• Jumat, 9 Desember 2022

Kebijakan Tak Solid Ancam Pertumbuhan

- Jumat, 8 April 2022 | 10:10 WIB
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com

Watyutink.com – Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak menjadi gambaran pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini. Berharap pertumbuhan ekonomi bisa dipacu lebih tinggi lagi dari tahun sebelumnya dengan redanya serangan virus Corona, muncul perang Rusia-Ukraina yang menimbulkan gejolak ekonomi global. Perekonomian dunia pun terpengaruh, tak terkecuali Indonesia.

Secara global perang Rusia-Ukraina berdampak pada lompatan kenaikan harga energi. Minyak mentah Brent North Sea masih bertengger di kisaran 90 dolar AS sebelum perang pecah pada Februari, melonjak sekitar 50 dolar AS menjadi 139,13 dolar AS  dalam kurun waktu kurang dari sebulan, tepatnya 7 Maret, mendekati level tertinggi dalam 14 tahun. Selain tinggi, harganya pun fluktuatif.

Rusia adalah salah satu produsen dan pengekspor minyak terbesar dunia. Perang telah menimbulkan kekhawatiran akan pasokan minyak dunia, membuat harga minyak dan gas melonjak.

Respon terhadap kenaikan harga energi tersebut berbeda-beda di setiap negara, namun intinya merupakan kebijakan yang bertujuan meringankan beban rakyat mereka yang menjadi konsumen terbanyak. Swedia menetapkan PPN lebih rendah, Hongaria memberlakukan harga eceran tertinggi (HET), atau pemangkasan harga seperti di Perancis.

Di samping berdampak pada harga energi dunia, perang dua negara bertetangga itu meluas ke masalah pangan yang bisa menimbulkan kelaparan dan kehancuran sistem pangan global. Rusia dan Ukraina memasok sekitar 30 persen dari ekspor gandum global.

Kenaikan harga sereal dan minyak goreng sudah terjadi yang bisa mengakibatkan jumlah orang yang kekurangan gizi meningkat delapan hingga 13 juta orang pada tahun ini dan tahun depan. Kekurangan pasokan gandum kemungkinan bisa ditutupi oleh produksi dari Amerika Serikat, India dan Eropa. Namun khusus minyak bunga matahari dan jagung akan sulit dipenuhi karena Ukraina adalah pengekpor nomor wahid dan empat dunia masing-masing komoditas itu.

Kekhawatiran atas dampak perang Rusia-Ukraina merambat juga ke perusahaan-perusahaan. Ratusan perusahaan Barat seperti Ikea, Coca-Cola, dan McDonald's menghentikan bisnisnya di Rusia sejak perang pecah, karena sanksi, tekanan politik maupun opini publik.

Perusahan yang hengkang diancam akan dinasionalisasi oleh Presiden Rusia Vladimir Putin. Sebagian  perusahaan lain memutuskan untuk tetap beroperasi di negara itu untuk memberikan lapangan pekerjaan bagi penduduk lokal sebagai tanggung jawab sosial mereka.

Pasar keuangan dunia ikut tergoncang. Pengenaan sanksi oleh negara-negara Barat memperlemah perbankan dan sektor keuangan Rusia. Cadangan mata uang Rusia senilai 300 miliar dolar AS yang ada di luar negeri dibekukan, membuat nilai rubel merosot tajam. Negara itu menghadapi risiko gagal bayar utang.

Halaman:

Editor: Sarwani

Tags

Terkini

COP27 dalam Pusaran Polikrisis

Sabtu, 19 November 2022 | 16:30 WIB

Debat di Konferensi Iklim Mesir

Sabtu, 12 November 2022 | 18:00 WIB

Menjalin Ikhtiar Merawat Bumi

Sabtu, 5 November 2022 | 09:00 WIB

Jelang COP27 – KTT Iklim Mesir

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Climate TRACE

Sabtu, 22 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Menyongsong 2030, Indonesia Perlu Pemimpin Ekonom

Rabu, 19 Oktober 2022 | 12:30 WIB

Strategi Antitesis Versus Membebek, Sah dan Bagus

Sabtu, 15 Oktober 2022 | 19:15 WIB

24 Hours of Reality

Sabtu, 8 Oktober 2022 | 10:00 WIB

Teori Permainan dan Politik Copras-Capres

Jumat, 7 Oktober 2022 | 15:05 WIB

Menjunjung Kebinekaan Kuliner Nusantara

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 10:00 WIB
X