• Rabu, 10 Agustus 2022

Krisis Iklim adalah Krisis Kesehatan

- Sabtu, 9 April 2022 | 10:00 WIB
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com

 

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D.
Direktur, Climate Reality Indonesia

Watyutink.com - Setiap tahun sebanyak 13 juta korban jiwa jatuh di seluruh dunia akibat berbagai jenis masalah lingkungan, termasuk krisis iklim. Karenanya pada peringatan Hari Kesehatan Dunia 7 April 2022, World Health Organization (WHO), Organisasi Kesehatan Dunia, mengajak para pemimpin negara dan seluruh lapisan masyarakat untuk fokus menjaga manusia dan Planet Bumi agar tetap sehat serta mendorong gerakan masyarakat menuju kesejahteraan.

Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus menekankan, “Krisis iklim adalah krisis kesehatan, segala hal yang merusak Planet Bumi juga membunuh manusia.”

Bagaimana kaitan antara perubahan iklim dan kesehatan manusia? Perubahan iklim akan sangat membebani populasi manusia yang sehat karena penyakit yang ditularkan melalui vektor ataupun air, tekanan panas, dan polusi udara, semuanya dipengaruhi oleh perubahan iklim.

Dua  imbas utama terhadap kesehatan manusia adalah suhu rata-rata yang lebih tinggi dan pola curah hujan yang berubah. Kedua faktor tersebut berdampak pada makanan yang di konsumsi manusia, air yang diminum, udara yang dihirup, dan cuaca yang dialami.

Hari Kesehatan Dunia 2022 beriringan dengan diumumkannya laporan terbaru Panel Antar Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) yang berjudul “Climate Change 2022: Mitigation of Climate Change.” Publikasi ini berupa hasil kajian ribuan literatur tentang aspek ilmiah, teknologi, lingkungan, ekonomi dan sosial dari mitigasi perubahan iklim.

Perubahan iklim akibat aktivitas manusia terjadi karena telah lebih dari satu abad emisi gas rumah kaca terus bertambah dari penggunaan energi yang tidak berkelanjutan, perubahan tata guna lahan, gaya hidup, serta pola konsumsi dan produksi.

Solusinya adalah mitigasi dan adaptasi, dengan mitigasi sebagai upaya memperlambat proses perubahan iklim melalui pengurangan level gas-gas rumah kaca. Mitigasi harus dibarengi dengan adaptasi, yaitu cara melindungi manusia dan ruang dengan mengurangi kerentanan terhadap dampak iklim dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim global.

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB
X