• Selasa, 16 Agustus 2022

Memaknai Ekofeminisme  

- Sabtu, 23 April 2022 | 09:00 WIB
Ilustrasi Muid/ Watyutink.com
Ilustrasi Muid/ Watyutink.com

Mary Everett, penulis dan pegiat lingkungan, memaparkan di situs web PopSugar bahwa alam terkait dengan feminisme,  karena secara historis, perempuan lebih dipengaruhi oleh masalah lingkungan daripada laki-laki. 

Ekofeminisme berupaya memberi keadilan bagi perempuan dan alam dengan memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dan menghilangkan penindasan alam, dengan memperbaiki hal-hal seperti perubahan iklim dan rasisme lingkungan.

Dengan demikian, pembelajaran dari ekofeminisme dapat menjadi kunci untuk mengenali bagaimana perempuan dapat membantu mengurangi emisi penyebab krisis iklim, dan menciptakan masyarakat yang lebih adil.

Kaum muda, tambah Mary, dapat terlibat dengan aktivitas apa pun yang menghubungkan mereka dengan alam dan keadilan sosial, terutama terhadap hal yang disengaja merugikan kelompok tertentu.

Karenanya memahami  ikatan antara penindasan perempuan dan alam sangatlah bermakna, untuk kemudian melaksanakan advokasi sesering mungkin bagi mereka yang tertindas. Pendidikan adalah langkah utama yang dapat diterjemahkan menjadi cara hidup dan memilih wakil rakyat dengan basis ekofeminisme.

Di Indonesia, walaupun kini data Indeks Pembangunan Gender dan Indeks Pemberdayaan Gender menunjukkan peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya, kesetaraan gender dan posisi perempuan masih tertinggal secara aksesibilitas, persamaan peran, maupun belum diterimanya manfaat pembangunan yang sama dengan laki-laki. 

Damai Pakpahan yang juga climate reality leader, berpendapat bahwa ekofeminisme harus diperjuangkan secara berkesinambungan, karena belum tentu juga perempuan menyetujui dan menerapkan ekofeminisme. Ditambah lagi masalah lingkungan meliputi tingkat lokal, regional, dan global, serta lintas ilmu.

Ekofeminisme, tambahnya, masih sangat relevan untuk Indonesia. Penerapannya perlu terus dikembangkan dalam berbagai dimensi, antara lain menjadi kebiasaan hidup sehari-hari di tengah konsumtivisme, yang kadang merajalela ataupun berbalut agama dan neoliberalisme disertai penyebaran siber yang dapat membuat masyarakat tidak sadar pada kemanusiaan yang seharusnya selaras dengan alam semesta.

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB
X