• Jumat, 7 Oktober 2022

Optimisme Sains dan Berhala Filsafat

- Senin, 15 November 2021 | 10:35 WIB
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Konsep “dasein” Heidegger, misalnya, hanya istilah yang berbeda dari konsep ide (Plato), atau substansi (Aristoteles), Tuhan (Descartes), das ding ansich (Kant), Roh Absolut (Hegel), kesadaran (Husserl) dan seterusnya. Konsep-konsep filsafat seringkali adalah pengulangan, reformulasi, dari gagasan lama. Kecenderungan satu filsuf untuk menegasi pemikiran filsuf lain, dan merasa pikirannya lebih benar dan orisinil, adalah karakteritik filsafat. Sikap kritis dan skeptis, harus berbeda terhadap apapun dan siapapun, adalah modus pesimisme filsafat.

Sains bersikap kritis dan skeptis sebagai metode, bukan modus. Fakta, temuan, dan teori sains yang valid mudah disepakati, karena bukti obyektif tidak membuka peluang bagi sentimen egoisme saintis. Sains bersifat optimis, selalu berupaya membuktikan hipotesa dan menjawab rasa ingin tahu.

Jika Elon Musk optimis, itu karena ia berparadigma sains. Elon tidak akan jadi Elon jika ia mendalami filsafat, berasyik-masuk dengan berbagai pertanyaan atau keraguan yang seringkali absurd. Elon jelas tidak memberhalakan sains, sebagaimana para pembelajar sains. Tidak ada ritual menyembah roket angkasa, atau melantunkan ayat-ayat suci hukum gravitasi. Semua upaya saintifik dilakukan dengan kecerdasan dan kerja keras. 

Elon juga tak perlu melakukan ritual bertanya, laiknya penghayat filsafat — seperti GM yang gemar mengutip Heidegger. Pertanyaan seperti, apakah maknanya makna; apakah ketiadaan itu ada; apakah tahu itu mengetahui. Berbagai pertanyaan reflektif (dan sebagian absurd) itu sudah beribu-ribu tahun dipertanyakan filsuf. Pembelajar sains, yang umumnya juga membaca filsafat, tidak perlu memberhalakan pertanyaan.

Namun, tentu tidak soal, jika ada orang yang memilih memberhalakan filsafat (sebagaimana banyak orang memberhalakan agama). Bercengkerama dengan absurditas dan kebingungan, atas nama filsafat. Tidak masalah jika penghayat fundamentalis filsafat ingin memberhalakan teks-teks lama filsafat. Selalu mengutip atau menyitir ungkapan, aforisme, antinomi, konsep-konsep filsafat untuk mendapatkan petunjuk. Sehingga bisa merengkuh “pengetahuan dan kebenaran hakiki.” Jika memang beneran ada.

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Menjunjung Kebinekaan Kuliner Nusantara

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Prof AA , Beristirahatlah dalam Damai ...

Senin, 19 September 2022 | 09:00 WIB

Surat Terbuka Kepada Menteri Keuangan RI

Sabtu, 3 September 2022 | 08:00 WIB

Neraca Keuangan Minyak Bumi, dan Subsidi Listrik

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 10:30 WIB

Anomali dan Pembodohan Istilah Subsidi BBM

Jumat, 26 Agustus 2022 | 10:00 WIB

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB
X