• Kamis, 8 Desember 2022

Mati Rasa Bahasa Edy Mulyadi

- Jumat, 4 Februari 2022 | 10:00 WIB
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com

Ketiga, tidak boleh mengungkapkan perasaan mitra tutur secara eksplisit, baik perasaan senang atau susah. Dalam konteks pemindahan Ibu kota, Edy berhak menyampaikan opini, perasaan dan sikapnya, tetapi tidak dengan cara mengungkap perasaan pihak lain. Apalagi jika perasaan itu ternyata tidak sejalan dengan kemauan dan perasaan Edy sebagai penutur.

Keempat, tidak boleh menyatakan ketidaksetujuan terhadap mitra tutur secara frontal dan vulgar sehingga mitra tutur merasa jatuh harga dirinya. Dalam kasus Edy Mulyadi, dia tidak saja menyampaikan pernyataan secara vulgar dan frontal, tetapi juga kasar bahkan cenderung menista. Misalnya dengan menyebut kalimat “kalau pasarnya kuntilanak sama genderuwo, ngapain buat bangun ke sana” atau pernyataan “masak Menteri Pertahanan kayak begini aja gak ngerti. Menteri bertahanan jenderal bintang tiga. Macan ngeong menjadi kayak mengeong, nggak ngerti begini aja”. Ini jelas pernyataan yang sarkastik dan kasar. Tidak saja menyinggung tetapi dapat membuat seseorang merasa dinistakan.

Kelima, dalam berbahasa tidak boleh memuji diri sendiri atau membanggakan kelebihan dan nasib baik diri sendiri atau kelompoknya. Pernyataan Edy “mana mau dia tinggal di Gunung sahari pindah ke Kalimantan, Penajam sana untuk beli rumah di sana” merupakan bentuk kalimat yang membanggakan diri dan kelompoknya yang tinggal di Jakarta sebagai kelompok elite dan hidup enak. Sementara dia memandang orang-orang yang tinggal di Kalimantan, Penajam adalah orang-orang terbelakang dan rendah. Pernyataan ini jelas melanggar kriteria kesantunan.

Jelas di sini terlihat, pernyataan Edy mengenai perpindahan ibu kotta negara ke Kalimantan bertentangan dengan kriteria kesopanan bahasa yang dirumuskan oleh Grice. Bisa dipahami kalau bahasa yang diucapkan Edy mendapat respon keras dari masayrakat Kalimantan karena dianggap melecehkan dan menista.

Terkait dengan rasa bahasa ini, Nabi telah mewanti-wanti agar umat Islam menjaga lisan dan berkataan. Dalam salah satu hadits Nabi menyatakan: man kaana yu’minuna billahi wal yaumil akhir, fal aqul khairan au liyashmut (barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaknya dia berkata baik atau diam). Pesan Nabi ini mensyiratkan bahwa perkataan (bahasa) itu memiliki rasa. Perkataan atau bahasa yang baik akan menimbulkan perasaan damai yang dapat menumbuhkan kebaikan, demikian sebaliknya. Oleh karenanya jika seseorang tidak dapat berkata (berbahasa) baik, mengabaikan rasa dalam berbahasa, maka oleh Nabi diperintahkan diam.

Apa yang diucapkan oleh Edy Mulyadi merupakan cermin bagaimana berbahasa yang mengabaikan rasa. Dengan kata lain Edy telah memperagakan bahasa yang mati rasa. Akibatnya dapat menimbulkan kegaduhan yang memancing timbulnya kemudaratan. Berbahasa yang tuna rasa atau mati rasa sebagaimana yang dilakukan Edy Mulyadi akan sangat berbahaya karena dapat menimbulkan luka yang memancing huru-hara.

Sebagai seorang yang mengaku wartawan senior mestinya Edy mengerti soal rasa bahasa. Kalau dia benar-benar mengerti rasa bahasa dan dia mengabaikannya maka perlu dipertanyakan apa motif dia menggunakan bahasa yang mengabaikan rasa. Sebaliknya kalau dia tidak memahami adanya rasa bahasa dalam bertutur kata, maka perlu dipertanyakan kredibilitasnya sebagai seorang wartawan senior. Terlepas dari semua itu, pengabaian rasa bahasa dalam bertutur kata merupakan cermin kebiadaban dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah mati rasa.

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

COP27 dalam Pusaran Polikrisis

Sabtu, 19 November 2022 | 16:30 WIB

Debat di Konferensi Iklim Mesir

Sabtu, 12 November 2022 | 18:00 WIB

Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi

Sabtu, 5 November 2022 | 09:00 WIB

Jelang COP27 – KTT Iklim Mesir

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Climate TRACE

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Menyongsong 2030, Indonesia Perlu Pemimpin Ekonom

Rabu, 19 Oktober 2022 | 12:30 WIB

Strategi Antitesis Versus Membebek, Sah dan Bagus

Sabtu, 15 Oktober 2022 | 19:15 WIB

24 Hours of Reality

Sabtu, 8 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Teori Permainan dan Politik Copras-Capres

Jumat, 7 Oktober 2022 | 15:05 WIB

Menjunjung Kebinekaan Kuliner Nusantara

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Prof AA , Beristirahatlah dalam Damai ...

Senin, 19 September 2022 | 09:00 WIB
X