• Senin, 15 Agustus 2022

Dua Dunia: Klenik dan Saintifik

- Selasa, 29 Maret 2022 | 11:30 WIB
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Oleh: Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis

Watyutink.com - Apakah dunia memungkinkan adanya dua sistem cara kerja (operating system), klenik dan saintifik, yang bisa berjalan beriringan secara otonom dan sama-sama faktual? 

Pertama, dunia klenik, berisi segala dewa, jin, setan, takhyul, mukjizat, dan hal-hal ghaib yang tidak teramati indera. Dunia yang tidak bisa dideteksi atau diidentifikasi secara empiris. Namun, konon, bisa diamati atau dimasuki oleh orang-orang yang mengaku memiliki ilmu khusus, seperti saman, dukun, indigo, “orang pintar”, pawang, dan sejenisnya. Dunia  yang tidak bisa divalidasi, hanya bisa dialami secara personal, sebagai keyakinan.

Kedua, dunia saintifik. Jagat empiris yang mudah terlihat oleh indera atau bisa diidentifikasi oleh alat dan teknologi. Dunia nyata yang bisa diukur, dihitung, dikuantifikasi berbasis teori sains atau hukum alam yang bisa divalidasi dan dibuktikan faktualitasnya. Dunia universal yang tidak peduli, tetap benar dan berlaku, baik seseorang meyakini atau tidak.

Bagi Raden Roro Istiati Wulandari (Rara), yang mendaku diri sebagai “pawang hujan”, dua sistem dunia—klenik dan saintifik—itu bisa berjalan bersamaan. Ia menggunakan jargon sains-teknologi untuk untuk menamai dan menjelaskan kemampuan ghoib-nya. 

Pada profil media sosialnya, Rara menamai diri sebagai “cloud engineer”. Dalam sejumlah wawancara, ia mengklaim memiliki lisensi dari Tuhan atau dewa-dewa bisa menggeser awan melalui cawan “remote control” nya. Ia menganalogikan langit sebagai ruangan ber-AC yang bisa dikondisikan temperaturnya, atau menyetel hujan lebat menjadi gerimis. Selain memakai remote control, ia juga bisa memindah awan dengan menggunakan “gelombang otak”.

Klaim Rara, yang mencengangkan ini, tentu harus dianggap sekedar promosi diri, laiknya penjual obat pinggir jalan. Tidak penting validitas atau faktualitasnya, “believe it or not”. Jika ada yang penasaran, serius ingin menguji kemanjuran “kepawangannya” cukup mudah caranya. Dengan uji bukti, meminta Rara memindahkan, atau menggerimiskan, hujan lebat, seminggu berturut-turut di satu lokasi yang diketahui curah hujannya tinggi pada bulan Desember atau Januari.  

Jika Rara bisa melakukan itu, ia layak dinominasikan untuk mendapat Hadiah Nobel bidang fisika dan kimia sekaligus. Kemampuan memanipulasi konfigurasi elemen atom dan molekul air hujan melalui gelombang otak, gesekan cawan, teriakan, komat-kamit, atau remote control imajinernya, jelas menakjubkan. Dunia wajib terpesona pada Rara.

Namun, uji bukti praktik klenik tidak bakal bisa dilakukan. Selalu ada dalih dan alasan kemustahilan. Dewa-dewa atau roh-roh fasilitator terjadinya fenomena klenik bakal menolak bekerjasama. Mereka terlalu pemalu untuk bersedia menjadi obyek penyelidikan atau berada dalam sorotan kamera. Mereka tidak bakal bersedia diwawancarai, juga tidak berminat menjadi YouTuber atau memonetize keghoibannya. Praktik klenik cukup dipercayai, bukan untuk dibuktikan. Kita juga tidak perlu membuktikan kebenaran cerita komik “Avatar: The Last Airbender”, kisah tentang orang-orang yang mampu memanipulasi elemen alam, air, api, tanah, dan udara. 

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB
X