• Selasa, 5 Juli 2022

Somad dan Disonansi Kognisi

- Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Lukas Luwarso
Jurnalis Senior, Kolumnis

Watyutink.com - Agar bisa berfungsi baik dalam realitas hidup bermasyarakat, seseorang perlu selalu menyesuaikan  mentalitas dan perilakunya. Menyelaraskan antara kognisi dan aksi, pemikiran dan tindakan, ucapan dan perbuatan. Berupaya sedapat mungkin untuk konsisten, selaras dengan realitas.

Dalam kajian psikologi dikenal istilah “disonansi kognisi” (cognitive dissonance), situasi yang terjadi ketika seseorang mengalami kontradiksi. Mengalami perbenturan psikologis antara keyakinan, pemikiran, dan nilai moral yang dianut. Respon sengit Ustadz Abdul Somad atas pelarangannya masuk Singapura adalah contoh situasi “disonansi kognisi” yang ia alami.

Somad mengalami “ketegangan psikologis” ketika niatnya untuk berwisata ke Singapura ditolak pemerintah negeri kecil ini. Kegagalan melawat ke Singapura, memunculkan kegetiran sikap, respon sengit, ketidaksukaan pada Singapura. Negeri yang, baginya, mendadak penuh najis, tema kotbah yang ia sukai: menajiskan atau mengharamkan segala sesuatu yang ia tidak sukai.

Sikap Somad inkonsisten sejak ia berniat untuk berlibur ke Singapura, negeri sekuler yang tidak menolerir ekspresi fanatisme beragama. Sebagai pengkhotbah yang dikenal gemar mengangkat tema “Islam paling benar”, mustinya ia paham, Singapura bukan negeri yang “halal” untuk dikunjungi.

Dibalik khotbahnya yang berapi-api, mengecam dan melabrak apapun yang tidak sesuai akidah Islam, Somad juga sangat menikmati kehidupan duniawi. Ia memilih berlibur ke Singapura, karena  kota ini indah, bersih, dan rapi secara visual, banyak kawasan wisata menarik untuk dikunjungi. Selaku dai yang gemar mengkampanyekan dan menjanjikan keindahan surga, Ia ingin menyaksikan “surga dunia”. Mendekatkan imajinasinya  tentang surga dalam realitas.

Jika Somad konsisten dengan tema-tema kotbah yang ia teriakkan mustinya ia tidak tertarik berlibur ke Singapura. Orang yang menajiskan dan mengharamkan makanan tertentu, seperti mengandung babi, mustinya tidak tertarik mengunjungi kota yang penuh dengan sajian babi. Ini jika “kognisinya konsonan”, selaras antara pikiran (keyakinan) dan tindakan.

Somad yang mengalami “disonansi kognisi” tidak merasa ada kejanggalan. Bahwa ada ketidakselarasan antara khotbah kesucian agama yang ia teriakkan dengan hasrat mengunjungi kota “maksiat” Singapura. Kalau saja ia bisa masuk, diijinkan, berlibur ke Singapura, apakah berbagai kecamannya pada Singapura akan ia suarakan? Akankah ia memuji Singapura?

Problem psikologis yang menimpa Somad mengingatkan kisah fabel karya Aesop, “The Fox and the Grapes”. Rubah, hewan penyuka anggur, suatu ketika melihat pohon anggur yang lebat berbuah, namun terlalu tinggi untuk dicapai. Si rubah terus meloncat berusaha menggapai anggur, namun selalu gagal. 

Pada akhirnya ia memutuskan berhenti mencoba, dan menganggap anggur yang ingin ia raih pasti asam dan busuk. Si Rubah perlu membuat dalih pembenaran atas kegagalannya mendapatkan anggur yang sangat ia dambakan. Dalih diperlukan untuk “menghibur diri” atas kegagalan mendapatkan. 

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB

Menanti Harga Minyak Goreng Turun

Senin, 23 Mei 2022 | 19:30 WIB

Kematian Shireen dan Kekecewaan Arab

Kamis, 19 Mei 2022 | 17:35 WIB

Takdir Miliaran Burung Migran

Sabtu, 14 Mei 2022 | 11:50 WIB

Halalbihalal dan Proses Kreatif Beragama

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:20 WIB

Permainan Status Vladimir Putin

Senin, 9 Mei 2022 | 12:15 WIB

Kongres Kehutanan Dunia

Sabtu, 7 Mei 2022 | 10:15 WIB

Indonesia Bersilaturahmi

Jumat, 6 Mei 2022 | 13:00 WIB
X