• Rabu, 10 Agustus 2022

Inflasi Momok Jelang Puasa

- Kamis, 31 Maret 2022 | 19:10 WIB
Ilustrasi Muid/ Watyutink.com
Ilustrasi Muid/ Watyutink.com

Watyutink.com – Setelah puasa laba dalam dua tahun terakhir akibat didera pendemi Covid-19, para pengusaha dan pedagang mencoba meraup keuntungan dari kedatangan bulan suci Ramadan, waktu dimana konsumsi masyarakat diperkirakan meningkat signifikan, menyusul pelonggaran kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh pemerintah.

Pengusaha makanan dan minuman sudah lebih dulu curi start jauh sebelum Ramadan tiba dengan menghipnotis masyarakat betapa nikmatnya jika sahur atau berbuka mengkonsumsi produk mereka. ‘Penyadaran’ (awareness) tersebut dijejalkan melalui Iklan-iklan di media elektronik, media cetak, dan media sosial.

Tujuan akhir dari ‘penyadaran’ tersebut jelas, yakni meningkatnya penjualan produk mereka. Pendapatan ekstra pada bulan Ramadan kali ini diharapkan bisa mengkompensasi penerimaan yang merosot tajam dalam dua tahun terakhir.

Semakin banyak penjualan mereka pada Ramadan kali ini, maka kerugian semakin cepat dapat ditutup. Tak hanya jumlah yang menjadi target kenaikan, harga pun ikut ‘disesuaikan’ dengan alasan meningkatnya permintaan. Tak pelak harga barang-barang di pasar merangkat naik.

Tak mengherankan jika inflasi pada bulan ini diperkirakan meroket dan akan menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Selain inflasi bulanan, konsensus pasar yang dihimpun oleh sejumlah media ekonomi menunjukkan adanya kenaikan inflasi tahunan secara signifikan. Pada Maret, inflasi secara tahunan diperkirakan menembus 2,6 persen.

Sejumlah barang yang belakang ini meningkat harganya menjadi penyumbang inflasi, terutama yang berkaitan dengan bahan makanan yang menjadi kebutuhan rumah tangga seperti telur dan daging ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, gula pasir, tahu, tempe, dan daging sapi. Ditambah lagi dengan emas perhiasan, sabun detergen bubuk/cair, angkutan udara, jeruk, hingga rokok kretek filter.

Maret adalah musim panen raya dimana biasanya inflasi rendah. Namun kali ini sebaliknya, karena dekat dengan kedatangan bulan Ramadan yang jatuh pada awal April, dampak perang Rusia-Ukraina, dan melejitnya harga minyak goreng.

Pada pertengahan Maret pemerintah memutuskan untuk melepas harga minyak goreng sesuai mekanisme pasar dan menghapus ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET). Jika sebelumnya pemerintah menetapkan HET minyak goreng kemasan senilai Rp14.000 per liter, begitu harganya dilepas ke pasar, melonjak ke kisaran Rp25.000 per liter.

Perang Rusia-Ukraina yang dimulai Februari lalu memicu lonjakan harga energi seperti minyak dan gas, menyeret harga komoditas pangan dan energi di tingkat global ke level yang lebih tinggi. Peningkatan harga energi membuat harga BBM non-subsidi ikut naik. Pertamina pun lantas menaikkan harga penjualannya untuk Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex pada awal Maret yang berdampak pada peningkatan biaya transportasi.

Halaman:

Editor: Sarwani

Tags

Terkini

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB
X