• Selasa, 5 Juli 2022

Kematian Shireen dan Kekecewaan Arab

- Kamis, 19 Mei 2022 | 17:35 WIB
Ilustrasi muid/watyutink.com
Ilustrasi muid/watyutink.com

H. Abustan
Pengajar Hukum Tata Negara di Universitas Islam Jakarta dan Penasihat Asosiasi Advokat Indonesia

Watyutink.com - Pembunuhan-pembunuhan berdarah dingin selama ini kurang mendapatkan perhatian, apalagi sanksi internasional. Hal itu, tentu saja karena faktor penghambat dihalangi oleh Amerika Serikat dan sekutu barat, atau lazim disebut Uni Eropa. Tapi kali ini, yakni pembunuhan wartawan Palestina (Shireen Abu Akleh) yang sedang meliput konflik Israel-Palestina di lapangan, direspons berbeda oleh DK PBB, AS, Inggris, dan Komisi Tinggi HAM PBB. Mereka bersatu menolak investigasi yang akan dilakukan Israel, yang integritas dan kredibilitasnya tak dipercaya. Namun, mereka menuntut investigasi segera, menyeluru, transparan, dan imparsial.

Perubahan drastis sikap AS dan UE yang menjelma jadi akomodatif terhadap kekecewaan Arab atas pembunuhan Shireen dapat disimak dan dibaca sebagai dampak dari perang Rusia-Ukraina. Fakta itu dapat dilihat pada pernyataan pers 15 anggota DK PBB secara eksplisit menekankan pentingnya “kebebasan media” dan perlunya insan pers (wartawan) yang bekerja di area lokasi berbahaya untuk diproteksi keamanannya. Pernyataan dewan ditegaskan bahwa wartawan harus dilindungi seperti warga sipil.

Sekali lagi, sikap AS dan UE yang cenderung pro-Palestina dalam kaitan pembunuhan Shireen adalah dengan alasan atau asumsi dasar untuk mengimbangi kekuatan Rusia dan China yang ingin memanfaatkan insiden itu untuk mengisolir (menjauhkan) Timur Tengah dari pengaruh Amerika Serikat dan sekutu Barat, selain Joe Biden harus mendengar suara aktivis HAM di AS dan sekutu Barat dengan tuduhan bersikap “mendua” dan standar ganda dalam menyikapi konflik yang ada. Dinamika politik Arab memang seringkali di luar imajinasi banyak orang, karena itu tertembaknya Shireen bisa saja menjadi momentum titik balik percepatan penyelesaian sengketa Israel-Palestina.

Pandangan dunia terhadap pembunuhan Shireen mengerucut dan terkonsentrasi pada soal kemanusiaan atau harkat/martabat manusia (dignity). Lebih dari soal hak asasi manusia tetapi sudah menyangkut soal harkat dan martabat manusia (human humanity). Jadi, “paradigm dignity” sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Thomas S.Kuhn dalam karyanya berjudul Structure of scientific revolution. Dalam konteks Palestina sebagai nilai dignity suatu bangsa, yaitu dignity untuk mempertahankan entitas bangsa dari anasir-anasir pengrusakan tatanan sosial.

Sejatinya, apa yang terjadi di wilayah Palestina adalah soal ikhwal kemanusiaan, keadilan, dan kemerdekaan. Para founding fathers bangsa telah menegaskan pembukaan UUD NRI 1945 pada paragraph pertama: bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak setiap bangsa dan oleh karena itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dengan demikian, perspektif konstitusi kita sangat jelas apa yang sesungguhnya diamanatkan yaitu “menjaga ketertiban dunia”. Tentu saja anti terhadap penjajahan dan kolonialisme terhadap wilayah (in casu tanah palestina). Bahkan, bangsa Indonesia selayaknya berterima kasih kepada bangsa Palestina karena negara ini tercatat dalam “tinta emas sejarah” sebagai bangsa yang pertama memberikan pengakuan terhadap Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Penegasan dalam konstitusi tersebut, itulah yang kami sampaikan dalam acara webinar mina talles, edisi khusus peringatan Hari Nakba Palestina ke-74 dengan tema:”Peran wartawan di Medan Komplik, Rekam Jejak Kejahatan Israel Terhadap Insan Pers,” Senin, 15 Syawal 1443 H/ 16 Mei 2022. Menghadirkan saksi mata ditembak matinya wartawati Senior Palestina Shireen Abu Akleh..

Dalam banyak hal, narasumber telah menjelaskan bahwa Shireen ditembak tentara Israel saat ia dan beberapa jurnalis Palestina lainnya meliput serangan Israel ke Tepi Barat. Saat ia ditembak menggunakan jaket bertulis “PRESS” dan helmet.  Shireen ditembak dari arah depan, dekat telinga yang tidak terlindungi helmet.

Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa ia ditarget secara sengaja dan ditembak dengan presisi. Padahal, sudah jamak kita memahami, jurnalis yang sedang bertugas di wilayah konflik dilindungi oleh International Humanitarian Law; baik orang (si jurnalis) maupun peralatan liputannya (kamera dan lain-lain) tidak boleh diserang. Bahkan, dalam ketentuan hukum humaniter internasional, wartawan yang berada di situasi konflik bersenjata harus mendapatkan perlindungan dari kedua belah pihak yang bertikai. Jadi, penembakan terhadap Shireen oleh pasukan Israel termasuk dalam pelanggaran berat menurut Konvensi Jenewa 1949.

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB

Menanti Harga Minyak Goreng Turun

Senin, 23 Mei 2022 | 19:30 WIB

Kematian Shireen dan Kekecewaan Arab

Kamis, 19 Mei 2022 | 17:35 WIB

Takdir Miliaran Burung Migran

Sabtu, 14 Mei 2022 | 11:50 WIB

Halalbihalal dan Proses Kreatif Beragama

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:20 WIB

Permainan Status Vladimir Putin

Senin, 9 Mei 2022 | 12:15 WIB

Kongres Kehutanan Dunia

Sabtu, 7 Mei 2022 | 10:15 WIB

Indonesia Bersilaturahmi

Jumat, 6 Mei 2022 | 13:00 WIB
X