• Jumat, 1 Juli 2022

Buah Simalakama, Ekonomi 2022/2023 Siap Tergelincir

- Jumat, 3 Juni 2022 | 15:00 WIB
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com)

Anthony Budiawan
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)

Watyutink.com - Indonesia mendapat berkah dari kenaikan harga komoditas. Sri Mulyani menyebutnya ‘durian runtuh’. Artinya, ketiban rezeki. Masuk akal. Karena, kalau harga komoditas tidak naik, ekonomi dan keuangan negara mungkin sudah tergelincir.

Kenaikan harga komoditas membuat penerimaan negara naik tajam, naik 46 persen selama Januari - April 2022, dibandingkan periode sama tahun lalu. Neraca perdagangan mencatat rekor surplus, defisit neraca transaksi berjalan menyusut tajam.

Di lain sisi, kenaikan harga komoditas membuat harga pangan dan bahan bakar juga melonjak tajam. Inflasi global meningkat. Masyarakat Indonesia kelompok menengah bawah tertekan, daya beli tergerus. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah seyogyanya membantu meringankan beban hidup masyarakat dengan memberi subsidi. 

Tapi faktanya, mayoritas kenaikan harga dibebankan kepada masyarakat. Harga pangan naik tajam. Harga minyak goreng juga meroket, padahal Indonesia produsen sawit terbesar dunia. Bagaimana dengan tarif listrik, atau harga pertalite, apakah akan naik juga?

Inflasi menjadi momok ekonomi dunia, tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Menekan daya beli dan pertumbuhan ekonomi. Untuk mengatasi itu, bank sentral negara maju menaikkan suku bunga. The Fed, bank sentral AS, sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 persen pada Maret lalu dan 0,5 persen pada bulan lalu. The Fed masih akan menaikkan suku bunga sekitar 5 kali lagi dalam tahun ini.

Bagaimana hasil koreksi kebijakan moneter ini, dan dampaknya terhadap Indonesia? Ada dua kemungkinan, sebagai berikut. 

Pertama, kalau koreksi kebijakan moneter tersebut tidak berhasil seperti yang diharapkan, artinya suku bunga naik tapi inflasi tidak turun, kemungkinan kondisi stagflasi bisa terjadi lagi, yaitu ekonomi akan stagnasi atau bahkan resesi dengan tingkat inflasi tinggi. Hal ini sangat mungkin terjadi apabila the Fed terlambat, dan terlalu rendah, menaikkan suku bunga acuannya. Kondisi saat ini sepertinya memang terlambat dan terlalu rendah. Maka itu, inflasi belum terlihat  turun.

Dampaknya terhadap Indonesia sangat mengkhawatirkan. Daya beli masyarakat terus melemah. Kalau berlangsung cukup lama, dan pemerintah tidak kasih subsidi, maka kondisi ini bisa memicu protes dan demo, bisa memicu keresahan sosial.

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB

Somad dan Disonansi Kognisi

Jumat, 27 Mei 2022 | 16:10 WIB

Menanti Harga Minyak Goreng Turun

Senin, 23 Mei 2022 | 19:30 WIB

Kematian Shireen dan Kekecewaan Arab

Kamis, 19 Mei 2022 | 17:35 WIB

Takdir Miliaran Burung Migran

Sabtu, 14 Mei 2022 | 11:50 WIB

Halalbihalal dan Proses Kreatif Beragama

Jumat, 13 Mei 2022 | 11:20 WIB

Permainan Status Vladimir Putin

Senin, 9 Mei 2022 | 12:15 WIB

Kongres Kehutanan Dunia

Sabtu, 7 Mei 2022 | 10:15 WIB

Indonesia Bersilaturahmi

Jumat, 6 Mei 2022 | 13:00 WIB

Musik Jazz untuk Bumi

Sabtu, 30 April 2022 | 10:00 WIB

Utak-atik Kebijakan Demi Minyak Goreng

Rabu, 27 April 2022 | 17:20 WIB

Memaknai Ekofeminisme  

Sabtu, 23 April 2022 | 09:00 WIB

Demokrasi dan Media Sosial

Jumat, 22 April 2022 | 15:30 WIB
X