• Minggu, 2 Oktober 2022

Mati Rasa Bahasa Edy Mulyadi

- Jumat, 4 Februari 2022 | 10:00 WIB
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com

Oleh: Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta

Watyutink.com - Mencermati hiruk-pikuk masyarakat dalam menanggapi pernyataan Edy Mulyadi, menunjukkan bahwa bahasa, selain mengandung berbagai tafsir, juga memiliki dimensi rasa. Setiap kata yang disusun oleh penulis atau diucapkan oleh penutur akan mengandung dimensi rasa yang mempengaruhi tafsir terhadap kata yang ditulis dan diucapkan. Satu kata atau kalimat yang sama dapat melahirkan tafsir dan respon yang berbeda karena adanya perbedaan rasa bahasa.  

Rasa bahasa ini tercermin dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Misalnya, dalam kata “kamu” tidak hanya didefinisikan sebagai sapaan terhadap orang yang diajak bicara atau disapa, tetapi juga diberi keterangan dalam kurung di belakang definisi tersebut; “dalam ragam akrab atau kasar”. Keterangan ini menunjukkan adanya rasa bahasa dalam kata “kamu”. Artinya kata “kamu” bisa memiliki rasa akrab dan kasar, tergantung konteksnya.

Adanya dimensi rasa dalam bahasa ini menuntut seseorang memiliki kepekaan dalam menggunakan bahasa, terutama dalam masyarakat yang beragam dan sarat dengan kepentingan politik. Dalam konteks rasa bahasa ini Dell Hymes (1978) mengingatkan agar selalu memperhatikan beberapa komponen tutur dalam menggunakan bahasa, baik lisan maupun tulisan. Beberapa komponen tutur tersebut adalah: pertama, waktu dan tempat terjadinya komunikasi; kedua, orang yang terlibat dalam komunikasi; ketiga, tujuan yang ingin dicapai; keempat, bentuk pesan yang ingin disampaikan; kelima cara menyampaikan pesan termasuk gaya bahasa dan gestur saat menyampaikan pesan; keenam norma, pranata sosial dan perilaku partisipan dalam berkomunikasi dan ketujuh ragam gaya bahasa dan cara penyampaian; ragam formal, santai, provokatif dan sebagainya.

Merujuk pada tujuh komponen tutur yang disebutkan Hymes, akan terlihat adanya perbedaan rasa bahasa antara Edy Mulyadi sebagai penutur dengan masyarakat Kalimantan atas kalimat “tempat jin buang anak, pasarnya kuntilanak dan genderuwo”. Perbedaan rasa ini terjadi karena adanya perbedaan waktu dan tempat. Kalimat “jin buang anak, genderuwo dan kuntilanak” akan memiliki rasa berbeda ketika diucapkan saat ngobrol di warung kopi (ngariung) dengan saat memberikan statemen politik. Orang yang terlibat dalam komunikasi tersebut jelas orang-orang politik (oposisi) sehingga rasa kalimat tersebut juga berbeda saat diucapkan oleh orang biasa dalam obrolan sehari-hari. Tujuan yang ingin dicapai saat kalimat tersebut diucapkan oleh Edy juga berbeda dengan tujuan orang yang sedang ngariung. Cara menyampaikan pesan dan gestur saat menyempaikan pesan serta ragam bahasa yang digunakan Edy jelas berbeda dengan orang-orang yang menyebut kata jin buang anak saat ngobrol santai ngariungan.

Perbedaan-perbedaan inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan rasa bahasa yang berujung pada munculnya perbedaan tafsir terhadap kalimat “tempat jin buang anak, genderuwo dan kuntilak” yang diucapkan oleh Edy Mulyadi. Penggunaan kalimat “tempat jin buang anak” ini sama dengan kata “diancuk” untuk masyarakat Surabaya. Kata "diancuk" bisa dapat bermakna sebagai simbol keakraban yang dapat menumbuhkan rasa dekat dan bersahabat jika diucapkan oleh teman sebaya dengan gaya bahasa dan konteks tertentu. Sebaliknya “diancuk” dapat mejadi makian yang melahirkan rasa terhina dan nista bagi seseorang atau kelompok jika diucapkan dalam konteks, gaya bahasa, tujuan dan kelompok tertentu.  

Atas dasar ini maka Edy tidak dapat memaksakan tafsirya ketika ada sekelompok orang yang memiliki tafsir dan respon berbeda atas ucapannya, Ini terjadi karena adanya perbedaan rasa bahasa. Dia tidak dapat berdalih bahwa itu kalimat yang biasa diucapkan untuk candaan, sehingga merupakan sesuatu yang wajar dan biasa saja. Rasa bahasa tidak dapat dipaksakan karena terkait dengan konstruksi budaya dan psikologi sosial masyarakat yang menjadi subyek dan obyek bahasa.

Rasa bahasa ini juga terkait dengan etika bahasa yaitu kesantunan dalam berbahasa. Grice (2000; 362), memberikan beberapa indikator kesantunan bahasa; pertama, ketika berbicara harus menjaga martabat mitra tutur atau obyek agar mereka tidak merasa dipermalukan. Dengan kata lain berbicara dengan mengabaikan martabat mitra baik individu maupun kelompok adalah berbahasa yang tidak santun, apalagi sampai menuding-nuding dengan suara kencang dan menyebut dengan sebutan yang tidak pantas. Berpijak pada katagoti ini, apa yang diperagakan oleh Edy Mulyadi, sebagaimana terlihat  di medsos, sangatlah tidak sopan, meskipun hal itu dilakukan dengan niat dan tujuan baik.     

Kedua, saat berkomunikasi, tidak boleh menyebut hal-hal yang kurang baik mengenai diri mitra tutur atau pihak lain yang menjadi obyek pembicaraan. Bahkan menyebut barang atau hal-hal negatif lain yang terkait dengan mitra tutur dan obyek tutur tidak boleh dilakukan. Pernyataan Edy yang menyebut “jenderal meong” kepada seorang menteri jelas melanggar kesantunan bahasa. Sebutan bernada peyoratif seperti ini tidak layak diucapkan terhadap seorang rakyat jelata, apalagi terhadap seorang menteri.

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Menjunjung Kebinekaan Kuliner Nusantara

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Prof AA , Beristirahatlah dalam Damai ...

Senin, 19 September 2022 | 09:00 WIB

Surat Terbuka Kepada Menteri Keuangan RI

Sabtu, 3 September 2022 | 08:00 WIB

Neraca Keuangan Minyak Bumi, dan Subsidi Listrik

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 10:30 WIB

Anomali dan Pembodohan Istilah Subsidi BBM

Jumat, 26 Agustus 2022 | 10:00 WIB

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB
X