• Sabtu, 20 Agustus 2022

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

- Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB
Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi (Watyutink.com/Muid)
Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi (Watyutink.com/Muid)

Watyutink.com – Penjual nasi uduk yang biasa mangkal di samping masjid dekat rumah sudah beberapa hari tidak dagang. Begitu juga penjual nasi kuning dan aneka gorengan kompak tidak dagang. Pasalnya, harga bahan baku yang dibutuhkan mereka untuk berjualan seperti terigu, bawang merah, kol, tomat, cabai dkk melonjak naik.

Modal untuk berjualan jadi membengkak. Dari mana mereka bisa mendapatkan tambahan modal. Dengan modal yang tersisa, sangat sedikit bahan baku yang bisa dibeli.  Jualannya menciut. Pertaruhannya menjadi semakin besar untuk mendapatkan untung, karena barang yang didagangkan tidak bisa banyak, biaya pokok naik, harga jual tetap.

Nekat ingin tetap berjualan, risiko yang dihadapi tinggi. Jika mau menambah modal agar bisa membeli bahan baku sama banyaknya dengan sebelum kenaikan harga mereka harus berutang. Kalau dagangan laku, ada uang untuk membayar cicilan. Tapi kalau sepi pembeli, bayangan dikejar-kejar debt collector sudah di depan mata.

Dalam kondisi harga bahan baku naik, keuntungan sudah pasti terpangkas, ditambah ancaman kerugian yang semakin kuat. Pedagang biasanya menyiasati kenaikan harga bahan baku dengan memperkecil ukuran atau mengurangi takaran seperti pemberian sambal yang lebih sedikit, membuat pelanggan mencari alternatif lain.

Para pedagang kecil ini adalah korban inflasi. Mereka memilih tidak berdagang untuk menghindari kerugian lebih besar karena kenaikan biaya pokok produksi belum tentu dibarengi dengan peningkatan penjualan.

Jika kenaikan harga bahan kebutuhan pokok dibiarkan naik secara liar, korbannya akan lebih banyak lagi. Akan banyak pedagang kecil gulung tikar, karena sulit untuk mendapatkan keuntungan yang bisa dijadikan modal untuk berjualan lagi. Mereka bekerja sukarela menyediakan makanan tanpa memperoleh imbalan yang layak berupa laba.

Kenaikan harga bahan kebutuhan pokok membuat pilihan bagi rakyat bawah semakin sedikit. Bahkan ada anak balita yang nyaris tiap hari dicekoki mi gelas sebagai pilihan yang paling terjangkau untuk mengisi perutnya. Asupan seperti ini jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi, padahal ia berada di periode emas dalam pembentukan otak.

Parahnya lagi, inflasi kemungkinan masih akan naik lagi. Saat ini, lonjakan inflasi terjadi hampir di seluruh negara maju dan berimbas ke negara-negara berkembang yang banyak tergantung pada pasokan bahan baku dari negara maju. Inflasi di Tanah Air saja sudah menyentuh 4,35 persen per Juni 2022, tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Ditambah lagi, nyaris semua negara tengah mengalami krisis pangan dan energi. Tidak terkecuali negara-negara miskin dan berkembang di Asean seperti Myanmar, Laos dan Indonesia. Harga bahan pangan dan bahan bakar meningkat tajam, sehingga ancaman inflasi semakin besar.

Pada saat bersamaan kurs rupiah cenderung melemah karena kebijakan The Fed AS menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi di negaranya yang sudah bertengger di atas delapan persen. Depresiasi rupiah menjadikan barang modal, bahan baku, bahan setengah jadi yang dibutuhkan dalam proses produksi di Tanah Air menjadi mahal.

Halaman:

Editor: Sarwani

Tags

Terkini

Luis Milla Latih Persib Gantikan Robert Rene Albert

Jumat, 19 Agustus 2022 | 19:40 WIB

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB
X