• Sabtu, 20 Agustus 2022

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

- Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com
Ilustrasi: Muid/ Watyutink.com

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D.
Direktur, Climate Reality Indonesia

Watyutink.com - Hutan mangrove sebagai ekosistem, sangat spektakuler, karena menunjang kehidupan makhluk lainnya. Ekosistem ini terletak di antarmuka daratan dan lautan, tepatnya daerah pantai dan sekitar muara sungai daerah tropis.
 
Jasa mangrove bagi kesejahteraan, ketahanan pangan, dan perlindungan masyarakat pesisir di seluruh dunia sangatlah besar. Ini karena hutan mangrove mendukung keanekaragaman hayati yang kaya dan menyediakan habitat pembibitan bagi ikan dan krustasea. Mangrove juga bertindak sebagai bentuk alami pertahanan pantai terhadap gelombang badai, tsunami, naiknya permukaan laut dan erosi. Tanahnya merupakan penyerap karbon dalam jumlah besar yang sangat efektif, sehingga merupakan salah satu solusi perubahan iklim.
 
Hutan mangrove, sebagai kumpulan beberapa spesies pohon atau semak-semak yang tumbuh di sekitar garis pantai dan lingkungan bersalinitas tinggi, merupakan ekosistem yang sangat langka di dunia. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB menyatakan lebih dari 40 persen luas mangrove dunia berada di empat Negara, yaitu Indonesia yang dikaruniai 19 persen dari total mangrove global, Brasil (9 persen), Nigeria (7 persen) dan Meksiko (6 persen).

Sayangnya, hutan mangrove menyusut tiga sampai lima kali lebih cepat dibandingkan dengan berkurangnya hutan global secara keseluruhan, sehingga menyebabkan dampak sosial-ekonomi-lingkungan yang serius. Ancaman terhadap mangrove datang dari alam, seperti tsunami, abrasi dan intrusi; serta dari manusia berupa eksploitasi kayu, perubahan tata guna lahan menjadi tambak atau pemukiman, dan juga pecemaran lingkungan.
 
Karenanya, “Hari Internasional untuk Konservasi Ekosistem Mangrove” dirayakan setiap tahun pada 26 Juli, untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya ekosistem mangrove sebagai “ekosistem yang unik, khusus dan rentan” dan untuk mempromosikan solusi bagi pengelolaan, konservasi dan penggunaannya.
 
Dalam rangka hari peringatan tersebut, Climate Reality Indonesia mengadakan diskusi mengenai kondisi mangrove di Indonesia, dipandu oleh Aditia Wardana, dengan nara sumber Dr. Meilinda Suriani Harefa sebagai direktur program Yagasu dan climate reality leader. Nara sumber lainnya, mewakili generasi muda, adalah Deska Yunita dari Greenwave NGO yang juga climate reality leader.

Dari Peta Mangrove Nasional 2021 dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai walidata, diketahui bahwa Kepulauan Nusantara memiliki mangrove seluas 3.36 juta Ha, yang terdiri dari mangrove lebat 93%, mangrove sedang 5%, dan mangrove jarang 2%.
 
Yagasu,  LSM yang fokus pada pelestarian dan reboisasi mangrove,  mendorong pengembangan kegiatan yang memberi penghasilan bagi masyarakat. Beberapa produk yang diidentifikasi dari ekosistem mangrove termasuk kayu bakar, arang, tiang bangunan, tannin, makanan, madu, obat, dan kosmetik.
 
Kegiatan Yagasu meliputi pembibitan; penanaman; patroli mangrove; program pendidikan, penelitian dan kepedulian masyarakat; pengembangan produk makanan mangrove seperti kue, sirup, dodol dan penganan lainnya. Juga ada pengembangan batik berkualitas internasional dengan pewarna mangrove; pengelolaan tambak silvofishery, yaitu pelestarian hutan bakau yang dikombinasikan dengan perikanan di tempat yang sama ; serta pengembangan ekowisata mangrove.

Sedangkan kegiatan Greenwave NGO terkait mangrove adalah pengelolaan sampah di Mangrove Center Balikpapan seluas 150 Ha. Daerah ini merupakan habitat sekitar 300 bekantan sebagai hewan endemik, mencakup bagian utara Teluk Balikpapan yang memanjang dari barat ke timur di Sungai Somber.
 
Pengelolaan sampah melalui pembersihan oleh relawan sangat penting karena sampah plastik, terutama, sangat menganggu respirasi akar mangrove dan menghambat pertumbuhan bibit. Akibatnya mangrove tidak dapat bertahan hidup. Selain itu sampah juga menganggu keindahan kawasan wisata ini.
 
Hanna Astaranti, communication & engagement specialist di Climate Reality Indonesia menekankan: "Sama halnya dengan pohon di darat, mangrove memiliki peran penting untuk menjaga ekosistem. Salah satu fungsinya adalah untuk menyerap karbon penyebab perubahan iklim. Melalui webinar yang telah dilaksanakan di atas, para pegiat dan pemerhati lingkungan bisa mempelajari bahwa misi tanpa aksi itu ilusi, dan aksi tanpa misi itu sensasi.”

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

Luis Milla Latih Persib Gantikan Robert Rene Albert

Jumat, 19 Agustus 2022 | 19:40 WIB

Fakta dan Fiksi Aksi Ferdy

Kamis, 11 Agustus 2022 | 12:05 WIB

Sagu Penangkal Krisis Pangan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 14:30 WIB

Revolusi Budaya Seorang Habib

Kamis, 4 Agustus 2022 | 19:35 WIB

Merawat Karunia Mangrove Nusantara

Sabtu, 30 Juli 2022 | 10:00 WIB

Semiotika Islamophobia

Selasa, 26 Juli 2022 | 15:00 WIB

Sustainability Mindset

Sabtu, 23 Juli 2022 | 10:00 WIB

Selamatkan Rakyat dari Inflasi Tinggi

Rabu, 13 Juli 2022 | 15:29 WIB

Mengendalikan Eco-Anxiety

Sabtu, 2 Juli 2022 | 10:01 WIB

Stockholm +50

Sabtu, 4 Juni 2022 | 13:30 WIB

Harapan Rakyat Kepada Megawati dan Prabowo

Kamis, 2 Juni 2022 | 18:30 WIB
X