• Selasa, 9 Agustus 2022

Optimisme Sains dan Berhala Filsafat

- Senin, 15 November 2021 | 10:35 WIB
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis

(Catatan untuk “Pasca-Filsafat” Goenawan Mohamad)

Watyutink.com - Ungkapan “matinya filsafat” direspon agak sengit oleh segelintir penghayatnya. Ada nuansa tersinggung di kalangan pembelajar “profesional” filsafat , sehingga bersikap reaksioner. Matinya filsafat, yang dilontarkan oleh sejumlah pemikir (dari Stephen Hawking hingga Heidegger), dianggap sebagai ungkapan harfiah lonceng kematian, alih-alih dipahami sebagai wacana pemikiran.

Matinya filsafat cuma wacana, tentang perubahan era dan paradigma berpikir. Daniel Bell, misalnya, pernah mengumumkan “The End of Ideology” (1960). Merujuk narasi besar ideologi, sebagai produk pemikiran abad 19, telah sempoyongan dan tidak lagi relevan. Sebagai konsep, ideologi tetap akan hidup, namun tidak lagi untuk diimplementasikan atau diyakini secara parokial. Para “ideolog” tentu boleh tidak sepakat dengan Daniel Bell, jika merasa ideologi yang diyakini masih aktual.

Atau seperti wacana “The End of History” yang diulas oleh Francis Fukuyama (1990). Bagi Fukuyama, berakhirnya perang dingin dan bubarnya Uni Sovyet telah “mengakhiri sejarah”. Artinya perseteruan manusia atas nama ideologi-ideologi besar sudah usai. Demokrasi liberal  menang, menjadi format pemerintahan yang universal. Fukuyama memakai filsafat sejarah Hegel dan Karl Marx untuk menyimpulkan, progres linier sejarah telah berakhir. Para sejarahwan tidak perlu gusar, dan menganggap studi sejarah telah mati, dan mereka akan kehilangan pekerjaan.

Kegusaran sejumlah penghayat filsafat menunjukkan kegagalan memahami esensi  wacana “matinya filsafat.” Mengingatkan sikap reaktif kaum agamawan memahami pengumuman Nietzsche “Tuhan telah mati”. Sebagaimana kabar kematian Tuhan ala Nietzche, matinya filsafat adalah metafor. Mereka yang nalar tidak akan tersinggung oleh wacana “matinya” paradigma, konsep, atau ide.

Kematian filsafat—sebagaimana kematian Tuhan, ideologi, atau sejarah—adalah soal aktualitas, dan relevansinya dalam paradigma yang sedang berubah. Konsep Tuhan (Judeo-Kristen) tidak lagi aktual setelah munculnya Era Pencerahan di Eropa. Era sains modern, yang didahului munculnya Teori Heliosentris Copernicus, Gravitasi Newton, dan kemudian Teori Evolusi Darwin, menyebabkan konsep Tuhan menjadi terasa kekanakan.

Konsep Tuhan yang ikut campur dalam urusan manusia, sebagaimana diyakini teologi Kristen menjadi tidak relevan dan tidak lagi diperlukan. Bahwa penganut Kristen menolak pengumuman Nietzsche, dan terus berkeyakinan Tuhan masih hidup, sehat wal-afiat dan segar bugar, itu soal lain. Sah-sah saja sebagai keyakinan.

Demikian juga dengan filsafat. Munculnya metode sains modern yang lebih logis (matematis) dan berbasis bukti, membuat konsep filosofis spekulatif, khususnya metafisika, menjadi kurang aktual. Bahkan Heidegger, salah satu filsuf besar metafisika, ikut mengumumkan berakhirnya filsafat dalam tulisan “The End of Philosophy and the Task of Thinking” (1964). Heidegger menulis:

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB
X