• Senin, 15 Agustus 2022

Sustainability Mindset

- Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D.
Direktur, Climate Reality Indonesia

Watyutink.com - Sustainability, atau keberlanjutan, adalah sebuah kata yang terus- menerus menjadi bahasan hampir semua pemangku kepentingan terhadap nasib Bumi yang kini kian kritis.
 
Sustainability dalam arti luas, mengacu pada kemampuan untuk mempertahankan atau mendukung proses terus menerus dari waktu ke waktu. Sedangkan secara global, istilah ini mulai digaungkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa 35 tahun lalu, dengan definisi “memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.”
 
Jika di masa lalu berbagai masalah global menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mengatasinya, kini peranan pelaku di luar unsur pemerintah semakin krusial. Mereka, termasuk individu, komunitas, organisasi, dan korporasi, diperlukan untuk prakarsa kerja sama yang konkret, ambisius dan berkesinambungan.
 
Dengan semakin banyaknya masalah yang mengancam kesejahteraan dan kehidupan umat manusia, maka para pemimpin dunia di tahun 2015 menyepakati sebuah agenda global guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. Sustainable Development Goals (SDGs) berisi 17 Tujuan dan 169 Target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030.

Ditinjau dari sisi pemangku kepentingan selain pemerintah, sustainability dalam konteks dunia usaha mencakup semua upaya perusahaan untuk mengurangi dampak negatif bagi sekitarnya. Upaya tersebut biasanya berada di bawah payung ESG atau praktik lingkungan (environment), sosial (social), dan tata kelola (governance). Harvard Business school berpendapat, bisnis yang berkelanjutan mengacu pada melakukan bisnis tanpa berdampak negatif terhadap lingkungan, komunitas, atau masyarakat secara keseluruhan.
 
Sedangkan bagi individu, sustainability berarti memahami bagaimana pilihan gaya hidup memengaruhi dunia di sekitar kita dan menemukan cara bagi semua orang untuk hidup lebih baik. Contohnya adalah hemat energi, konsumsi pangan lokal, mengurangi limbah pangan, hemat air dan menghindari pemakaian kantong plastik sekali pakai.
 
Berbagai upaya keberlanjutan yang dilakukan oleh individu, korporasi, maupun pemerintah, akan memperoleh hasil maksimal jika pelakunya memiliki sustainability mindset, atau pola pikir keberlanjutan.

Pola pikir memiliki beragam definisi. Psikolog Carol Dweck dari Universitas Stanford dengan bukunya yang sangat popular “Mindset: The New Psychology of Success,” mendefinisikan pola pikir sebagai persepsi diri atau teori-diri yang dipegang orang-orang tentang diri mereka sendiri.
 
Dr. Isabel Rimanoczy, seorang pendidik, mempertanyakan: “Apa yang memotivasi beberapa individu untuk menjadi pionir keberlanjutan? Bagaimana jika kita dapat dengan sengaja mengembangkannya sehingga dapat memengaruhi pembentukan generasi pemimpin baru?”
 
Melalui penelitian bersama rekan-rekannya, Isabel mengembangkan prinsip-prinsip Sustainability Mindset yaitu cara berpikir (thinking) dan keberadaan (being) yang dihasilkan dari pemahaman yang luas tentang ekosistem dan fokus introspeksi pada keberadaan kita. Melalui pemahaman ini manusia akan bertindak (doing)untuk kebaikan yang hakiki.
 
Dengan sustainability mindset, manusia akan melihat dunia dengan cara yang berbeda, serta membuat keputusan yang bermakna. Mereka akan bertanya, mengapa kita melakukan hal tertentu, serta perbedaan apa yang dapat kita buat dalam hidup ini?

Ada empat area besar yang mencakup prinsip-prinsip sustainability mindset seperti ditulis Isabel Rimanoczy dalam bukunya “The Sustainability Mindset Principles. A Guide to Developing a Mindset for a Better World.” Keempat area itu adalah pandangan ekologi, perspektif sistem, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.
 
Pandangan ekologi meliputi pemahaman tentang lingkungan hidup dan bagaimana peran diri dalam masalah yang ada. Perspektif sistem mengetahui tentang pendekatan jangka panjang, dan bahwa segala sesuatu saling terkait. Kecerdasan emosional meliputi inovasi, refleksi dan kesadaran diri. Sedangkan kecerdasan spiritual mencakup tujuan hidup, berkesadaran dan kesatuan dengan alam.
 
Buku itu menekankan meskipun ketika masyarakat berbicara tentang keberlanjutan, biasanya hanya fokus pada aspek yang terlihat seperti data atau kebijakan. Ada hal penting lainnya, yaitu pola pikir individu dan kolektif.

Sustainability mindset merupakan cara berpikir dan keberadaan tertentu, di mana seseorang atau kelompok secara sadar merefleksikan nilai-nilai pribadi mereka, dengan maksud untuk merespons melalui cara terbaik dan terhubung dengan kompleksitas sosial dan lingkungan.

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB

Menulis Memoar Untuk Bumi

Sabtu, 28 Mei 2022 | 11:50 WIB
X