• Jumat, 7 Oktober 2022

Optimisme Sains dan Berhala Filsafat

- Senin, 15 November 2021 | 10:35 WIB
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Alam semesta dan kehidupan bukan kisah drama sebagaimana rekaan manusia. Alam memiliki hukum yang tidak sesimple soal baik-buruk, halal-haram, dosa-pahala, moral-amoral seperti narasi mitologi, agama, atau filsafat. Narasi produk  pikiran atau harapan subyektif manusia yang merasa istimewa. Alam semesta bukanlah panggung untuk pertunjukan drama manusia.

Berhala Filsafat

Filsafat, mirip agama, sibuk memikirkan tentang keistimewaan manusia (antroposentrisme). Metafisika, etika, estetika, adalah pergulatan manusia untuk memahami dirinya dan memaknai “yang ada”. Filsafat membatasi diri dalam horizon manusia, dan merasa sebagai pengamat dan satu-satunya  entitas “pemberi makna”.

Makna begitu penting bagi manusia, sehingga mengabaikan fakta bahwa alam semesta sudah ada 13,7 miliar tahun, dan kehidupan sudah hadir 4 milyar tahun, sebelum manusia ada. Manusia juga baru memiliki kesadaran (primitif) sekitar 70.000 tahun lalu. dan merumuskan konsep kemanusiaan 5000 tahun lalu. Pengetahuan saintifik ini baru kita miliki 100 tahun terakhir.

Seandainya metode sains tak pernah ada, filsafat akan terus bergulat dengan pertanyaan sama, yang ditanyakan filsuf 2500 tahun lalu (mirip dengan agama yang terpaku pada teks kitab suci, yang ditulis ribuan tahun lalu). Mengapa? Karena filsafat dan agama sibuk hanya menafsirkan pikiran, bukan studi tentang obyek di luar yang manusia pikirkan. 

Mustahil, misalnya, berfilsafat tentang dark energi, dark matter, quasar, lubang hitam, penjelajahan luar angkasa, eksistensi virus, atau adakah kehidupan di exo-planet.  Temuan-temuan sains terbaru sudah pasti berada di luar jangkauan pemikiran filsafat. Selain hanya mempersoalkan konsekuensi etika dan moral.

Filsafat (pernah) terperangkap dalam dualisme berpikir “obyek-subyek”, rasionalis vs empiris, a priori - a posteriori, analytic - synthetic, fenomena - noumena. Perdebatan teoritis tentang “bagaimana kita tahu”, yang tentu menarik pada zamannya. Ketika itu manusia hanya mengandalkan indera dan logikanya yang terbatas. Namun apakah kategori dualistik itu masih relevan dan ada manfaatnya, ketika data dan fakta lebih berbicara, dalam penelitian dan eksperimen saintifik? 

Apakah penjelajahan ke dasar samudra, dan bertemu dengan mahluk-mahluk eksotik laut dalam , yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, perlu dimaknai secara filosofis. Atau pengandaian, jika manusia bertemu mahluk alien yang lebih tinggi peradabannya dari manusia, bagaimana memaknainya? Atau saat konsep Transhuman terwujud, bagaimana filsafat memaknai kemanusiaan? Apakah Transhuman adalah “overman” yang pernah dibayangkan Nietzsche? 

Dan benarkah manusia adalah “animal rationale” dan “animal metaphysicum”. Bagaimana menjelaskan begitu banyak irasionalitas yang dilakukan manusia? Problem filsafat adalah, horisonnya sebatas logika antroposentrik manusia. Agar aktual dan relevan filsafat perlu bersandar pada sains kontemporer. Misalnya, Teori Relativitas sebagai metafisika konsep waktu; fisika kuantum adalah “noumena” dibalik fenomena; biologi evolusioner adalah metafisika dibalik kehidupan.

Filsafat adalah upaya mencari wisdom, cinta kebijaksanaan. Sumbangan filsafat sudah tercatat, perdebatan filsafat di masa lalu ikut memberi  pondasi yang solid bagi epistemologi dan metode sains modern. Dengan segala pretensius pemikirannya, filsafat juga memiliki sejumlah kenaifan, yang mencerminkan kesederhanaan pemikiran di masa lalu. Filsafat juga soal egosentrisme para filsuf sebagai manusia. 

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Menjunjung Kebinekaan Kuliner Nusantara

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Prof AA , Beristirahatlah dalam Damai ...

Senin, 19 September 2022 | 09:00 WIB

Surat Terbuka Kepada Menteri Keuangan RI

Sabtu, 3 September 2022 | 08:00 WIB

Neraca Keuangan Minyak Bumi, dan Subsidi Listrik

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 10:30 WIB

Anomali dan Pembodohan Istilah Subsidi BBM

Jumat, 26 Agustus 2022 | 10:00 WIB

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB
X