• Sabtu, 20 Agustus 2022

Halalbihalal dan Proses Kreatif Beragama

- Jumat, 13 Mei 2022 | 11:20 WIB
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Oleh: Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta

Watyutink.com - Halalbihalal adalah tradisi keagamaan yang ada di Nusantara. Disebut tradisi keagamaan karena tradisi merupakan hasil dari proses kreatif umat Islam, khususnya para ulama Nusantara untuk mengekpresikan spirit dan ajaran Islam yaitu silaturrahmi dan bermaaf-maafan di hari raya Idul Fitri.

Perintah memaafkan kesalahan ini jelas tertulis dalam Al-Qur’an, di antaranya: “..... Maka Maafkanlah dan berlapang dadalah, sampai Allah memberikan perintah-Nya. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS. Al-Baqarah; 109). “Orang-orang yang bertaqwa adalah orang yang mau berinfak, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, dan orang-orang yang mampu menahan amarahnya dan memberikan maaf atas kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan (QS. Ali Imran; 134).  “Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sekelompok kecil di antara mereka, maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka. Sesungguhnya allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Maidah; 13). Juga hadis Nabi yang menyatakan: “Barangsiapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah memberinya maaf pada hari kesulitan” (HR Ath-Tahbrani).

Selain memaafkan, Islam juga memerintahkan umatnya untuk bersilaturahmi. Sebagaimana disebutkan dalam hadis, dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda: “barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia menyambung silaturrahmi. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari). Hadis yang lain menyebutkan, dari Ibn Syihab dia berkata, telah mengabarkan kepadaku Anas Bin Malik bahwa Rasullullah SAW bersabda: “Barang siapa ingin dilapangkan pintu rezekinya dan dipanangkan usianya, hendaknya dia menyambung tali silaturrahmi” (HR. Bukhari). 

Dalil-dalil yang ada dalam Al-Qur’an dan hadis tersebut merupakan perintah yang bersifat normatif dan umum, artinya tidak ada keterangan mengenai petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) yang jelas dan rinci bagaimana bentuk, format dan prosedur pemberi maaf dan bersilaturahmi dilakukan, kapan dilaksanakan dan pada saat apa. Ini berbeda dengan shalat, puasa ramadhan, zakat maupun haji yang ada juklak dan juknis pelaksanaan dan ketentuan waktu yang jelas.

Para ulama menggolongkan ibadah (pelaksanaan perintah Allah), yang ada juklak, juknis dan ketentuannya secara jelas dan rinci seperti shalat fardlu, puasa, haji dan zakat sebagai ibadah mahdlah. Sedangkan ibadah-ibadah yang tidak ada juklak juknisnya secara jelas, seperti silaturrahmi dan memberi maaf ini sebagai ibadah ghairu mahdlah.

Karena tidak ada ketentuan yang baku baik dari segi teknis pelaksanaan maupun waktunya, maka ibadah ghairu mahdlah  ini dapat dilaksanakan kapan saja, di mana saja dan dalam bentuk apa saja. Dengan kata lain ada ruang bagi umat Islam mengembangkan kreativitas untuk menciptakan dan menggunakan tradisi sebagai ekspresi menjalankan dan mengaktualisasikan perintah dan ajaran agama. Dengan cara ini ajaran agama menjadi hidup karena selalu kontekstual di setiap waktu dan tempat.

Mengapa tradisi halalbihalal tersebut munculnya pada saat hari raya Idul Fitri? Bukankah memaafkan dan silaturrahmi dapat dilakukan setiap saat tanpa menunggu datangnya Idul Fitri? Karena ada salah satu hadis yang menyatakan bahwa Idul Fitri adalah saat umat Islam bersuka cita memeriahkan hari kemenangan. Sebagaimana dinyatakan Nabi dalam salah satu hadis yang diceritakan oleh Siti Aisyah. Saat itu ada dua gadis Anshar yang sedang bernyanyi di rumah Nabi saat hari raya Idul Fitri. Kemudian Abu Bakar masuk dan marah sambil berseru “Ada alat setan di rumah Rasulullah” mendengar pernyataan Abu Bakar, Nabi berkata: "Ya Abu Bakar, tiap orang punya festival untuk merayakan kebahagiaan dan ini (Idul Fitri) adalah perayaan kita” (HR. Ibnu Majah).

Hadis inilah yang dijadikan pijakan para ulama Nusantara untuk membuat perayaan Idul Fitri dan menjadikannya sebagai momentum untuk bersilaturahmi dan bermaaf-maafan. Memang silaturahmi dan bermaafan bisa dilakukan setiap saat, kapan pun dan dalam suasana apapun bisa dilakukan. Namun memanfaatkan perayaan Idul Fitri sebagai momentum bersilaturahmi dan saling memaafkan adalah hal baik yang tidak bertentangan dengan ajaran agama. Dari sinilah muncul tradisi halalbihalal dan mudik lebaran sebagai instrumen mengamalkan ajaran agama, silaturahmi dan bermaaf-maafan.

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Luis Milla Latih Persib Gantikan Robert Rene Albert

Jumat, 19 Agustus 2022 | 19:40 WIB

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB
X