• Senin, 15 Agustus 2022

Menipisnya Empati dan Akhlak Beragama

- Jumat, 1 April 2022 | 14:00 WIB
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Oleh: Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta

Watyutink.com - Beredar gambar, baik yang berupa video maupun foto, di media sosial (medsos) beberapa orang yang mengaji (membaca Al-Qur’an di jalanan Malioboro Yogya. Dalam gambar itu terlihat, orang-orang yang mengaji itu menduduki beberapa fasilitas umum, ada yang duduk di bangku jalan baca Al-Qur’an, duduk bergerombol di trotoar sambil baca kitab, ada juga yang berbaris sambil baca sholawat, sehingga mengokupasi (menduduki) sebagian fasilitas publik yang ada di jalan Malioboro Yogya. Peristiwa ini langsung memancing perhatian publik dan menimbulkan perdebatan di dunia maya.

Pengamatan penulis terhadap komentar di medsos menunjukkan nitizen yang kontra mengkritik tindakan tersebut sebagai sikap riya’ (pamer) ibadah, karena melakukan ibadah di tempat publik. Beberapa menyebut kejadian itu sebagai bentuk arogansi iman, unjuk kekuatan agama dengan mengokupasi fasilitas umum. Ada yang mengkritik tindakan tersebut dengan kalimat satire yang komedik; kaki lima digusur, kadrun datang, Yogya berhati Yaman (plesetan dari tagline “Yogya berhati nyaman”.

Sedangan nitizen yang pro menyatakan bahwa itu perbuatan baik yang perlu dicontohkan di depan publik, menjadi bagian dari syiar Islam. Tindakan itu kan hanya beberapa waktu paling hanya 20 menit jadi tidak mengganggu kepentingan publik. Sebagaimana dijelaskan Abah Narko bahwa peristiwa itu hanya berlangsung 10 menitan, sebagai bentuk syukur atas keberhasilan mendistribusikan 10 ribu lebih Al-Qur’an di Yogya. Ada juga yang berkomentar, tindakan itu hanya masalah kecil, hal biasa yang tidak perlu dibesar-besarkan.

Jika dilihat secara sepintas ini memang masalah kecil tapi jika dicermati secara mendalam, masalah kecil ini bisa berdampak serius karena terkait dengan persoalan yang serius. Penulis melihat apa yang terjadi di Maliboro sebagai fenomena menipisnya empati umat beragama. Sekelompok umat merasa memiliki privelese sehingga dapat menggunakan fasilitas umum seenaknya. Apa yang menurut mereka dianggap sebagai kebaikan harus disampaikan dengan segala cara agar dapat diterima publik, sekalipun harus mengorbankan kepentingan publik. Mereka tidak mau peduli bahwa kebaikan yang mereka persepsikan itu bersifat sektarian, tidak universal, sehingga tidak bisa diterima oleh publik yang lain.

Sebagaimana kita dengar, banyak umat lain yang kesulitan mendirikan tempat ibadah dengan berbagai alasan. Umat lain juga kesulitan melaksanakan ibadah karena tidak memiliki tempat ibadah. Akibatnya banyak di antara mereka yang melakukan ibadah di ruko, di rumah atau tempat lain yang bukan tempat ibadah. Itu pun harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena jika ketahuan akan digrebeg dan dibubarkan dengan tuduhan melakukan ibadah bukan di tempat ibadah, tidak ada izin dan sebagainya. Bahkan ada yang sudah mendapat izin sekali pun belum tentu dapat beribadah secara leluasa karena alasan lingkungan.

Di tengah suasana tertekan yang dirasakan oleh umat lain, umat Islam dengan seenaknya menjalankan ibadah di tempat publik tanpa izin. Dan anehnya mereka merasa bangga dengan apa yang mereka lakukan karena dapat menyebarkan kebaikan yang mereka yakini secara demonstratif bahkan sampai menduduki fasilitas umum. Mereka memiliki tempat ibadah berlebih yang dapat digunakan kapan saja dan di mana saja. Saling banyaknya tempat ibadah yang mereka miliki, beberapa di antara banyak yang kosong dan sepi, hanya digunakan pada momen tertentu. Tapi anehnya mereka tetap saja beribadah di jalanan dan membiarkan tempat ibadah mereka kosong dan sepi. Inilah yang saya maksud fenomena menipisnya empati beragama umat beragama.

Kedua, peristiwa mengaji di jalanan Maliboro ini juka mengindikasikan rendahnya beragama umat beragama (Islam). Islam memang membutuhkan syiar, dan mensyiarkan Islam juga merupakan perintah agama. Tetapi Islam melarang mensyiarkan Islam dengan cara mengganggu kepentingan publik. Artinya syiar Islam harus dilakukan secara beradab dengan memperhatikan kepentingan publik. Bahkan dalam beribadah sekali pun umat Islam diwajibkan tetap menjaga akhlak dan memperhatikan kepentingan kepentingan publik.

Salah satu ajaran etika yang harus dijaga oleh umat Islam adalah menghormati hak para pejalan kaki, sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadits dari Abi Said al-Khudri, yang menjelaskan Nabi melarang para sahabat duduk-duduk di jalan agar tidak menyakiti atau menggangu hak para pemakai jalan. Hadits ini secara tegas menunjukkan etika Islam terhadap hak publik. Banyak ayat Al-Qur’an dan hadits yang memenritahkan pemeluknya untuk menghrmati hak-hak publik.

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB
X