• Senin, 15 Agustus 2022

Refleksi Trisakti Bagi Bangsa Indonesia

- Rabu, 30 Maret 2022 | 11:00 WIB
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com

 

Oleh: YB. Suhartoko, Dr., SE., ME
Dosen Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan dan Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya Jakarta

Watyutink.com - Trisakti merupakan jargon warisan yang luar biasa bagi bangsa Indonesia. Konsep Trisakti ini dikemukakan oleh Bung Karno pada tahun 1963. Konsep Trisakti merupakan buah pemikiran dari visi pemikiran Bung Karno, mengenai Indonesia yang kuat dalam bidang politik, ekonomi dan budaya. Isi dari Trisakti adalah pertama Berdaulat di Bidang Politik, kedua Berdikari di Bidang Ekonomi dan ketiga Berkepribadian dalam budaya.

Bung Karno memandang dan berpikir ke depan, dunia yang saat ini terjadi adalah dunia yang semakin tanpa sekat, tanpa batas yang jelas antar negara, pengurangan aturan antar negara serta berbagai kondisi yang pada akhirnya memunculkan globalisasi. Ketidakseimbangan daya tawar antar negara sebagai konsekuensi pasar dunia yang oligopolis dan ketidakseimbangan penguasaan kelembagaan dunia serta tidak adanya filter yang kuat sebagai wujud kemauan politik, ekonomi dan budaya yang kuat akan semakin memperlemah posisi tawar suatu negara dan tentu saja kedaulatan negara.

Konsep Trisakti merupakan konsep yang luar biasa, namun dalam implementasinya masih jauh panggang dari api, sehingga negara yang berdaulat di bidang politik, rakyat yang mandiri sejahtera dalam bidang ekonomi dan rakyat yang berkepribadian dalam kebudayaan belum terwujud dan masih jauh dari cita-cita pendiri bangsa ini. Fenomena-fenomena  yang terjadi yang berkaitan dengan masih jauhnya implementasi Trisakti  masih ada dan bahkan tumbuh subur sampai saat ini. 

Dalam upaya meningkatkan kekuatan militer dengan memperkuat alutsista saja sangat tergantung terhadap negara lain, walaupun dalam posisi sebagai pembeli. Sebagai pembeli pun tetap saja dibebani beberapa syarat oleh produsen yang mau tidak mau harus dipenuhi. Belum lagi diciptakan ketergantungan dalam pemeliharaan, suku cadang dan pembayaran. Dalam pasar ini, pembeli berada dalam pasar yang cenderung monopoli atau oligopolis sebagai cerminan kartel produsen, yang bukan saja dapat mengatur harga, tetapi segalanya. Produsen tidak hanya satu, beberapa produsen mempunyai kepentingan yang seringkali berbenturan secara politik barangkali bisa menjadi celah meningkatkan daya tawar.

Empat puluh sampai dengan lima puluh tahun yang lalu dalam pelajaran ilmu kewarganegaraan, seringkali muncul pertanyaan mengenai makanan pokok suku-suku di Indonesia. Sebagai contoh apa makanan pokok Suku Jawa? Dijawab padi. Apa makanan pokok Suku Papua, Maluku? Dijawab sagu, apa makanan pokok Suku Madura? Dijawab jagung. Pertanyaannya, apakah pertanyaan tersebut masih relevan ditanyakan saat ini? Makanan pokok sudah seragam yaitu padi, namun yang menjadi pertanyaan refleksinya adalah keadaan ini terjadi sebagai unsur kesengajaan yang diarahkan oleh pihak-pihak yang diuntungkan atau unsur ketidaksengajaan karena sifat pragmatis saja. Jika diversifikasi makanan pokok masih terjadi sampai saat ini, paling tidak kedaulatan pangan masih dapat terjaga dengan mengandalkan potensi pangan yang ada di setiap daerah. 

Masih dalam hal pangan dan produksi makanan. Dalam teori ekonomi dasar, produksi merupakan fungsi atau dipengaruhi oleh keberadaan faktor produksi. Salah satu faktor produksi adalah bahan baku. Sudah layak dan sepantasnya output yang dihasilkan oleh suatu negara berdasarkan bahan baku yang dihasilkan negara tersebut. Namun demikian, sungguh sangat ironis produksi mie instan dan makanan olahan lain di Indonesia didominasi oleh produk yang berbahan baku gandum. Walaupun produksi makanan berbahan baku gandum dari Indonesia sudah mendunia, namun tidak mencerminkan kedaulatan pangan. Jika pada suatu saat terjadi pengurangan impor gandum dari negara produsen, maka akan menyebabkan dampak ekonomi yang lebih luas berkaitan dengan ketenagakerjaan, hubungan penggunaan input-ouput dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi. Nampaknya ke depan perlu didorong para pengusaha makanan olahan untuk memproduksi makanan olahan yang berbahan baku, di mana secara domestik bisa dihasilkan.

Dalam hal makanan lain seperti tempe, tahu dan kecap yang selama ini dikenal sebagai makanan tradisional dan sulit dipisahkan dari kelengkapan makanan, sehingga ketika ketersediaan bahan bakunya terganggu dapat menimbulkan gejolak ekonomi. Pada umumnya produksi tempe, tahu dan kecap berbahan baku kedelai. Pertanyaan tahu refleksinya adalah apakah produksi kedelai di Indonesia mampu memenuhi kebutuhan untuk pembuatan tempe, kecap dan bahan makanan berbahan kedelai. Kenyataannya impor kedelai semakin besar, yang berarti ketergantungan terhadap negara produsen kedelai semakin besar. Butuh waktu untuk berdaulat dalam bahan baku kedelai, karena untuk meningkatkan produksi butuh waktu dan apakah tanah di Indonesia cocok untuk ditanami kedelai. Dalam hal produksi, upaya mengalihkan produksi yang berbahan baku non kedelai secara signifikan juga membutuhkan waktu, demikian juga dalam merubah selera konsumen.

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB
X