangi kaum musyrik di Makkah tidak boleh dikembalikan (Shahih Bukhari; 2731).

Meskipun perjanjian tersebut sangat merugikan, namun Nabi Muhammad menerima dan memerintahkan kepada seluruh sahabatnya untuk mentaati perjanjian tersebut. Nabi menerima perjanjian tersebut sebagai strategi untuk melindungi kaum muslimin yang ada di Makkah, yang masih menjadi minoritas, dari pembunuhan dan penyiksaan kaum kafir Qurays. Kisah ini menunjukkan bahwa menyelamatkan dan melindungi nyawa dari ancaman pembunuhan dan kerusakan harus lebih didahulukan daripada melakukan ibadah formal (umrah).

Kaidah ushul fiqh mengambil risiko terkecil dari dua hal sama-sama berisiko membawa kemadlaratan ini relevan untuk dijadikan pijakan dalam melihat fenomena sikap masyarakat terhadap penyebaran pandemi Covid-19 saat ini. Sebagaimana kita ketahui, saat ini ini ada dua hal yang sama-sama berisiko membawa kemadlaratan. Pertama sikap pemerintah untuk memutus penyebaran virus Corona yang mengancam jiwa manusia melalui kebijakan PPKM darurat. Salah satu bentuk dari kebijakan ini adalah penutupan tempat ibadah dan pelarangan beribadah secara berkerumun. Demi menjaga nyawa rakyatnya pemerintah bersikap tegas, membubarkan setiap kerumunan, termasuk mereka yang sedang melakukan ibadah dan memberikan sangsi terhadap terhadap mereka yang melanggar kebijakan ini,

Kedua, sikap sebagian umat Islam yang menentang kebijakan tersebut karena dianggap membatasi  umat Islam melakukan ibadah. Bahkan ada yang menghembuskan berita bahwa kebijakan itu merupakan bentuk pelarangan beribadah yang berarti melecehkan Islam. Mereka berargumen bahwa pandemi corona hanya isu dan rekayasa belaka. Dengan demikian mereka menolak kebijakan tersebut dan menganjurkan umat Islam untuk tetap menjalankan ibadah di masjid secara berkerumun. Selain itu mereka berargumen bahwa urusan nyawa seseorang adalah takdir Allah.

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB
X