• Selasa, 16 Agustus 2022

Halalbihalal dan Proses Kreatif Beragama

- Jumat, 13 Mei 2022 | 11:20 WIB
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Tidak ada keterangan jelas sejak kapan tradisi halalbihalal ini terjadi. Siapa penggerak dan penciptanya. Beberapa sumber menyebutkan bahwa tradisi halalbihalal ini diciptakan oleh KH. Wahab Chasbullah sebagai upaya melakukan rekonsiliasi umat Islam yang mengalami friksi akibat perpedaan pandangan politik pasca Kemerdekaan. Beberapa sumber menyebutkan tradisi halalbihalal bermula dari tradisi pisowanan yang terjadi pada zaman mataram Islam, yaitu saat para adipati dan punggawa kerajaan yang ada di daerah menghadap Sultan untuk memberikan laporan dan upeti yang dilakukan setahun sekali. Tradisi inilah yang kemudian diadopsi para ulama Nusantara menjadi halalbihalal.

Tanpa mengabaikan siapa inisiator dan kreator tradisi halalbihalal, yang jelas tradisi ini merupakan bentuk kreativitas para ulama Nusantara dalam mengamalkan dan menanamkan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat. Kreativitas menciptakan tradisi ini tidak ada kaitan dengan mengubah ajaran atau akidah yang dapat menyebabkan seseorang tergeincir dalam syirik, kufur atau murtad. Sebaliknya hal ini justru dilakukan untuk memperkuat akidah. Mengapa demikian? Karena penciptaan tradisi ini hanya pada tataran pengamalan ajaran bukan pada hal-hal yang terkait dengan akidah. Kedua, hal ini juga dilakukan pada aspek ibadah ghairu mahdlah yang tidak ada juklak, juknis dan ketentuan rinci dalam pelaksanaan. Ketiga, melalui tradisi ini ajaran Islam menjadi mudah diamalkan dan diterima. Jadi tidak ada kaitannya dengan upaya menambah-nambah ibadah atau merubah ajaran.

Melalui cara-cara kultural seperti ini, ajaran Islam tidak hanya membawa manfaat pada umat Islam tetapi juga kepada umat lain sehingga Islam sebagai rahmatan lil’alamin benar-benar dapat dirasakan secara nyata oleh semua umat manusia. Kedua, melalui proses kreatif seperti ini wajah Islam menjadi lebih menarik dan ramah, sehingga dapat menumbuhkan rasa simpati semua orang terhadap Islam. Melalui tradisi halalbihalal, wajah Islam yang garang, mudah marah dan menakutkan bisa dieliminir sehingga kesan Islam sebagai agama kekerasan, arogan dan penebar kebencian dapat dihilangkan.

Proses kreatif menciptakan tradisi dengan memanfaatkan berbagai momentum perayaan hari besar agama sebagaiamana yang telah dilakukan oleh para ulama Nusantara inilah yang mesti dilakukan oleh umat Islam saat menghadapi berbagai tekanan dan tantangan kekinian. Melalui tradisi halabihalal bisa dapat melihat bagaimana para ulama Nusantara beragama secara kreatif sehingga beragama menjadi terasa indah, nyaman dan damai. Cara beragama yang kreatif akan membuat agama jadi menarik dan terasakan manfaatnya secara nyata.

Umat Islam tidak perlu khawatir dengan tudingan bid’ah, syirik dan khurafat, hanya karena menggunakan cara kreatif dalam mengamalkan dan mengaktualisassikan ajaran agamanya. Ketakutan atas berbagai tudingan tersebut hanya akan membuat umat Islam menjadi jumud, beku dan kaku. Umat Islam perlu menciptakan dan mensyiarkan bid’ah, sebagaimana yang dilakukan oleh para wali dan ulama Nusantara. Karena terbukti melalui bid’ah bangsa Nusantara dapat memperoleh hidayah, berkat bid’ah pula bangsa ini dapat memperoleh berkah.

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB
X