• Selasa, 16 Agustus 2022

Permainan Status Vladimir Putin

- Senin, 9 Mei 2022 | 12:15 WIB
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Jerman mengalami hiper-inflasi, ekonomi ambruk, kebanggaan nasionalisme runtuh. Dalam situasi kehancuran moral sebagai bangsa itu muncul Adolf Hitler. Ia berhasil membangun kembali sentimen rasa bangga sebagai bangsa Jerman. Bangsa yang melahirkan pemikir, penulis, komposer, dan seniman besar seperti Beethoven, Goethe, Immanuel Kant, Hegel, dan Nietzsche.

Dalam bukunya, Mein Kampf (perjuanganku), Hitler membangun sentimen kebanggaan nasionalisme dengan membandingkan Jerman dengan Inggris Raya. Bagi Hitler, Jerman terpuruk justru karena terlalu bersikap berbudaya sebagai bangsa. Sementara Inggris yang “tidak berbudaya” (bar-bar) bisa berjaya menguasai hampir sepertiga wilayah bumi sebagai jajahannya.

Kombinasi sikap grandiose, merasa diri sebagai bangsa besar, dan rasa terhina, mendorong Hitler mengobarkan PD II di Eropa. Menginvasi berbagai negara di sekelilingnya, sebagai unjuk bukti kekuatan dan kehebatan Jerman. Dalam waktu tiga tahun (1939 - 1942) Jerman berhasil menaklukkan 20 negara Eropa.

Situasi psikologis yang sama dialami oleh Putin, 70 tahun kemudian. Uni Sovyet bubar, imperium Pakta Warsawa runtuh, kalah dalam stagnasi Perang Dingin. Satu persatu negara bekas koloninya justru bergabung ke imperium lawan, Amerika-NATO. Putin merasa Rusia adalah bangsa besar dengan tradisi budaya hebat yang melahirkan Dostoevsky, Tolstoy dan Tchaikovsky. Ia terhina, dan perlu menunjukkan kekuatannya, dengan menginvasi Ukrania. 

Namun mampukah Putin-Rusia di abad 21 mengulang “sukses sekejap” Hitler-Jerman di pertengahan abad 20? Tampaknya sulit. Moral maju berperang era militer milenial pasukan Rusia tidak seheroik atau sedeterministik militer Jerman. Pekik peperangan “ura” Putin terbukti hanya menarik diviralkan di media sosial, tapi tidak membantu mempercepat kemenangan.

Invasi Putin Rusia dianggap sebagai “A false flag”, aksi militer mencari-cari kesalahan sebagai dalih pembenaran. Istilah “salah mengibarkan bendera” ini terinspirasi dari aksi bajak laut abad 16. Mengibarkan bendera palsu demi menjerat kapal agar mau merapat untuk dijarah. Perang di era digital pasti tidak sejalan dengan meniru strategi perompak laut abad 16. 

Selain itu, perang era digital juga lebih ditentukan oleh penguasaan teknologi persenjataan, ketimbang mengandalkan heroisme pasukan. Secara geopolitik, Putin sedang mengobarkan sentimen peranga man against the world”, sikap heroik yang hanya cocok untuk skenario film perang Hollywood ala Rambo.

Praktis, Putin tinggal mengandalkan koleksi senjata nuklirnya (weapon of mas destruction) sebagai tameng agar NATO tidak mengabaikannya. Mungkinkah Putin akan memakai senjata pamungkas, jika agresinya tidak juga bisa menaklukkan Ukrania? Masih harus ditunggu sejauh mana keputusasaan psikologisnya akan mengambil keputusan.

Yang pasti, dendam kemarahan dan ambisi Putin tidak se-grandiose Hitler. Di tahun 1930-an, Hitler berilusi ingin menegakkan  tatanan dunia baru, sebagai “The Third Reich”. Hitler berilusi untuk memiliki kekuasaan besar ala imperium Romawi (the First Reich) dan mengembalikan kejayaan kekaisaran Jerman (the Second Reich) di era Otto van Bismarck. 

Sementara ambisi Putin, sepertinya, hanya ingin mengembalikan kebesaran Rusia, menyatukan kembali beberapa negara yang tergabung dalam Uni Sovyet. Atau barangkali hanya ingin melampiaskan kejengkelan pada Ukrania, negara bekas satelit yang “bermain mata” dengan Amerika.

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB
X