• Selasa, 5 Juli 2022

Menulis Memoar Untuk Bumi

- Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB
Muid/ Watyutink.com
Muid/ Watyutink.com

Amanda Katili Niode, Ph.D.
Direktur, Climate Reality Indonesia

Watyutink.com - The New Yorker menyatakan, bagi banyak orang medianya adalah majalah paling berpengaruh di dunia. Terkenal karena laporan yang mendalam, komentar politik dan budaya, fiksi, puisi, dan humornya. Afirmasi ini nampaknya diamini oleh berbagai pihak.

Dalam sebuah artikel, majalah mingguan itu bertanya pada pembacanya: bisakah kita menemukan cara baru untuk berkisah tentang perubahan iklim? Pertanyaan tersebut diikuti dengan ulasan sebuah buku karangan aktivis Daniel Sherrell, Warmth: Coming of Age at the End of Our World. Daniel mengungkapkan bagaimana rasanya membayangkan masa depan di tengah krisis iklim, yang dapat mengubah hubungan manusia  dengan waktu, dengan harapan, maupun antara satu sama lain.

The New Yorker mengategorikan Warmth sebagai climate memoir, sebuah genre baru dengan narasi yang tidak hanya akan meyakinkan pembaca tentang krisis iklim yang dihadapi, tetapi juga mendorong mereka untuk berbuat.

Memoar, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kenang-kenangan sejarah atau catatan peristiwa masa lampau menyerupai autobiografi yang ditulis dengan menekankan pendapat, kesan, dan tanggapan pencerita atas peristiwa yang dialami dan tentang tokoh yang berhubungan dengannya.

Berbeda dengan autobiografi yang juga ditulis diri sendiri namun berisi keseluruhan hidup seseorang, memoar merupakan penggalan kisah hidup.

Climate memoir merupakan bentuk komunikasi dari sisi yang berbeda. Biasanya krisis iklim, yang merupakan masalah lingkungan global, dikomunikasikan dengan menerangkan dasar ilmunya, dampaknya, dan bagaimana menanganinya. Climate memoir mewujudkan komunikasi dari hati penulis, sebuah refleksi yang dapat menyentuh hati pembacanya.

Komunikasi tentang sains seperti perubahan iklim bukanlah hal yang mudah. Organisasi sekaliber Intergovernmental Panel on Climate Change – Panel Antarpemerintah Untuk Perubahan Iklim, bahkan meminta organisasi Climate Outreach, spesialis komunikasi perubahan iklim yang menjembatani kesenjangan antara penelitian dan praktik, untuk menyusun sebuah pedoman komunikasi. 

Ada enam prinsip yang dipaparkan pedoman tersebut, yaitu: jadilah komunikator yang percaya diri, bicara tentang dunia nyata dan bukan ide abstrak, hubungkan dengan apa yang penting bagi audiens, ceritakan kisah tentang manusia, fokus dengan apa diketahui, serta gunakan komunikasi visual yang paling efektif.

Kembali kepada penulisan memoar, peminatnya di antara masyarakat umum cukup banyak. Mereka pun bergabung dalam berbagai wadah. Di Amerika Serikat ada National Association of Memoir Writers, di Australia ada Life Stories Australia Association.

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB

Menanti Harga Minyak Goreng Turun

Senin, 23 Mei 2022 | 19:30 WIB

Kematian Shireen dan Kekecewaan Arab

Kamis, 19 Mei 2022 | 17:35 WIB

Takdir Miliaran Burung Migran

Sabtu, 14 Mei 2022 | 11:50 WIB

Halalbihalal dan Proses Kreatif Beragama

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:20 WIB

Permainan Status Vladimir Putin

Senin, 9 Mei 2022 | 12:15 WIB

Kongres Kehutanan Dunia

Sabtu, 7 Mei 2022 | 10:15 WIB

Indonesia Bersilaturahmi

Jumat, 6 Mei 2022 | 13:00 WIB
X