• Rabu, 10 Agustus 2022

LBP, Istana, Madu & Racun

- Senin, 11 April 2022 | 09:00 WIB
Ilustrasi Muid/ Watyutink.com
Ilustrasi Muid/ Watyutink.com

Oleh: Erros Djarot
Budayawan

Watyutink.com - Belakangan ini ‘patgulipat’ politik istana menjadi gunjingan yang semakin menghangat dan cukup meresahkan publik. Bahkan mengundang Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) rela kembali turun ke jalan, berdemo ‘menegur’ istana pada 11 April ini. Mereka geram dan memilih posisi berseberangan dengan politik istana. Lho, apa yang sebenarnya terjadi? Pertanyaan ini tak mudah untuk dijawab. Tapi lewat pendekatan filmis dengan menyuguhkan serentetan gambaran peristiwa politik istana, mungkin akan sedikit membantu untuk merekonstruksi peristiwa ‘madu dan racun’ di pusaran politik kekuasaan istana. 

Kira-kira begini gambaran berdasarkan imaji lepas yang dapat saya sajikan sebagai penghantar.

Ketika di bawah ‘ranjang’ istana ditemukan percikan bara di sana-sini, Presiden Jokowi dengan cekatan segera mengambil tindakan. Beliau langsung menempatkan ‘selimut basah’ untuk menutupi agar setiap kali datang tebaran bara, segera bisa diredam agar tidak sampai meluas. Hasilnya lumayan efektif. Setiap bara datang, dalam sekejap langsung meredup. Presiden pun semakin percaya diri bahwa tindakan yang beliau lakukan benar tanpa cela. Selanjutnya, berbagai kebijakan yang sekalipun berpotensi  merangsang bergeraknya kembali ‘bara’ yang sudah mulai meredup, beliau gelontorkan dengan penuh percaya diri. 

Sialnya, kumpulan ‘bara’ ini menjadi lebih terbiasa menghadang rembesan sang ‘selimut basah’. Segera mereka meningkatkan kemampuan diri untuk membaca kenyataan lewat kaca mata yang lebih cerdas. Ketika kumpulan ‘bara’ mengetahui bahwa ‘selimut basah’ yang dihadirkan terbaca dengan jelas berlabelkan fabrikasi pabrik dengan ‘logo LBP’, mereka pun menjadi semakin agresif. Kumpulan ‘bara’ dalam sekam pun mulai bergerak dengan cerdas membaca ruang-ruang hamparan selimut basah yang mulai mengering. Pasalnya pabrikasi mesin dengan ‘logo LBP’ ini, diketahui dengan gamblang super sibuk karena bertanggungjawab terhadap 9 produk lebih (nomenklatur) yang ditanganinya. Gerakan ‘bara-bara’ pun mulai mendapatkan momentum untuk bergerak membesar dikarenakan terbangunnya ‘logo LBP’ sebagai musuh bersama.

Ilustrasi di atas saya sengaja suguhkan sebagai penghantar bagaimana Presiden Jokowi dalam menghadapi dan menyelesaikan berbagai masalah pemerintahannya. Bermula sejak heboh para aktivis agar pemerintah tidak melanjutkan manuver politik yang ditengarai sebagai upaya melemahkan peran lembaga KPK; berlanjut dengan dihadirkannya UU-Cipta Kerja; kerawanan menghadapi serangan pandemik Covid-19; dan sejumlah masalah rawan lainnya. Untuk mengatasi semua ini, Presiden cukup hanya dengan menunjuk seorang Luhut Binsar Panjaitan (LBP), berbagai persoalan pun dapat diatasi dan beres! Tak mengherankan, LBP pun  langsung dipercaya Presiden untuk mengepalai (komandan lapangan) sejumlah posisi strategis yang lingkup kerjanya berdasarkan nomenklatur susunan kabinet dalam pemerintahan RI era Jokowi, sebenarnya menjadi kewenangan sejumlah menteri-kementerian lainnya. 

Kewibawaan dan ruang kekuasaan LBP pun bertambah. Oleh para pengamat ia sering dijuluki sebagai pembantu Presiden  yang menyandang gelar Mr. ‘Super Minister’. Para menteri lain dengan kedudukan sama sebagai pembantu Presiden yang seharusnya bertanggungjawab atas sejumlah tugas yang dibebankan kepada LBP, langsung dibaca publik sebagai menteri tak becus. Mereka pun langsung dikotakkan sebagai para menteri-kementerian yang merupakan liabelitas (beban) bagi pemerintahan Jokowi. Sementara LBP, kian moncer tampil sebagai ‘man of solution’.  

Memang dalam beberapa kinerjanya, LBP terbukti cukup berhasil menangani berbagai masalah benang kusut, baik yang rekaan maupun yang nyata ada. Secara garis besar, kerja LBP konkrit dan membuahkan hasil yang sangat membesarkan hati Pak Presiden. Di mata Presiden, LBP sebagai man of solution, terbukti sukses! Salah satu kunci suksesnya karena dalam melakukan kerjanya, ia selalu bermodalkan penggunaan konstitusi secara cerdas untuk meligitimasi semua kebijakan yang diambil (pemerintah). 

Wajar bila kemudian sukses ini telah memompa meningkatnya kepercayaan diri yang dinilai banyak pihak sebagai kepercayaan diri yang berlebihan. Bacaan ini muncul beriringan dengan mulai terkuaknya manuver politik di balik gelontoran isu pengunduran pelaksanaan Pemilu, isu perpanjangan waktu kekuasaan, dan yang kesemuaannya bermuara pada manuver politik ‘Jokowi 3 Periode’. Sebagai reaksi, berbagai elemen bangsa menjadi resah terbakar oleh manuver politik istana yang mulai bermain api dengan konstitusi dasar negara UUD’45. 

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB
X