• Selasa, 9 Agustus 2022

Menebar Maut di Masa Pandemi, Apakah Termasuk Kejahatan Kemanusiaan?

- Selasa, 13 Juli 2021 | 13:15 WIB
Ilustrasi Muid Watyutink.com
Ilustrasi Muid Watyutink.com

Oleh: Anthony Budiawan
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)

Watyutink.com - Pengendalian pandemi Covid-19 di Indonesia terkesan tidak serius. Tidak seperti Vietnam atau New Zealand, dan beberapa negara tetangga lainnya yang sangat sigap. Mereka langsung menutup jalur penerbangan internasional guna memutus mata rantai penularan.

Hasilnya luar biasa. Tingkat penularan dan kematian Covid-19 di negara-negara tersebut terkendali dengan baik. Vietnam hanya mencatat 35 orang meninggal sepanjang 2020. Selandia Baru 25 orang. Singapore 29 orang. Sedangkan Indonesia mencatat 22.138 orang meninggal karena Covid-19.

Sedangkan sepanjang 2021 hingga 10 Juli, angka kematian di Vietnam hanya bertambah 77 orang menjadi 112 orang. New Zealand bertambah 1 orang menjadi 26 orang, Singapore bertambah 7 orang menjadi 36 orang. Indonesia bertambah 43.319 orang menjadi 65.457 orang.

Keberhasilan pengendalian covid-19 juga membawa berkah bagi pertumbuhan ekonomi. New Zealand dan Vietnam berhasil membukukan pertumbuhan ekonomi positif pada 2020. Sedangkan Indonesia yang nampaknya mengejar pertumbuhan ekonomi malah turun tajam, dari pertumbuhan plus 5,02 persen menjadi minus 2,07 persen, atau turun 7,09 persen.

-

Kegagalan Indonesia dalam pemberantasan pandemi Covid-19 dapat dirasakan sejak awal pandemi. Faktor ekonomi nampaknya lebih dominan dibandingkan faktor kesehatan. Lebih dominan artinya secara sadar lebih memilih ekonomi dari pada kesehatan. Meskipun secara sadar pula tahu bahwa hal ini bisa membahayakan nyawa manusia.

Sama seperti kebanyakan negara-negara lainnya, kasus (tertular) harian Covid-19 di Indonesia juga naik di awal pandemi. Indonesia kemudian memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada 10 April 2020, dan dihentikan 3 Juni 2020.

Selama PSBB ini, kasus harian Covid-19 tidak kunjung turun. Bahkan meningkat tajam dari 218 kasus menjadi 611 kasus. Dalam kondisi seperti ini, PSBB seharusnya tidak layak dihentikan. Malah harus diperketat.

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB
X