• Jumat, 7 Oktober 2022

Optimisme Sains dan Berhala Filsafat

- Senin, 15 November 2021 | 10:35 WIB
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Nubuat retoris GM ini lucu, karena silogisme-nya tidak koheren. Benarkah Elon mengetahui dunia yang (ingin) direngkuhnya? Tentu saja Elon tidak, atau belum, tahu. Elon Musk terobsesi menjelajahi planet Mars, karena ia  ingin tahu seperti apa Mars. Bisakah planet merah ini ditinggali sebagai alternatif Bumi? Bisakah planet mati ini dihidupkan? Upaya penjelajahan ia lakukan karena Ia belum  tahu dan ingin mengetahui. Silogismenya begini: (A) Elon belum tahu Planet Mars,; (B) Elon ingin tahu seperti apa Mars; (C) Maka, Elon terbang ke Mars, agar rasa ingin tahunya terjawab.

Manusia lazimnya hanya tertarik pada sesuatu yang belum diketahui. Perjalanan ke Mars, untuk teknologi penerbangan angkasa luar saat ini, memang terasa “muskil”. Tidak banyak orang yang bernyali untuk mewujudkan kemuskilan itu. Tapi itulah tradisi dunia sains. Bukan cuma berpuas diri dengan pertanyaan atau mencari jawaban dengan berpangku intuisi dan asumsi, menebak-nebak dan berspekulasi. Itu metode filsafat. Sains memiliki optimisme, bahwa alam semesta suatu saat bisa dijelajahi dan diketahui teka-tekinya. Optimisme itu yang membuat sains terus maju berkembang, dan selalu aktual.

Saya mengerti, pertanyaan GM itu “filosofis”. Ia ingin mengajak berpikir “mendalam”, bukan cuma soal teknis-teknologis. Ia ingin mempersoalkan pengetahuan manusia, secara epistemologis-filosofis. Pertanyaan tentang pengetahuan yang pernah menghantui para filsuf besar, sejak era Socrates hingga Descartes (“apa yang bisa saya ketahui”) atau Immanuel Kant (“bagaimana kita tahu”).

Filsafat gemar mempertanyakan segala hal secara semantik, sebagai senam intelektual, mengandalkan rasio—khususnya filsafat aliran rasionalisme dan idealisme. Namun, sebagai mode berpikir, filsafat tidak mampu mengurai persoalan untuk mendapat jawaban definitif yang bisa disepakati.  Sampai munculnya aliran filsafat empirisme dan postivisme, yang kemudian bermetamorfosa menjadi metode sains.

Sains bisa mendapatkan jawaban, karena bisa memilah antara fantasi, asumsi, imajinasi, spekulasi, konsepsi, dengan fakta berbasis bukti. Sains mengakumulasi pengetahuan sebagai kerja bersama umat manusia yang terorganisir.  Sains juga tidak mengenal aliran atau mazhab berpikir (kecuali dalam hal tafsir filosofis fisika kuantum). Saintis mudah menyepakati konsep, temuan, teori yang logis atau terbukti. Metode ini yang tidak dimiliki filsafat. Dalam konteks itulah, filsafat (metafisika) telah “mati”. 

Jika istilah “mati” terasa menyinggung, mungkin bisa dipilih istilah yang lebih spiritual, filsafat telah “moksha”. Untuk mengindikasikan filsafat hanya mengalami sublimasi, menguap dalam molekul sains. Sains telah membuka pemahaman ontologis yang lebih aktual melalui serangkaian teori faktual (Teori Big Bang, multiverse, juga String Theory) yang menyentuh wilayah metafisika.

Dunia kita, 300 tahun terakhir, dibentuk dan didorong oleh kemajuan sains dan teknologi. Pengetahuan sains pada alam semesta dan kehidupan semakin terinci dan valid. Dan pengetahuan itu bukan sekadar agar “tahu”, tapi bisa dimanfaatkan untuk kegunaan praktis. Dari vaksin, smartphone hingga gunting genetik, dari partikel atom, nano-robot, dunia digital, hingga penjelajahan angkasa luar.

Kemajuan peradaban adalah sinonim dari pencapaian akumulasi temuan sains, yang juga berguna memudahkan hidup manusia. Pengetahuan semakin mendetil dan pemahaman terus meluas, banyak teka-teki terus diungkap. Sains adalah penjelajahan wilayah baru untuk pengetahuan baru. Ini optimisme sains, yang membuat hidup terus menarik dan menantang untuk dijalani.

Kerja-kerja sains, alih-alih sekedar ambisi subyektif manusia, adalah refleksi obyektif alam. Quarks dan berbagai partikel atom tidak bertemperamen, molekul dan sel-sel tidak memiliki sentimen, planet dan galaksi tidak berargumen. Atom tidak terhanyut emosi, meskipun fisikawan-partikel yang mengobservasinya sedang murung atau berbinar.

Saat saintis mengobservasi, meneliti, bereksperimentasi, mengukur, dan menghitung gejala alam, problem psike-emosi manusia tidak akan mempengaruhi kinerja alam. Alam semesta menunggu potensi dan teka-tekinya terungkap. Potensi atom yang dahsyat baru diketahui pada 1940, sepuluh tahun kemudian kode genetik kehidupan (DNA) baru dipahami, dua dekade kemudian dunia digital juga terungkap. Hal-hal baru terus ditemukan dan diketahui dengan metode sains. 

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Menjunjung Kebinekaan Kuliner Nusantara

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Prof AA , Beristirahatlah dalam Damai ...

Senin, 19 September 2022 | 09:00 WIB

Surat Terbuka Kepada Menteri Keuangan RI

Sabtu, 3 September 2022 | 08:00 WIB

Neraca Keuangan Minyak Bumi, dan Subsidi Listrik

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 10:30 WIB

Anomali dan Pembodohan Istilah Subsidi BBM

Jumat, 26 Agustus 2022 | 10:00 WIB

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB
X