• Selasa, 5 Juli 2022

Utak-atik Kebijakan Demi Minyak Goreng

- Rabu, 27 April 2022 | 17:20 WIB
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Watyutink.com – Drama minyak goreng semakin seru. Setelah penangkapan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag beserta empat orang dari pihak swasta, Presiden Joko Widodo melarang ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan minyak goreng. Namun kemudian diluruskan oleh menterinya bahwa yang dilarang bukan CPO tapi bahan baku minyak goreng.

Drama minyak goreng sudah seperti roller coaster yang memainkan emosi masyarakat. Naik turun keadaannya. Rakyat sempat menikmati harga murah, kemudian hilang, muncul lagi dengan harga mahal tapi langka, turun bantuan langsung tunai (BLT) kepada rakyat miskin, tersiar kemudian berita penangkapan pejabat yang diduga menjadi penyebab karut marut minyak goreng, dan yang paling akhir adalah larangan ekspor. Entah apalagi setelah ini.

Silih berganti kebijakan yang diambil pemerintah untuk mengatasi masalah minyak goreng tapi hasilnya belum juga tampak. Kebijakan terakhir melarang ekspor CPO semakin memperkeruh suasana walaupun kemudian diralat. Seharusnya pemerintah memikirkan dengan matang sebelum mengeluarkan pernyataan, apalagi yang menyangkut kepentingan banyak pihak dan berdampak luas.

Hanya dalam hitungan hari setelah Presiden Jokowi mengeluarkan pernyataan melarang ekspor CPO pada Jumat (22/4/2022), harga kelapa sawit di tingkat petani merosot. Begitu diumumkan larangan ekspor, harga jual tandan buah segar (TBS) sawit petani ke pabrik kelapa sawit langsung anjlok, mulai Rp300 sampai Rp1.000 per kilogram.

Merosotnya harga TBS ini murni karena kebijakan pemerintah melarang ekspor, bukan disebabkan kondisi pasar global. Padahal petani sawit sedang bersiap merayakan Idulfitri yang tinggal beberapa hari lagi, yang membuat kebutuhan petani juga meningkat seiring dengan belanja untuk keperluan Lebaran dan berkumpul dengan kelurga.

Di samping itu, mendekati Lebaran pabrik kelapa sawit akan setop beroperasi, sehingga situasi yang dialami oleh petani semakin berat. Kondisi ini disiasati oleh petani dengan menabung untuk kebutuhan selama pabrik tutup. Namun sayangnya harga jual anjlok, membuat sedih petani.

Kemungkinan berikutnya pabrik kelapa sawit menghentikan penerimaan TBS sawit petani lantaran kekhawatiran tangki penampungan CPO mereka akan penuh akibat adanya larangan ekspor sawit oleh pemerintah.

Padahal petani sawit tidak dapat menahan panen buah sawit. Apabila panen ditunda, buah sawit yang dihasilkan menjadi terlalu matang yang menurunkan kualitasnya. Ujung-ujungnya, harga jual di pabrik akan dipotong.

Risiko lebih besar lagi yang akan dihadapi petani jika panen sawit tidak dilakukan, pohon sawit akan rusak karena buah yang matang tidak diambil. Terjadi kerusakan yang berdampak jangka panjang dalam hal produksi sawit.

Halaman:

Editor: Sarwani

Terkini

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB

Menanti Harga Minyak Goreng Turun

Senin, 23 Mei 2022 | 19:30 WIB

Kematian Shireen dan Kekecewaan Arab

Kamis, 19 Mei 2022 | 17:35 WIB

Takdir Miliaran Burung Migran

Sabtu, 14 Mei 2022 | 11:50 WIB

Halalbihalal dan Proses Kreatif Beragama

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:20 WIB

Permainan Status Vladimir Putin

Senin, 9 Mei 2022 | 12:15 WIB

Kongres Kehutanan Dunia

Sabtu, 7 Mei 2022 | 10:15 WIB

Indonesia Bersilaturahmi

Jumat, 6 Mei 2022 | 13:00 WIB
X