• Selasa, 9 Agustus 2022

Kekerasan dan Keadaban

- Rabu, 13 April 2022 | 15:00 WIB
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Oleh: Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta

Watyutink.com - Seorang psikoanalisis Erich Fromm menjelaskan bahwa akar kekerasan, kekejaman dan kekuatan destruktif manusia itu ada pada diri manusia sendiri yaitu hasrat atau keinginan (Erich Fromm, terj. 2001). From menyebut kekerasan sebagai bagian dari fitrah manusia. Pandangan Erich Fromm ini sejalan dengan Thomas Hobbes yang menyatakan, kekerasan sebagai sesuatu yang alamiah bagi manusia (state of nature). Manusia adalah makhluk yang secara naluriah memiliki sifat saling membenci sehingga membuatnya menjadi kasar, buas, jahat, saling memangsa seperti serigala (homo homini lupus), saling menyerang secara massal (bellum omnium contra omnes) (Franz Magnis Suseno, 1987, 2007).

Pandangan yang berseberangan dikemukakan oleh Rousseau. Menurutnya tindakan kekerasan justru dipicu kemajuan peradaban manusia. Secara naluriah manusia memiliki watak yang altruis, tidak egois dan polos (Franz Magnis Suseno, 1987; 238). Naluri inilah yang secara alamiah melahirkan dorongan untuk saling mencintai. Naluri ini dihancurkan oleh rantai peradaban yang diciptakan manusia, sehingga membuatnya menjadi binatang yang saling menyerang seperti yang terjadi saat ini.

Terlepas dari akar-akar dan penyebab terjadinya kekerasan, yang jelas semua manusia beradab mengecam dan menolak tindakan kekerasan dalam segala bentuknya, karena kekerasan tidak saja mengancam jiwa manusia tetapi juga dapat memicu terjadinya kerusakan. Itulah sebabnya dalam sepanjang sejarah peradaban manusia selalu terjadi upaya-upaya untuk mencegah terjadinya kekerasan. Misalnya lahirnya konsep negara yang memiliki otoritas tunggal menggunakan kekerasan untuk mengatasi dan mengendalikan tindak kekerasan yang dilakukan oleh manusia, sebagaimana dikondisikan oleh Hobbes.

Selain itu, juga lahir berbagai ajaran agama, norma dan nilai-nilai yang mengajarkan manusia untuk tidak melakukan kekerasan kepada sesama manusia ataupun makhluk lain. Dalam agama Islam, larangan ini sangat tegas dan jelas, misalnya firman Allah: “Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena orang tersebut berbuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah dia telah memelihara kehidupan semua manusia(QS Al-Maidah; 32). Ayat tersebut secara tegas menyatakan larangan melakukan tindak kekerasan (pembunuhan). Larangan ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kerusakan di bumi dan melindungi manusia.

Baik pemikiran sekuler, sebagaimana dikonstruksi Hobbes, Fromm dan Rousseau, maupun ajaran agama, seperti terlihat dalam teks kitab suci, sama-sama sepakat menolak terjadinya tindak kekerasan. Orang-orang yang beriman dan beradab tidak akan melakukan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Dengan kata lain, semakin tinggi iman dan peradaban seseorang akan semakin menghindari kekerasan, terutama kekerasan fisik. Ini artinya kekerasan dapat menjadi standar mengukur peradaban suatu bangsa dan penerapan ajaran agama orang beriman.

Jika pemikiran ini digunakan untuk melihat berbagai tindakan kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini, khususnya kasus pengeroyokan terhadap aktivis media sosial Ade Armando, dapat dikatakan bahwa pelakunya adalah orang-orang berpikir picik, berhati serigala dan berperadaban rendah. Dalam perspektif Hobbes, tindakan para pengeroyok itu adalah cerminan manusia berhati serigala yang egois, kasar, jahat dan biadab yang menganggap manusia lain sebagai lawan yang harus dihancurkan. Sedangkan dalam perspektif Rousseau, tindakan pengeroyokan tersebut merupakan rusaknya naluri kasih sayang akibat peradaban yang diciptakan manusia.   

Jika dia orang beragama maka jelas-jelas orang-orang tersebut telah mendistorsi ajaran agama. Ajaran agama yang menunjunjung tinggi akhlakul karimah, melindungi dan menjaga harkat martabat manusia telah hilang dilindas oleh hasrat, kebencian atau dendam membara yang ada pada diri mereka. Dalam perspektif Fromm, kuatnya dorongan hasrat dan keinginan yang ada pada diri para pelaku pengeroyokan telah membutakan mata hati dan menyempitkan pikiran mereka. Akibatnya mereka tidak mampu lagi melihat kemuliaan ajaran agama, sehingga tega melakukan tindak kekerasan yang biadab.

Karena buta hati dan nalar yang sempit, orang-orang seperti ini menjadi sangat sensitif, mudah marah dan tersinggung jika ada yang menyinggung keyakinannya. Mereka mudah menuduh kafir, sesat, liberal, ahlul bid’ah dan sejenisnya terhadap orang lain yang berbeda paham keagamaan. Kemudian melakukan penistaan, cacimaki, fitnah, persekusi bahkan sampai serangan fisik atas nama agama. Sempitnya nalar dan butanya hati telah membuat mereka tidak menemukan cara-cara yang lebih beradab untuk mengekspresikan spirit keberagamaan kecuali dengan kemarahan dan kekerasan.

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB
X