• Jumat, 1 Juli 2022

Menanti Harga Minyak Goreng Turun

- Senin, 23 Mei 2022 | 19:30 WIB
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Watyutink.com – Pemerintah membuka kembali kran ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya setelah sekitar satu bulan mengharamkan komoditas itu dijual ke luar negeri. Kebijakan tersebut diputuskan setelah melihat ada tren penurunan harga minyak goreng curah.

Pemerintah menyebutkan harga minyak goreng curah di berbagai daerah saat ini sudah turun sekitar Rp2.500 per liter menjadi Rp17.200-Rp17.600 per liter. Sebelum ada larangan ekspor, harganya masih di kisaran Rp19.800 per liter.

Penurunan harga ini membuat pasokan dalam negeri banjir. Setelah pelarangan ekspor, pasokan minyak goreng curah pada April naik menjadi 211,64 ribu ton per bulan atau 108,74 persen dari kebutuhan. Padahal kebutuhan minyak goreng curah di dalam negeri hanya 194,63 ribu ton per bulan. Sebelum ekspor CPO dilarang, pasokan minyak goreng curah bulan Maret hanya mencapai 64,63 ribu ton atau 33,2 persen dari kebutuhan per bulan.

Namun penurunan ini tidak merata. Harga minyak di ritel-ritel modern tetap mahal. Setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan pencabutan larangan ekspor, harga minyak goreng kemasan 2 liter dari berbagai merek dibanderol di harga Rp48.000 sampai dengan Rp51.000. Artinya, harga minyak goreng per liternya masih berkisar Rp24.000 sampai Rp25.000. Harga ini, relatif masih sama dengan harga minyak goreng yang dijual sebelum aturan larangan CPO berlaku.

Alasan pencabutan larangan ekspor CPO karena telah terjadi penurunan harga minyak goreng curah terlalu terburu-buru, karena faktanya penurunan tersebut belum terjadi untuk semua jenis minyak goreng.

Ada tekanan lain yang membuat pemerintah terpaksa mencabut larangan ekspor CPO, terutama yang menyangkut stabilitas nilai tukar rupiah. Posisi rupiah melemah selama diberlakukannya kebijakan larangan ekspor.

Tekanan terhadap rupiah terus berlanjut hingga posisi kurs tengahnya per hari ini menyentuh Rp14.661 per dolar AS, dibandingkan sebelum diberlakukannya larangan ekspor dimana mata uang Garuda itu masih perkasa di kisaran Rp14.350-Rp14.380 pada awal pekan diberlakukannya larangan ekspor CPO atau tepatnya 25 April 2022.

Pada saat itu pun rupiah sudah mengalami tekanan. Sentimen datang dari melonjaknya inflasi yang menjadi masalah serius bagi stabilitas nilai tukar. Inflasi terjadi di negara berkembang dan negara maju. Peningkatan inflasi di berbagai belahan dunia merupakan dampak dari invasi Rusia ke Ukraina yang hingga saat ini masih berlangsung dalam intensitas tinggi.

Ketegangan antara Rusia dan Ukraina melambungkan harga komoditas, terutama harga energi dan makanan yang berdampak langsung secara global. Selain inflasi, konflik dua negara bertetanggan itu juga berdampak pada jalur perdagangan.

Halaman:

Editor: Sarwani

Terkini

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB

Menanti Harga Minyak Goreng Turun

Senin, 23 Mei 2022 | 19:30 WIB

Kematian Shireen dan Kekecewaan Arab

Kamis, 19 Mei 2022 | 17:35 WIB

Takdir Miliaran Burung Migran

Sabtu, 14 Mei 2022 | 11:50 WIB

Halalbihalal dan Proses Kreatif Beragama

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:20 WIB

Permainan Status Vladimir Putin

Senin, 9 Mei 2022 | 12:15 WIB

Kongres Kehutanan Dunia

Sabtu, 7 Mei 2022 | 10:15 WIB

Indonesia Bersilaturahmi

Jumat, 6 Mei 2022 | 13:00 WIB

Musik Jazz untuk Bumi

Sabtu, 30 April 2022 | 10:00 WIB

Utak-atik Kebijakan Demi Minyak Goreng

Rabu, 27 April 2022 | 17:20 WIB

Memaknai Ekofeminisme  

Sabtu, 23 April 2022 | 09:00 WIB

Demokrasi dan Media Sosial

Jumat, 22 April 2022 | 15:30 WIB
X