• Selasa, 16 Agustus 2022

Permainan Status Vladimir Putin

- Senin, 9 Mei 2022 | 12:15 WIB
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Permainan Status

Sikap grandiose dan rasa terhina pada level negara atau pemimpinnya adalah kombinasi yang berbahaya. Apa yang terjadi pada Hitler Jerman pada era 1930-an, menimpa Putin Rusia di era 2020-an. Putin, sebagaimana Hitler, sedang memainkan kartu ”status game”, pola psikologis perilaku individu manusia. Permainan status Putin mengoyak kedamaian dunia, karena kebetulan ia pemimpin negara adidaya.

Permainan status adalah upaya unjuk superioritas pada pihak lain. Sebagai ekspresi egoistik, merasa paling kuat dan paling benar. Will Storr dalam buku The Status Game: On Social Position and How We Use It (2021), membagi status dalam tiga kategori: dominasi, reputasi, dan sukses. Pertama, manusia ingin dihormati dengan cara dominasi, menggunakan kekuatan, kekerasan, atau ancaman. Ini adalah insting basic kebinatangan yang masih melekat pada manusia.  

Kedua, selain melalui dominasi, manusia juga ingin mendapat kehormatan melalui reputasi. Melakukan aksi kebaikan, kebajikan, kepahlawanan, atau keberanian. Dengan dominasi dan reputasi itu, manusia ingin mencapai status ketiga, sukses. Karena kesuksesan akan memberikan status terhormat. 

Secara umum manusia memainkan tiga permainan status itu sebagai strategi kehidupan, agar sintas dan berkembang. Ini berlaku baik pada level individual warga biasa, pemimpin negara, atau bangsa secara kolektif. Permainan status adalah bagian dari pengisahan (storytelling), kesadaran manusia untuk memaknai eksistensinya. 

Berbeda dengan hewan, manusia tidak cukup sekadar sintas dan beranak-pinak. namun juga perlu terkoneksi dan memiliki status (kehomatan). Manusia berorganisasi, dari level komunitas, etnisitas, hingga bernegara; berpolitik dan menyusun geopolitik. Melalui cara kerjasama (cooperation) dan kompetisi (competition), atau coopetition, berkolaborasi antar-kompetitor.

Dunia Barat, Amerika dan NATO, perlu bisa memahami psikologi Putin. Perlu menunjukkan itikad tidak berniat “menghapus” Rusia dan Putin dari peta dunia. Juga tidak berperilaku menjadi imperium tunggal yang berambisi imperialistik—sekalipun benign imperialism—dengan dalih menyebar demokrasi atas nama ekspansi kapitalistik.

NATO perlu mengembalikan digniti Putin Rusia agar tidak mengeluarkan kartu “permainan status” level nuklir. Memastikan agar tidak menjadi kegilaan yang bukan cuma mengancam perdamaian dunia, namun juga membahayakan eksistensi manusia. 

Karena, seperti ungkapan “The child who is not embraced by the village will burn it down to feel its warmth.” Jangan biarkan Putin membakar-hanguskan dunia hanya karena ingin mendapatkan kehangatannya.

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB
X