• Rabu, 10 Agustus 2022

Mengawal Komitmen Glasgow

- Sabtu, 13 November 2021 | 10:10 WIB
Ilustrasi Muid Watyutink.com
Ilustrasi Muid Watyutink.com

Amanda Katili Niode, Ph.D.
Direktur, Climate Reality Indonesia

Watyutink.com - Perhatian dunia kini masih tertuju ke Glasgow pada Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim, Conference of Parties 26 (COP26), yang dijadwalkan berakhir kemarin. Ini karena COP26 dipandang sebagai pertemuan puncak untuk membahas apa yang telah dan belum dicapai sejak Persetujuan Paris 2015, sekaligus menentukan rencana konkret selanjutnya.

Persetujuan Paris menetapkan kenaikan suhu global abad ini di bawah 2ºC dibandingkan suhu pra-industri dan diupayakan menekannya hingga 1,5ºC.  Persetujuan ini juga dimaksudkan untuk membina kemampuan berbagai negara dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Komitmen utama yang diperjuangkan di Glasgow melalui negosiasi para pihak (negara) adalah, agar pada akhir 2022 Negara-negara mengajukan rencana untuk mengurangi emisi karbon penyebab perubahan iklim, secara lebih ambisius. Selain itu juga Negara-negara maju harus meningkatkan pendanaan iklim untuk membantu negara-negara berkembang mengatasi dampak negatif. Penghapusan subsidi batu bara dan bahan bakar fosil secara bertahap, serta kerugian dan kerusakan akibat krisis iklim juga menjadi tema yang dibicarakan.

Selain acara utama yaitu negosiasi agar para pihak berkomitmen, karena COP26 merupakan peristiwa besar, maka banyak inisiatif yang diluncurkan baik oleh gabungan negara, korporasi, maupun organisasi internasional.

Salah satunya adalah berkumpulnya Menteri Keuangan Global, termasuk Menteri Sri Mulyani, membahas bagaimana keuangan publik dan swasta dapat mengarahkan transisi ke dunia yang berketahanan iklim.

Pemerintah Inggris berkomitmen sebesar GBP 576 juta  untuk paket inisiatif memobilisasi keuangan ke pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang. Sedangkan Kelompok Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia akan berbagi risiko dengan negara-negara berkembang dan menggalang dana baru hingga USD 8,5 miliar untuk mendukung aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan. Ada juga peluncuran mekanisme pembiayaan baru yang inovatif – Mekanisme Pasar Modal Dana Investasi Iklim yang akan mendorong investasi ke energi bersih di negara-negara berkembang.

Sebuah event yang menarik ribuan orang di Glasgow adalah acara “Advancing Gender Equality in Climate Action” yang diikuti para tokoh dan pemimpin perempuan yang mewakili pemerintah, pelaku usaha, dan juga masyarakat sipil, karena 80% orang yang mengungsi akibat perubahan iklim adalah perempuan dan anak-anak. 

Pada acara di atas, ditetapkan langkah-langkah baru untuk memastikan aksi iklim dapat responsif gender, juga untuk meningkatkan kepemimpinan perempuan dan partisipasi yang berarti dalam aksi iklim.

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB
X