• Senin, 15 Agustus 2022

Ekonomi Syariah Bergairah di Tengah Masalah

- Jumat, 29 Oktober 2021 | 10:35 WIB
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com

Watyutink.com – Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2021 tengah digelar pekan ini. Sejumlah capaian dipaparkan dalam perhelatan yang melibatkan para pelaku ekonomi syariah dan pihak yang terkait di dalamnya.

Salah satu yang terungkap dalam festival kali ini adalah bahwa Indonesia terus menyodok posisi negara lain dalam peringkat pasar keuangan syariah terbesar dunia. Jika tidak ada aral melintang, pangsa keuangan syariah RI akan menembus lebih dari 10 persen dari pasar global pada tahun ini.

Keyakinan Indonesia akan menguasai pangsa pasar keuangan syariah lebih dari 10 persen itu berdasarkan data dimana pada tahun lalu posisinya sudah mencapai 9,89 persen. Jika dihitung berdasarkan aset, laporan Islamic Finance Development Indicator (IFDI) 2020 menyebutkan industri keuangan syariah Indonesia bertengger di peringkat lima besar dunia.

Laporan itu juga menyebutkan aset industri keuangan syariah Indonesia berjumlah sekitar 3 miliar dolar AS sehingga layak diganjar posisi lima besar dunia dari 135 negara. Di luar Indonesia, ada Arab Saudi yang masuk lima besar dengan nilai aset 17 miliar dolar AS, disusul Iran dengan nilai aset 14 miliar dolar AS, dan Malaysia dengan 10 miliar dolar AS.

Sekalipun total aset industri keuangan syariah Indonesia ‘baru’ Rp3 miliar dolar atau sekitar Rp42,6 triliun, pemerintah pede akan menjadi pemain kunci industri keuangan syariah global. Posisi Indonesia dipercaya akan terus meningkat.

Potensi ekonomi dan keuangan syariah bisa dibilang sangat luas karena konsumennya tidak terbatas pada kaum muslim saja. Sistem ekonomi dan keuangan syariah tak hanya berbicara masalah agama dan keyakinan, tetapi lebih luas menyangkut kesejahteraan, keadilan, etika, dan moral.

Pasar yang sangat luas menjadikan perkembangan ekonomi syariah secara global diperkirakan terus naik dari 2,88 triliun dolar AS pada 2019 menjadi 3,69 triliun dolar AS pada 2024. Melihat potensi yang cukup besar itu, banyak negara non-muslim yang mengadopsi dan mempraktekkan sistem keuangan syariah yang bersifat inklusif.

Inggris, misalnya, keberadaan industri keuangan syariah sudah lazim di negeri itu. Bahkan London menjadi pusat bisnis dan keuangan syariah di Eropa. Perbankan dan institusi keuangan syariah di negara itu bisa mendapatkan akses sesuai prinsip syariah dari bank sentral, Bank of England, yang mengeluarkan instrumen likuiditas khusus berbasis syariah alternatif.

Indonesia tentu tak ingin ketinggalan dari Inggris. Industri keuangan syariah di Tanah Air harus berbenah agar target menjadi pemain utama dalam ekonomi dan keuangan syariah global dapat dicapai. 

Halaman:

Editor: Sarwani

Terkini

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB
X