• Selasa, 5 Juli 2022

Memaknai Ekofeminisme  

- Sabtu, 23 April 2022 | 09:00 WIB
Ilustrasi Muid/ Watyutink.com
Ilustrasi Muid/ Watyutink.com

Amanda Katili Niode, Ph.D.
Direktur, Climate Reality Indonesia

Watyutink.com - Invest In Our Planet menjadi tema Hari Bumi tahun ini, dengan berpusat pada percepatan solusi untuk memerangi perubahan iklim sebagai ancaman terbesar manusia. Juga fokus untuk mengaktifkan semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, warga negara, dan dunia usaha, dalam melaksanakan peran mereka.

Setiap tindakan untuk menangani perubahan iklim, sebesar atau sekecil apapun, dan setiap percakapan tentang krisis iklim adalah investasi untuk Planet Bumi dan masa depan manusia.

Hari Bumi yang diperingati pada 22 April beriringan dengan Hari Kartini tanggal 21 April yang bertema Perempuan Berdaya, Indonesia Maju. Karenanya ekofeminisme merupakan bahasan yang cukup relevan untuk memperingati kedua hari besar tersebut.

Ekofeminisme sering didefinisikan sebagai gerakan filosofis atau politik yang berfokus pada bagaimana perempuan, alam, dan penindasan saling berhubungan. Situs web Mindbodygreen menjabarkan lebih lanjut, ekofeminisme melihat perubahan iklim, kesetaraan gender, dan ketidakadilan sosial sebagai masalah yang terkait dengan dominasi maskulin dalam masyarakat.

Gerakan ekofeminisme dimulai tahun 70-an di Eropa, tetapi Vandana Shiva dari India  mengangkat kepentingan perempuan di negara berkembang. Ia berpendapat, ketiadaan kearifan lokal, komunitas lokal, dan keterwakilan perempuan memperburuk hubungan manusia dengan Bumi.

Vandana juga menekankan peran feminisme subsisten, yang menganjurkan agar kebutuhan dasar perempuan (sandang, pangan, papan) dipenuhi di samping kebutuhan yang lebih filosofis atau sosial yang biasanya ditekankan oleh perempuan Barat (kebebasan dan kesetaraan).

Damai Pakpahan, aktivis perempuan di Indonesia, belajar ekofeminisme dari kasus-kasus perampasan tanah, penggusuran penduduk asli, perusakan lingkungan, pembangunan waduk raksasa dan pariwisata.

Contohnya adalah para perempuan berusia lanjut yang ikut mendemo sebuah perusahaan di Sumatera Utara pada akhir tahun 80-an dengan menolak pembangunan pabrik karena pohon-pohon yang ditanam untuk bahan baku diduga merusak tanah dan lingkungan di sekitarnya. Gerakan Srikandi Kendeng, beberapa tahun lalu, ketika perempuan melawan pembangunan pabrik semen di Jawa Tengah yang dianggap merusak ibu Bumi, merupakan praktik ekofeminisme yang nyata. Kasus itu menggambarkan kecintaan pada Bumi yang menghidupi mereka dengan pangan, air, udara bersih dan kehijauan alam.

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB

Menanti Harga Minyak Goreng Turun

Senin, 23 Mei 2022 | 19:30 WIB

Kematian Shireen dan Kekecewaan Arab

Kamis, 19 Mei 2022 | 17:35 WIB

Takdir Miliaran Burung Migran

Sabtu, 14 Mei 2022 | 11:50 WIB

Halalbihalal dan Proses Kreatif Beragama

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:20 WIB

Permainan Status Vladimir Putin

Senin, 9 Mei 2022 | 12:15 WIB

Kongres Kehutanan Dunia

Sabtu, 7 Mei 2022 | 10:15 WIB

Indonesia Bersilaturahmi

Jumat, 6 Mei 2022 | 13:00 WIB
X