• Jumat, 7 Oktober 2022

AS, Krisis Ukraina dan Kebohongan Internasional

- Senin, 28 Maret 2022 | 16:30 WIB
Ilustrasi watyutink  (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Usul Rusia untuk masuk NATO ditolak berkali-kali, tapi tetangga Rusia justru ditarik masuk NATO satu per satu, 13 negara sampai 2017. Apa artinya? Pada 2007 Putin menyatakan bahwa NATO sengaja melakukan provokasi keamanan. Jika pada 1999 NATO menyerang sepihak Yugoslavia dan Kosovo, Putin pun menyerang Georgia pada 2008.

Krisis, Concealment dan spinning

Krisis Ukraina sekarang punya akar panjang. Pada 2004 Revolusi Oranye meletus, dipicu oleh demonstrasi menentang kemenangan Yanukovych yang pro-Rusia dengan alasan kecurangan pemilu. Lalu Yushchenko dukungan AS diangkat menjadi presiden. Protes keras pun meledak dari etnis Rusia di wilayah timur.

Konflik ini tak pernah benar-benar reda dan kembali meletus pada 2014 ketika Yunukovych kembali naik dan digulingkan lagi. Rusia pun mengintervensi dengan mencaplok Krimea dengan dalih melindungi etnis Rusia yang hampir sepertiga populasi Ukraina. Dalih itu pula yang dipakai Putin sekarang.

Jelas, Putin itu otoriter, korup dan kerap mengabisi lawannya dengan segala cara. Rakyat Rusia pun makin banyak yang melawannya. Ia harus dikutuk dunia. Itulah yang terus diangkat Joe Biden dan para pemimpin serta media Barat. Seakan krisis Ukraina sepenuhnya adalah kesalahan Putin. Kebohongan dan kesalahan NATO ditutup rapat.

Inilah concealment, tindakan menutupi kebenaran dengan mengangkat hanya hal-hal yang menguntungkan sambil mengubur hal-hal yang merugikan. Klaim Putin bahwa invasinya adalah demi melindungi etnis Rusia juga adalah concealment.

Jenis kebohongan ketiga adalah spinning, pelintiran kebenaran. Yaitu, cerita, fakta dan pernyataan yang sengaja dirancang untuk menggiring agar publik menarik kesimpulan yang tak sesuai kenyataan.

Jika perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel selalu dipelintir sebagai gerakan terorisme, tindakan AS di balik NATO di Eropa Timur selalu dibingkai sebagai proyek demokrasi.

Dengan dalih mengusung demokrasi, intervensi AS di negara lain, dari rekayasa politik di Ukraina hingga kekerasan militer seperti di Afganistan dan Timur Tengah selalu dipandang mulia. Intervensi lawan AS di negara lain dilihat sebagai kejahatan.

Sikap Indonesia

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Menjunjung Kebinekaan Kuliner Nusantara

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Prof AA , Beristirahatlah dalam Damai ...

Senin, 19 September 2022 | 09:00 WIB

Surat Terbuka Kepada Menteri Keuangan RI

Sabtu, 3 September 2022 | 08:00 WIB

Neraca Keuangan Minyak Bumi, dan Subsidi Listrik

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 10:30 WIB

Anomali dan Pembodohan Istilah Subsidi BBM

Jumat, 26 Agustus 2022 | 10:00 WIB

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB
X