• Senin, 15 Agustus 2022

Fakta dan Fiksi G20

- Jumat, 5 November 2021 | 13:50 WIB
Ilustrasi watyutink  (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Oleh: Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis

Watyutink.com - Para pemimpin Group of Twenty (G20) baru saja usai menggelar pertemuan tahunan di Roma, Italia, 31 Oktober 2021. Seperti biasa, tidak ada yang konkret dari pertemuan 20 pemimpin negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia ini. Tidak ada resolusi kesepakatan yang mengikat terkait agenda utama: ancaman pemanasan global. 

Pertemuan G20 semakin terlihat hanya menjadi ritual tahunan pertemuan “klangenan” para pemimpin negara. Tanpa ada kejelasan target untuk apa perlu bertemu setiap tahun, di tengah situasi krisis yang melanda dunia: pandemi COVID-19 dan perubahan iklim. 

Tidak ada kesepakatan, misalnya, tentang keseriusan masing-masing negara untuk membatasi emisi carbon, penyebab perubahan iklim. Juga tidak ada terobosan nyata terkait upaya mengatasi pandemi. Atau apalagi berupaya mengatasi kesenjangan ekonomi, menciptakan tatanan dunia yang lebih adil dan damai. Forum pertemuan G20 jadi lebih mirip pertunjukan teater para pemimpin dunia. Lebih sebagai tontonan ketimbang tuntunan nyata. Bernuansa fiksi ketimbang fakta.

Namun, di Indonesia, pertemuan G20 di Roma mendapat perhatian luas dan dianggap istimewa. Bukan soal substansi agenda pertemuan dan hasilnya, melainkan karena adanya acara serah terima kepemimpinan G20 dari Italia sebagai pemimpin 2021 ke Indonesia, untuk memimpin pada 2022.

Di sosial media, informasi tentang “terpilihnya” Indonesia sebagai pemimpin G20 disambut gegap gempita. Seolah seperti Indonesia telah memenangkan “kompetisi sepak bola dunia” (untuk penggemar sepak bola). Sebuah “prestasi” yang belum pernah ada presedennya dan dikesankan sebagai pencapaian keberhasilan Indonesia di era Presiden Jokowi.

Padahal menjadi pemimpin G20 adalah soal “giliran”, kebetulan tahun 2022 adalah giliran Indonesia. Semua negara anggota G20 akan mendapat giliran memimpin. Dan kepemimpinan itu juga bersifat simbolik, artinya Indonesia tidak akan memiliki kekuatan atau privilese apapun untuk mengarahkan G20. Selain bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan tahunan berikutnya, pada 2022.

Alih-alih memimpin G20, sebenarnya Indonesia cuma didapuk menjadi tuan rumah resepsi “pesta” para pimpinan negara G20. Satu-satunya “keuntungan” sebagai tuan rumah G20 adalah, Indonesia bakal menjadi pusat perhatian dunia saat pertemuan diselenggarakan. 

Dan dalam acara serah terima di Roma, Presiden Jokowi menyampaikan, pertemuan G20 2022 akan diadakan di Bali. Pulai Bali akan mendapat “berkah” dari pertemuan itu dan akan semakin dikenal. Namun Bali sudah sangat dikenal sebagai destinasi wisata dunia, tanpa pertemuan G20.

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB
X