• Selasa, 5 Juli 2022

Adu Kuat Pemerintah vs Oligarki di Minyak Goreng

- Rabu, 11 Mei 2022 | 12:05 WIB
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Watyutink.com -- Saat memasak saya belum bisa menerima kenyataan bahwa saya harus menggoreng di dalam cairan minyak sawit yang begitu mahal seharga Rp50.000 per 2 liter, minyak yang dihasilkan dari pohon sawit yang ditanam di atas tanah Ibu Pertiwi yang dipertahankan rakyat dengan darah dan nyawa dari rebutan para penjajah.

Rakyat yang berdaulat atas negara ini dan berhak mendapatkan kemakmuran dari tanah Ibu Pertiwi yang mereka perjuangkan kini harus menerima kenyataan bahwa banyak lahan yang dikuasai oleh oligarki. Lahan dikavling-kavling dan mengomersialkan hasil produksinya kepada rakyat.

Padahal UUD 45 Pasal 33 (3) mengamanatkan bahwa “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Mestinya perusahaan perkebunan sawit bekerja hanya sebagai kontraktor saja yang dibayar pekerjaannya untuk menghasilkan kelapa sawit, sementara pemilik bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah negara yang dengan kuasa yang ada padanya menjamin tercukupinya kebutuhan masyarakat akan minyak goreng, melakukan ekspor atas kelebihan produksi, menentukan harga, dan menyimpan hasil penjualan ke luar negeri sebagai tambahan devisa.

Kini rakyat harus menanggung ulah oligarki yang membuat minyak goreng langka dan mahal. Mereka terpaksa mengirit pemakaian minyak goreng atau memakainya berulang-ulang. Derajat kenikmatan terhadap makanan yang digoreng pun turun, sekaligus harus menerima risiko kesehatan karena penggunaan minyak goreng berkali-kali yang melebihi standard kesehatan.

Oligarki mengeduk keuntungan di tengah situasi kenaikan harga energi dunia. Minyak goreng dibuat menjadi langka dan mahal. Seharusnya hal ini tidak terjadi karena ada kewajiban untuk menyisihkan sebagian hasil produksi untuk pasar domestik. Patut diduga kebijakan ini tidak ditaati.

Kebutuhan minyak goreng di dalam negeri kecil dibandingkan total produksi nasional. Konsumen di dalam negeri hanya ‘minum’ sepersepuluh dari total produksi. Dengan sedikit menyisihkan produksi, pasar dalam negeri sudah kebanjiran minyak goreng.

Masalahnya, mereka masih memburu rente di ceruk pasar domestik yang sudah kecil ini. Keuntungan harus dikejar. Selama ada peluang, mengapa tidak dilakukan. Begitu pada umumnya karakter pengusaha. Memiliki kekayaan satu gunung emas tidak akan pernah cukup, akan mencari gunung emas yang lain.

Padahal, jika diasumsikan margin pengusaha minyak sawit 20 persen, sekalipun minyak goreng dibagikan secara cuma-cuma, mereka masih menikmati keuntungan sebesar 10 persen.

Halaman:

Editor: Sarwani

Terkini

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB

Menanti Harga Minyak Goreng Turun

Senin, 23 Mei 2022 | 19:30 WIB

Kematian Shireen dan Kekecewaan Arab

Kamis, 19 Mei 2022 | 17:35 WIB

Takdir Miliaran Burung Migran

Sabtu, 14 Mei 2022 | 11:50 WIB

Halalbihalal dan Proses Kreatif Beragama

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:20 WIB

Permainan Status Vladimir Putin

Senin, 9 Mei 2022 | 12:15 WIB

Kongres Kehutanan Dunia

Sabtu, 7 Mei 2022 | 10:15 WIB

Indonesia Bersilaturahmi

Jumat, 6 Mei 2022 | 13:00 WIB
X